JawaPos.com – Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri resmi membuka acara rapat kerja nasional (rakernas) V partai yang dipimpinnya di Beach City International Stadium Ancol, Jakarta, kemarin (24/5). Dalam pidatonya, Megawati menegaskan bahwa dirinya siap menjadi provokator demi terus menyuarakan kebenaran dan keadilan.
Megawati hadir dalam rakernas didampingi Ketua DPP PDIP Puan Maharani, mantan capres 2024 Ganjar Pranowo, dan Menseskab yang juga eks Sekjen PDIP Pramono Anung. Hadir pula mantan cawapres 2024 Mahfud MD, Wakil Presiden Ke-6 Try Sutrisno, Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo, dan Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang.
Sejumlah menteri dari PDIP juga hadir. Terlihat Menteri Sosial Tri Rismaharini, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri PAN-RB Abdullah Azwar Anas, Menteri PPPA Bintang Puspayoga, dan Menteri Koperasi Teten Masduki. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno juga tampak hadir.
Sebanyak 4.858 peserta yang terdiri atas fungsionaris DPP PDIP, ketua, sekretaris, bendahara DPD dan DPC, anggota DPR, anggota DPRD provinsi, kabupaten, kota, kepala dan wakil kepala daerah PDIP, serta calon anggota terpilih DPR Pemilu 2024 yang non-incumbent ikut meramaikan rakernas kali ini.
Dalam rakernas yang mengusung tema Satyam Eva Jayate: Kebenaran Pasti Menang dan subtema Kekuatan Persatuan Rakyat dalam Kebenaran itu, Megawati menyampaikan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang selalu mendukung PDIP hingga tetap berdiri tegak menjadi pemenang pemilu legislatif (pileg) tiga kali berturut-turut atau hat-trick.
Namun, seraya tak kuasa menahan tangis, dia menyebut kemenangan itu terjadi di tengah anomali dan kecurangan pemilu yang sangat masif. ”Selaku ketua umum partai dan atas nama PDI Perjuangan, kami mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang dengan penuh semangat dan kecintaannya selalu mendukung PDIP,” ucap Megawati.
Megawati melanjutkan, perjuangan untuk memenangi Pileg 2024 tidaklah mudah. Sebab, menurut dia, yang terjadi adalah badai anomali dengan diwarnai kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Atas dasar itu, Megawati menegaskan bahwa PDIP sebagai partai yang pernah melalui badai sejarah akan tetap berani melawan segala bentuk ketidakadilan.
”Kita tahan banting kok, berani apa tidak?” tanya Megawati kepada para peserta rakernas. ”Berani,” jawab serempak ribuan peserta rakernas. ”Takut apa tidak?” tanya Megawati lagi. ”Tidak,” kembali jawab tegas para peserta rakernas.
Sampai tiga kali Megawati menanyakan hal yang sama. Tiga kali juga dijawab peserta rakernas dengan tegas.
Kerap Ditanya Kenapa Sering Ngamuk
Megawati lanjut bercerita bahwa dirinya kerap ditanya oleh anak-anaknya karena belakangan ini dianggap sering ngamuk. Dia lantas menegaskan bahwa hal itu dilakukan bukan hanya demi bangsa dan negara, tetapi juga demi kejayaan partai. ”Sama anak-anak saya sendiri bilang, kok Ibu Ketum sekarang berubah ya, tukang ngamuk aja? Eh enak aja, kalau nggak diamukin, udah dipanahin mulu badannya banteng,” beber Megawati.
Megawati menyinggung anomali yang terjadi dalam pemilu. Menurut dia, anomali itu tidak bisa diprediksi dan terjadi begitu saja. Anomali itu terjadi karena kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Kecurangan pemilu telah menjadi sorotan banyak pihak.
Disuarakan pula oleh para akademisi, tokoh masyarakat sipil, guru besar, hingga seniman dan budayawan.
Kecurangan, lanjut Megawati, merupakan pengingkaran terhadap hak kedaulatan rakyat. Pengingkaran itu dibuktikan melalui praktik penyalahgunaan kekuasaan dengan menggunakan sumber daya negara demi kepentingan elektoral. Bahkan, intimidasi hukum terjadi atas nama kekuasaan.
Berbagai kerusakan demokrasi itulah yang pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait PHPU Pilpres 2024 disoroti oleh hakim MK Arief Hidayat, Saldi Isra, dan Enny Nurbaningsih melalui dissenting opinion mereka. ”Saya seneng banget masih ada yang berani menyampaikan dissenting opinion. Ini baru kali pertama terjadi dalam sejarah sengketa pilpres,” ujarnya.
Megawati pun mengajak para kadernya berani menyuarakan kebenaran karena kebenaran pasti akan menang. Kebenaran pasti menang merupakan falsafah yang menjadi pegangan dalam perjuangan menghadapi kezaliman. Termasuk harus berani menyampaikan kebenaran meski pahit.
Pesan politik kebenaran ini juga dapat diambil dari keteladanan Nabi Muhammad SAW. Kepada sahabat nabi yang hidup paling miskin namun sangat berbahagia, yakni Abu Dzar Al Ghifari, Rasulullah berpesan qulil haqqa walau kana murran, yang artinya sampaikan kebenaran meskipun itu pahit.
Megawati juga mengulas soal kata bijak dari Zenith bahwa apa pun kebohongan, kebenaran pasti akan mengejarnya dan kebenaran itu suci di atas segalanya. Hal yang sama disampaikan Siddhartha Gautama, kata Megawati, bahwa ada tiga hal yang tidak bisa disembunyikan, yakni matahari, bulan, dan kebenaran.
Menurut dia, partainya adalah banteng yang tahan banting. Di dalam dirinya bersemayam jiwa perjuangan dan harapan wong cilik yang tahan menderita karena percaya adanya ratu adil. Berkaitan dengan daya tahan wong cilik itu, Megawati pun mengutip cuplikan puisi dari sosok rohaniwan dan budayawan Sindhunata.
Megawati bahkan membacakan puisi itu sambil terisak dan suara bergetar. ”Ia hanya mau orang mengerti, harapannya adalah matahari, dan jagonya adalah penderitaannya sendiri. Ya percaya, ratu adilnya sendiri adalah manunggalnya penderitaan dan harapan, laksana manunggaling kawula gusti,” ucapnya.
Seusai berpidato, Megawati menerima obor Api Perjuangan nan Tak Kunjung Padam yang diambil dari api abadi di Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah. Penyerahan api obor itu sekaligus menandai resmi dibukanya Rakernas V PDIP.
Megawati, diapit oleh Puan dan Hasto, kemudian menerima dan memantik api untuk dinyalakan dalam arena rakernas PDIP.
”Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, ini adalah simbol bahwa semangat kita harus terus seperti api nan tak kunjung padam. Ini nanti tetap dinyalakan untuk ditaruh di sekolah partai,” kata Megawati sambil memantik api dengan obor. (lum/c19/ttg)