← Beranda

Nasib Nahas Pekerja Migran Indonesia di Kamboja, Pergi Utuh, Pulang Tinggal Nama

Tazkia Royyan HikmatiarSenin, 15 September 2025 | 19.30 WIB
Ilustrasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) tiba di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Harapan hidup sejahtera di negeri orang berakhir tragis bagi banyak pekerja migran asal Indonesia di Kamboja.

Tak sedikit dari mereka yang berangkat ke Kamboja dengan tubuh sehat dan semangat mencari penghidupan, justru pulang tinggal nama.

Ada yang dipulangkan dalam peti mati, ada pula yang kembali dengan kondisi cacat setelah mengalami penyiksaan.

Kisah pilu ini diungkapkan oleh Miss Yuni dalam sebuah podcast bersama Arie Untung. Ia menuturkan, fenomena “demam Kamboja” di kalangan anak muda kini semakin marak karena media sosial. 

Tawaran pekerjaan di negara itu begitu menggiurkan karena diceritakan orang tanpa konteks yang penuh. Mulai dari gaji dalam bentuk USD, fasilitas AC, uang makan, uang lembur, hingga tempat tinggal yang disebut-sebut nyaman.

“Dalam pikiran anak muda, semua itu terlihat keren dan cepat membuat mereka bisa flexing,” ungkapnya.

Menurut Yuni, memang banyak pekerja yang saat berangkat sempat merasakan fasilitas mewah, seperti menginap di hotel dan dijemput mobil mewah. Namun, hanya berselang beberapa minggu, kabar dari mereka menghilang.

“Tiba-tiba keluarga mereka mendapat telepon untuk menebus anak-anaknya. Ada yang dipukul, disetrum, bahkan disiksa hingga meninggal dunia,” ujarnya.

Fakta di lapangan menunjukkan, perekrutan tenaga kerja ini kerap dilakukan dengan visa turis. Tidak ada MoU (nota kesepahaman) resmi antara Indonesia dan Kamboja terkait pekerja migran.

Konjen RI di Kamboja pun sudah berkali-kali mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap penipuan berkedok lowongan kerja di media sosial.

“Iklan-iklan yang viral di TikTok atau Facebook itu benar-benar menjerat anak-anak muda kita. Mereka terbuai janji manis, padahal pekerjaan yang dijanjikan tidak jelas,” kata Yuni.

Kondisi ini bukan cerita belaka. Yuni mengaku menyaksikan langsung proses pemulangan jenazah korban dari Kamboja ke Indonesia.

Bahkan, pada tahun 2022, ia menggunakan dana pribadi untuk memulangkan beberapa orang yang terjebak di negara tersebut.

“Saya merasa terpanggil. Meski mereka bukan keluarga saya, insting saya mengatakan seandainya itu saudara sendiri, tentu saya akan berbuat sesuatu. Janji saya pada diri sendiri, hasil YouTube saya akan saya gunakan membantu orang-orang yang membutuhkan,” tuturnya.

Namun, yang membuat miris, beberapa orang yang pernah diselamatkan justru kembali berangkat ke Kamboja.

Alasannya beragam, mulai dari konflik rumah tangga, sulitnya mencari pekerjaan di kampung halaman, hingga godaan gaya hidup bebas di negeri orang.

“Ada yang bilang, meskipun disiksa, di sana mereka bisa minum-minuman keras, ada hiburan, ada perempuan, dan kerjaan pasti ada. Jadi meskipun berisiko, tetap saja mereka kembali,” bebernya.

Dari kacamata hukum, sebagian besar kasus yang menimpa pekerja migran Indonesia di Kamboja sebenarnya masuk dalam kategori Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Namun, kenyataannya, tidak semua korban diakui sebagai korban TPPO.

“Ada yang dinyatakan korban, ada yang tidak. Padahal saya melihat sendiri mereka disiksa, bahkan ada yang pulang tanpa tangan, tanpa jari, atau sudah tidak bernyawa,” pungkas Yuni.

EDITOR: Bayu Putra