← Beranda

Hari Hepatitis Dunia 28 Juli: Mewujudkan Generasi Bebas Hepatitis

Dhimas GinanjarJumat, 29 Juli 2022 | 02.48 WIB
Photo
TANGGAL 28 Juli ditetapkan sebagai Hari Hepatitis Dunia. Hepatitis B adalah penyakit yang banyak ditemukan, disebabkan oleh virus hepatitis B. Virus tersebut dapat menyebabkan penyakit hepatitis akut maupun kronis yang membunuh sekitar 1,45 juta orang per tahun. Sebanyak 85 persen (%) kematian akibat virus hepatitis terjadi di Asia, Afrika Timur, Afrika Utara, dan Afrika Barat. Sedangkan 74% kematian global akibat kanker hati terjadi di Asia. Sekitar 90% kematian disebabkan komplikasi dari virus hepatitis B yang menyebabkan sirosis dan kanker hati.

Indonesia masuk pada kategori endemi hepatitis B sedang hingga tinggi. Angka infeksi hepatitis B di Indonesia yang diambil dari populasi umum mendapatkan hasil bahwa angka infeksi tertinggi adalah di Makassar (7,1%), diikuti Banjarmasin (4,6%), Jayapura (4,6%), dan Jakarta (4,0–5,8%).

Yang disayangkan, tingkat infeksi serupa didapatkan juga saat skrining hepatitis B pada ibu hamil (3–8%). Sebuah fenomena yang memprihatinkan karena menunjukkan potensi tinggi untuk terjadinya transmisi selama kehamilan dari ibu ke bayi. Angka infeksi ini didapatkan makin meningkat pada populasi berisiko tinggi seperti pasien hemodialisis (11,2%), male sex male (9,8%), dan pekerja kesehatan (8,8–13,3%).

Pentingnya Skrining Hepatitis B

Diperkirakan lebih dari 90% infeksi perinatal dapat dicegah jika ibu dengan HBsAg positif teridentifikasi. Hepatitis B surface antigen (HBsAg) merupakan satu dari penanda yang muncul dalam serum darah pasien selama infeksi dan dijadikan dasar untuk menetapkan diagnosis hepatitis B. Di negara-negara dengan angka infeksi yang tinggi, proporsi tertinggi kasus hepatitis B kronis terjadi akibat infeksi selama masa bayi atau anak usia dini (90%) di mana sekitar 25–50%-nya disebabkan oleh transmisi dari ibu ke bayi. Sedangkan jika infeksi terjadi pada saat dewasa, hanya sekitar 2–6% menjadi hepatitis B kronis.

Selain pada ibu hamil, skrining juga perlu dilakukan pada kelompok yang memiliki risiko tinggi terinfeksi hepatitis B, di antaranya: kelompok pekerja kesehatan, penderita dengan layanan hemodialisis, keluarga penderita hepatitis B, penderita penyakit seksual, penduduk yang tinggal di daerah endemis hepatitis, pengguna obat injeksi, serta anak yang lahir dengan ibu hepatitis kronis. Saat ini pasangan yang akan menikah diminta untuk melakukan cek kesehatan. Di antaranya adalah hepatitis B yang merupakan langkah penting untuk mengurangi proses penularan hepatitis B dalam keluarga.

Pemerintah juga mempunyai program tripel eliminasi untuk menanggulangi HIV, sifilis, dan hepatitis B pada ibu hamil kepada bayinya. Kebijakan itu diadopsi dari program WHO dengan cara melaksanakan tes saat periksa kehamilan. Kementerian Kesehatan mencanangkan target untuk mencapai angka zero pada 2030.

Kekuatan Vaksinasi

Walaupun dibayangi permasalahan geografis, pencegahan hepatitis B memperoleh hasil yang sangat signifikan dengan implementasi program vaksinasi hepatitis B pada bayi. Vaksin diberikan paling lambat 7 hari setelah kelahiran. Program yang dimulai 1997 itu bertujuan untuk mengintegrasikan vaksin hepatitis B ke dalam program imunisasi nasional. Pemberian tiga dosis vaksin dengan cakupan > 90% ini mampu menurunkan angka infeksi hepatitis B di Lombok dari 6,2% menjadi 3,0% untuk bayi yang menerima dosis pertama lebih lambat dari 7 hari setelah lahir. Dan menjadi 1,4% untuk bayi yang menerima dosis pertama dalam waktu 7 hari setelah lahir.

Penularan penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi hepatitis B. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan vertikal pada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, bahkan tanpa pemberian imunisasi pasif yang mahal. Sebuah studi di Jakarta melaporkan bahwa efektivitas imunisasi hepatitis B dalam mencegah penularan vertikal adalah sebesar 70–90%. Sebanyak 14 dari 15 bayi yang lahir dari ibu HBsAg positif tidak terinfeksi virus hepatitis B meskipun beberapa dari mereka menerima imunisasi pertama di usia lebih dari 24 jam.

Tetapi, walaupun begitu, penelitian lain menunjukkan bahwa pemberian imunisasi pasif (imunoglobulin hepatitis B) yang diberikan bersamaan dengan imunisasi hepatitis B mampu membuat bayi tidak rentan terhadap infeksi hepatitis B. Dan akan meningkatkan pencegahan sampai dengan 95%. Sayangnya, harga vaksinasi pasif yang tidak terjangkau bagi banyak orang membuat tidak semua bayi di Indonesia yang lahir dari perempuan dengan hepatitis B menerima vaksinasi pasif.

Peran Serta Seluruh Elemen Masyarakat

Tanpa peran serta masyarakat, pencapaian program menjadi tidak maksimal. Hal ini dapat dicapai dengan promosi kesehatan yang terstruktur. Sehingga diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku masyarakat, serta munculnya komitmen dalam penanggulangan hepatitis B melalui pemberdayaan masyarakat. Yang terpenting adalah kemauan untuk mengakses program imunisasi, pencegahan untuk dirinya dan orang lain, tidak melakukan stigma dan diskriminasi, serta menjalankan program pengobatan sesuai anjuran.

Program penanggulangan hepatitis B dapat dirasakan masyarakat jika seluruh elemen, termasuk petugas kesehatan, tokoh masyarakat, dan pengambil keputusan, memberikan dukungan dan advokasi. Penyetaraan layanan untuk hepatitis B yang berkeadilan adalah hal yang sangat penting dan harus disesuaikan dengan kebutuhan kelompok berisiko. Termasuk bagi pekerja kesehatan, pengguna narkoba suntik, hingga populasi masyarakat lain yang rentan.

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) seharusnya mampu mencegah gagalnya masyarakat untuk mengakses pelayanan hepatitis B terkait persoalan finansial. Sehingga, untuk mengeliminasi hepatitis B, Indonesia perlu mengalihkan sebagian fokusnya dari mekanisme asuransi kesehatan dan pendanaan layanan kuratif menjadi intervensi kesehatan masyarakat yang bersifat preventif. Seperti mekanisme untuk menutupi biaya tes diagnostik untuk populasi umum. Kehilangan fokus pada preventif akan menyebabkan tidak tercapainya generasi bebas hepatitis pada tahun 2030. (*)




*) MUHAMMAD MIFTAHUSSURU, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Universitas Airlangga
EDITOR: Dhimas Ginanjar