← Beranda

Percepat Jembatan Udara di Papua

AdministratorKamis, 12 Oktober 2017 | 18.15 WIB
Grafis

JawaPos.com- Realisasi jembatan udara bakal dipercepat. Pada tahap awal, kebijakan untuk memangkas disparitas harga itu dilakukan di Papua. Ada tiga kota di Papua yang diplot untuk menjadi titik start jembatan udara. Yaitu, Timika, Dekai, dan Wamena.


Jembatan udara yang diinisiatori Kementerian Perhubungan nanti memberikan dua jenis pelayanan. Yaitu, angkutan udara perintis kargo dan subsidi angkutan udara kargo. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik (BKIP) Kemenhub Baitul Ikhwan menjelaskan, jembatan udara akan melayani angkutan udara perintis kargo yang menghubungkan bandara hub dengan bandara atau lapangan terbang di distrik atau wilayah terpencil.


’’Untuk ini, bisa menggunakan pesawat jenis Twin Otter dengan kapasitas maksimum 1,6 ton atau Grand Caravan kapasitas angkut 1,2 ton atau Pilatus kapasitas maksimum 800 kilogram,’’ tuturnya kepada Jawa Pos.


Jembatan udara, lanjut dia, juga akan memberikan subsidi angkutan udara kargo dengan menggunakan pesawat udara B737-300 dengan kapasitas angkut maksimum 15 ton. Untuk jenis barangnya, secara umum adalah barang pokok dan barang penting. Untuk detailnya, menteri perdaganganlah yang akan mengaturnya.


Ikhwan menyatakan, nanti hanya pesawat milik operator yang menang melalui tender yang beroperasi untuk jembatan udara. ’’Untuk saat ini lelang pelaksanaan angkutan udara perintis kargo di KPA/Bandara Timika, Wamena, dan Dekai serta subsidi angkutan udara kargo di KPA/Bandara Timika masih dalam proses,’’ terangnya.


Jembatan udara itu nanti terintegrasi dengan beberapa lokasi pelabuhan yang terkoneksi dengan program tol laut yang juga sedang dijalankan pemerintah. Dengan begitu, produktivitas angkutan balik dari Indonesia bagian timur ke Indonesia bagian barat menjadi lebih baik. Kesenjangan harga di Papua dengan kawasan Indonesia lainnya memang sangat tinggi. Terutama di kawasan pedalaman.


Harga mahal di kawasan pedalaman memang wajar. Sebab, menurut penduduk sekitar, seluruh kebutuhan harus diangkut dengan pesawat. Belum ada jalur darat yang menembus kawasan tersebut. Selain medan yang berbukit serta jalan yang sebagian besar tanah, wilayah sekitar masih rawan konflik.

EDITOR: Administrator