← Beranda

Meneladani Integritas Ir Sutami yang Lebih Kokoh dari Jembatan Semanggi

Agus Dwi PrasetyoKamis, 17 Agustus 2023 | 03.04 WIB
Sejumlah kendaraan melintasi jembatan simang susun semanggi di kawasan semanggi, Jakarta, Jumat (28/7/2017). Simpang susun semanggi dilakukan uji coba open traffic untuk kendaraan roda empat.

JawaPos.com - Ada peran penting Ir Sutami di balik megahnya gedung MPR/DPR dan Jembatan Semanggi yang menjadi ikon ibu kota. Tak seperti proyek-proyek gemilangnya, kehidupan pria kelahiran Surakarta itu jauh dari gelimang harta.

Saking sederhananya, julukan menteri termiskin pernah tersemat kepadanya.

Dalam wawancara dengan Antara beberapa waktu lalu, Dewi Susilowati mengisahkan kembali hari-hari sang ayah sebagai menteri. Ketika itu, Sutami menjabat Menko pekerjaan umum dan tenaga listrik dalam Kabinet Dwikora pada era Presiden Soekarno.

Jabatan yang dimandatkan pada Juni 1965 itu melekat sampai 1978, bahkan saat kepemimpinan sudah beralih ke tangan Presiden Soeharto.

”Saya ingat salah satu proyek jembatan, mungkin di daerah Cipularang. Waktu itu, saya dan bapak berencana menyusul keluarga ke Bandung. Lalu, bapak minta saya tunggu sebentar di mobil karena mau cek jembatannya dulu,” ungkap Dewi.

Dari dalam mobil, dia melihat aktivitas Sutami di lapangan. Mulai bercakap-cakap dengan para pekerja jembatan sampai memeriksa hingga ke kolong jembatan. Dewi mengatakan bahwa ayahnya itu tidak mudah percaya begitu saja pada laporan bawahan.

Maka, segala sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya harus dia pastikan sendiri kondisinya.

Suami Sri Haryati itu juga dikenal tegas mengawasi penyusunan dan penggunaan anggaran proyek. Berasal dari keluarga yang sederhana, bahkan tergolong miskin, Sutami terlatih membelanjakan uang secara efisien.

Namun, yang lebih penting adalah dia sadar betul besarnya tanggung jawab moral dalam membelanjakan uang negara.

”Sebisa mungkin bapak cari yang tidak hanya efisien pengerjaannya, namun juga cost-nya. Gak ada itu titip-titipan sama bapak,” imbuh Dewi. Sebaliknya, dia juga tidak pernah meminta upah atau komisi dari pemborong atau perusahaan yang mengerjakan proyeknya.

Jujur memang menjadi karakter menonjol Sutami. Ketika pensiun pada 1978, dia mengembalikan semua fasilitas negara. Selama menjadi menteri, dia dan keluarganya hidup sangat sederhana. Demikian juga rumah yang menjadi tempat tinggal mereka.

Selain itu, Sutami tidak pernah berpangku tangan. Saking uletnya, para kolega menjulukinya sebagai menteri yang tidak punya udel (pusar). Istilah yang digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut pekerja keras yang tidak mengenal lelah.

Jembatan Semanggi yang identik dengan namanya merupakan proyek prestisius Sutami. Ketika itu, dia memperkenalkan teknik konstruksi yang dikenal dengan istilah prestressed-concrete atau konstruksi beton pratekan.

Dia menemukan teknik konstruksi itu saat berusia 33 tahun. Jembatan Semanggi dibangun untuk mengantisipasi kemacetan lalu lintas saat berlangsungnya Asian Games 1962.

Selaras dengan integritasnya, Sutami mendorong penggunaan electronic data processing dalam hitung-hitungan proyek/teknik di Indonesia. Dia juga memelopori pengikutsertaan perguruan tinggi dalam memecahkan masalah teknik pada pembangunan prasarana.

”Pembangunan ini untuk kepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan sekelompok atau pribadi. Saya berharap di kemudian hari nanti ada sosok-sosok yang misinya benar-benar membangun untuk masyarakat luas dan jangka panjang,” harap Dewi.

Sementara itu, J.J. Rizal memandang Sutami sebagai menteri yang mampu mewujudkan spirit Soekarno tentang wajah ibu kota negara pasca kemerdekaan. Bagi Soekarno, itu menjadi faktor penting dalam pembangunan. Dan, Sutami mampu menghidupkannya.

”Spirit Soekarno adalah bahwa kita harus mempunyai kota yang mencerminkan wajah Indonesia,” kata sejarawan asal Jakarta tersebut saat berbincang dengan Jawa Pos pada Minggu (13/8).

Spirit itu, menurut Rizal, digelorakan Soekarno di tengah kondisi keuangan negara yang belum stabil. ”Waktu itu kita gak punya duit,” paparnya.

Dia mengatakan bahwa pembangunan ala Soekarno tidak sekadar bermodal semangat dan idealisme. Tapi juga kemampuan diplomasi sang proklamator. Dari kemampuan itu, hasil rampasan Jepang bisa digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur. ”Juga ada sumbangan yang dikaitkan dengan Perang Dingin,” imbuhnya.

Di titik tersebut, rakyat Indonesia bisa memahami bagaimana situasi negara pascamerdeka. Nah, untuk membantu menyukseskan pembangunan, para arsitek –termasuk Sutami– harus bisa melakukan yang terbaik. ”Karena tidak punya cukup uang, harus punya idealisme,” ungkapnya.

Cara berpikir itulah yang sekarang bisa dirasakan. Salah satunya dalam bentuk karya-karya monumental infrastruktur. Di antaranya, gedung MPR/DPR dan Jembatan Semanggi. Semuanya masih berdiri kokoh. ”Cara berpikir waktu itu adalah bukan berapa untungnya, tapi bagaimana yang benar,” ujarnya. 

EDITOR: Candra Kurnia Harinanto