Tiap 10 November, Indonesia merayakan Hari Pahlawan. Untuk memperingatinya, ada banyak acara yang diadakan. Mulai malam renungan, ziarah ke makam pahlawan, upacara, hingga lomba-lomba. Ramai deh. Nah, kalian merayakan Hari Pahlawan Selasa lalu dengan cara apa?
Suasana kelas Ni Luh ramai sekali. Semua temannya menggunakan pakaian yang berbeda dari biasanya. Ada yang memakai seragam polisi, tentara, ada juga yang menggunakan jas dokter. Bu Murti, guru Ni Luh, berpakaian serbacokelat. Di kepala Bu Murti, ada topi kecil berhias bros bendera Merah Putih.
''Anak-anak, hari ini kita memperingati Hari Pahlawan. Ada yang tahu tidak, pahlawan itu apa?'' tanya Bu Murti. Semua anak berebut mengacungkan tangan.
''Pahlawan adalah orang yang ikut perang, Bu!'' teriak Mada.
''Pahlawan itu polisi dan tentara,'' kata Yani yang duduk di deret paling depan.
''Pahlawan itu orang yang melawan penjajah!'' ucap Frans. Beda-beda ya jawabannya. Kira-kira, siapa yang benar?
''Wah, kalian semangat sekali. Tapi, tahu tidak, semua orang bisa jadi pahlawan, lho,'' kata Bu Murti.
Ni Luh tidak percaya. Kalau tiap orang adalah pahlawan, berarti semua orang harus berperang dong? ''Tapi, kita kan nggak lagi perang, Bu. Kalau mau jadi pahlawan, gimana Bu?'' tanya Ni Luh.
''Iya Bu. Kalau mau jadi pahlawan, kan perang dulu. Dor! Dor! Dor!'' kata Ihsan.
''Eits, kata siapa harus berperang? Tanpa berperang, kita bisa kok jadi pahlawan!'' jelas Bu Murti.
Benar lho teman-teman, tiap orang bisa menjadi pahlawan. Baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, bisa kok. ''Tapi Bu, masak perempuan jadi pahlawan? Kan perempuan nggak sekuat laki-laki!'' ucap Ihsan.
Bu Murti hanya tersenyum. Ada-ada saja muridnya ini.
''Jangan salah, dari data Kementerian Sosial kita, ada sekitar 14 pahlawan nasional perempuan. Lagi pula, lihat sekarang. Banyak kan perempuan yang jadi menteri, ilmuwan, dan dokter. Mereka termasuk pahlawan, lho!'' papar Bu Murti.
''Oh ya, Bu. Jadi, pahlawan harus nunggu gede dulu, ya?'' tanya Mona. Hmmm, apa benar nih?
''Tentu tidak! Kalian bisa jadi pahlawan dengan belajar dan latihan yang rajin. Lihat deh, tim U-13 Indonesia kemarin memenangi kompetisi. Mereka masih anak-anak, lho. Terus, lihat deh pemenang Olimpiade internasional. Banyak yang masih sekolah kan?'' jawab Bu Murti.
Selain itu, tahukah kalian? Indonesia dulu memiliki Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Anggotanya masih muda-muda. Yakni, kakak-kakak berusia SMP hingga kuliahan. Pemberani sekali, ya.
Para murid Bu Murti pun mengangguk-angguk. Berarti, siapa saja bisa jadi pahlawan.
''Kaya miskin, tua muda, laki-laki maupun perempuan bisa kok jadi pahlawan. Caranya, lakukan yang terbaik dan jangan mudah menyerah,'' pesan Bu Murti.
Benar tuh teman-teman. Pahlawan kan orang-orang yang bermanfaat bagi negara dan sesamanya. Jadi, tidak perlu ikut-ikutan tawuran atau berkelahi deh agar dianggap pahlawan. (fam/c23/ayi)