JawaPos.com – Memasuki Oktober, suhu panas masih merata terjadi di berbagai daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi akan terjadi perubahan kondisi siang panas berlanjut hujan lebat saat sore.
Situasi itu akan terjadi seminggu ke depan. Labilnya cuaca tersebut akibat memasuki peralihan musim. Berdasar data BMKG pada 7 Oktober, suhu udara di Jakarta berkisar 32 derajat Celsius hingga 36 derajat Celsius. Di Stasiun Meteorologi Tanjung Priok, suhu mencapai 36,8 derajat Celsius dan Stasiun Meteorologi Kemayoran mencapai 35,8 derajat Celsius.
Pada 9 Oktober, tercatat suhu udara tertinggi di Indonesia berada di Makassar dengan 37,4 derajat Celsius, diikuti Semarang dengan 26,6 derajat Celsius. Surabaya duduk di posisi keenam tertinggi dengan suhu udara 35,6 derajat Celsius (selengkapnya lihat grafis).
Kepala Pusat Meteorologi Publik Andri Ramdhani menuturkan bahwa belakangan ini Indonesia terasa terik atau panas, tapi diselingi hujan. Fenomena itu khas masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. ’’Biasanya panas sejak pagi sampai siang. Tapi, hujan pada sore atau malam hari,’’ terangnya.
Hujan tidak merata, tetapi memiliki intensitas sedang hingga lebat dalam waktu yang singkat. Yang perlu dipahami, kondisi atmosfer labil semacam itu meningkatkan potensi terbentuknya awan cumulonimbus (CB). ’’CB bisa memicu cuaca ekstrem dari hujan lebat berangin hingga hujan es dan bisa terjadi kapan saja,’’ paparnya.
Dia menuturkan bahwa aktivitas gelombang Rossby Equatorial diperkirakan aktif di Sumatera bagian utara hingga tengah pesisir Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua dalam sepekan ke depan. Untuk aktivitas gelombang Kelvin terpantau sebagian di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah dalam sepekan ke depan. ’’Kedua faktor itu mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut,’’ jelasnya.
Untuk labilitas lokal yang kuat atau cuaca panas terik berubah ke hujan terjadi di Jawa Timur, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jogjakarta, Jawa Tengah, Kaltim, hingga Papua.
’’Secara umum, kondisi cuaca itu diperkirakan menimbulkan potensi cuaca signifikan dari 8 Oktober hingga 14 Oktober,’’ paparnya.
Dia mengatakan, masyarakat tidak perlu panik menghadapi suhu panas yang tinggi. Gunakan tabir surya saat berada di luar ruangan. ’’Lebih sering minum untuk mencegah dehidrasi,’’ urainya.
Air Sungai Surut di Malang
Laporan Jawa Pos Radar Malang, kekeringan yang terjadi tahun ini lebih parah ketimbang tahun lalu. Sejumlah desa terdampak. Termasuk munculnya fenomena baru berupa surutnya air sungai.
Situasi itu terjadi di Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo. Fenomena tersebut tak pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga Oktober tahun ini, total ada 10 desa yang terdampak kekeringan. Yakni, Desa Sumberagung, Sitiarjo, Kedungbanteng, Ringinsari, Harjokuncaran, Sumberoto, Menteraman, Tulungrejo, Donomulyo, dan Putukrejo. Sementara pada 2023, hanya enam desa yang terdampak kekeringan.
Desa Tulungrejo yang kondisinya paling parah. Sebab, hanya tersisa aliran dari sumber Umbulan yang masih mengalir. Sumber itu terletak di dalam gua. Tepatnya di hulu sungai.
Air dari sumber itu kini menjadi andalan ratusan kepala keluarga (KK). Warga mengandalkan tandon dengan daya tampung sekitar seribu liter. Secara berkala, tandon tersebut diangkut dengan menggunakan pikap. ’’Kurang lebih ada sekitar 100 kubik (100 ribu liter) yang kami distribusikan ke masyarakat setiap hari,’’ ujar Kepala Desa Tulungrejo Nuryadi kemarin. Air tersebut didistribusikan kepada 857 KK.
Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Malang Ichwanul Muslimin mengakui bahwa surutnya sungai di Desa Tulungrejo baru terjadi pada 2024 ini. ’’Kami tetap upayakan pengadaan air bersih sebagai bantuan,’’ kata dia.
Plt Bupati Malang Didik Gatot Subroto menambahkan, pihaknya bakal melakukan kajian khusus terhadap fenomena itu. Dinas pekerjaan umum dan sumber daya air (DPUSDA) bakal bekerja sama dengan Kementerian PUPR dan Fakultas Teknik Pengairan Universitas Brawijaya untuk mencari penyebab surutnya sumber Umbulan.
Maros Kesulitan Air Bersih
Laporan Fajar, musim kemarau yang panjang membawa dampak di Maros. Ketersediaan air baku di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pattontongan dan Tanralili makin berkurang.
Akibatnya, distribusi air bersih kepada pelanggan mengalami gangguan. Terutama di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Mandai, Tanralili, dan sebagian Turikale.
PDAM Tirta Bantimurung Maros menyatakan, berkurangnya distribusi air bersih dari IPA Pattontongan dan Tanralili berdampak pada ribuan pelanggan di tiga kecamatan. ’’Ada sekitar 7.005 sambungan pelanggan yang terganggu distribusi airnya akibat musim kemarau,’’ jelas Abdul Rajab, Kabag Teknik PDAM Tirta Bantimurung Maros, kemarin. (idr/yun/by/rin/zuk/c6/bay)