← Beranda

Cegah Tragedi Syachrul Terulang, Penyelam Harus ikut Terapi Hiperbarik

Erna MartiyantiSenin, 5 November 2018 | 21.40 WIB
Para penyelam Lion Air perlu mengikuti oksigen hiperbarik.

JawaPos.com - Sepekan sudah pencarian dan evakuasi terhadap penumpang Lion Air JT-610 di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat. Puluhan penyelam pun dilibatkan.


Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan oleh para penyelam. Mereka diimbau untuk melakukan terapi oksigen hiperbarik guna mengantisipasi kejadian hal yang tidak diinginkan.


Misalnya seperti penyakit dekompresi yang merenggut nyawa Syahrul Anto. Dia merupakan anggota Komunitas Indonesia Diving Rescue Team (IDRT) yang turut membantu proses pencarian dan evakuasi penumpang pesawat nahas tersebut.


"Setelah kegiatan penyelaman, ini hari kedelapan diharapkan untuk mengantisipasi, upaya preventif, diharapkan terapi hiperbarik," ujar AKBP Karjana, dokter spesialis kejiwaan yang bertanggung jawab atas terapi hiperbalik di RS Polri, Jakarta, Senin (5/11).


Dia menjelaskan, terapi oksigen hiperbarik sangat mendukung kegiatan penyelaman khususnya di laut. Terapi oksigen hiperbalik biasanya dilakukan sebelum dan sesudah penyelaman.


Penyelam tidak boleh asal terjun ke laut terlebih pada kedalaman tertentu. Penyelaman sendiri harus dilakukan secara bertahap. Apabila penyelam tidak melakukannya secara bertahap atau dilanggar SOP itu, akan muncul penyakit dekompresi.


"Kalau terlalu cepat, jadi nitogren yang ada di dalam darah akan terbentuk gas, mengakibatkan penyumbatan pada pembuluh darah. Lebih fatal penyumbatan pada organ dalam, mengakibatkan mati mendadak," jelas Karjana.


Lantas bagaimana proses terapi oksigen hiperbarik? Dia menuturkan, tahapan terapi oksigen hiperbalik yang dilakukan di RS Polri dimulai dari pertanyaan meliputi identitas riwayat penyakit sebelumnya. Kemudian yang lebih penting riwayat penyelaman dan kapan terakhir kali menyelam.


Setalah itu dilanjutkan pemeriksaan medis secara umum seperti pemeriksaan organ vital, Labora sederhana diikuti dengan pemeriksaan penunjang. Namun lebih penting pemeriksaan THT dan radiologi seperti rongen dan photo torax.


"Kami analisis memenuhi syarat atau tidak. Misalnya kalau ada gangguan batuk pilek. Tunggu dua tiga hari baru bisa dilakukan hiperbarik," kata dia.


Lama terapi oksigen hiperbarik itu sekitar dua jam. Si penyelam atau pasien akan dimasukkan ke dalam ruang udara dengan tekanan tinggi. Setelah itu nanti oleh petugas ruangan akan diarahkan sesuai SOP.


Penyelam tersebut akan melakukan tahapan sebelum dibawa ke tekanan atmosfer tertentu. Mereka akan dibawa ke dalam tekanan di atas 1 atmosfer. "Kalau penyelaman lebih dalam, akan menyesuaikan. Kalau di Karawang 30-35 kedalaman, tekanan yang diberikan lebih dari 14 ATM (atmosfer), tergantung kebutuhannya," beber Karjana.


Sementara itu ia mengatakan bahwa pihaknya sudah memberi pelayanan terapi hiperbarik terhadap 19 penyelam dari unsur Polri. Ia berharap agar penyelam yang lain meskipun tidak termasuk anggota Polri juga melakukan terapi ini.


Terlebih, terapi tersebut gratis bagi penyelam yang melakukan evakuasi terhadap penumpang pesawat Lion Air JT-610. "Kami imbau, harapkan teman-teman terapi ini. Polri siap menerima," pungkas Karjana.

EDITOR: Erna Martiyanti