alexametrics

Selidiki Jatuhnya Lion Air JT 610, Boeing Terjunkan Tim Bantu KNKT

Mesin Jet Pernah Bermasalah
31 Oktober 2018, 10:40:10 WIB

JawaPos.com – Boeing menerjunkan sejumlah teknisi untuk membantu proses investigasi insiden jatuhnya Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jabar. Mereka akan bergabung dengan tim investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Mereka bakal mencari penyebab jatuhnya pesawat.

“Kami ikut berduka untuk keluarga yang ditinggal. Untuk pertanyaan, silakan tanya KNKT,” ujar juru bicara Boeing melalui keterangan resmi.

Menurut pakar aviasi Peter Goelz, kecelakaan tersebut sangat aneh. Sebab, dia tak mencium indikasi human error atau gangguan cuaca. Pilot dan kopilot Lion Air JT 610 punya lebih dari 5 ribu jam terbang. “Kalau saya, yang kali pertama diperiksa adalah faktor pesawat,” ujar mantan anggota komite keselamatan transportasi AS itu kepada CNN.

Infografis evakuasi pesawat Lion Air JT 610
Infografis evakuasi pesawat Lion Air JT 610 (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Kecurigaan tersebut punya dasar. Meski produk terbaru, Boeing 737 MAX pernah bermasalah tahun lalu. Perusahaan itu memundurkan pengiriman mesin jet LEAP-1B. Mesin yang disebut 12 persen lebih efisien itu dicurigai punya masalah.

“Ada anomali yang terjadi di mesin,” ujar Jubir CFM International Jamie Jewell tahun lalu. CFM adalah perusahaan gabungan General Electric dan Safran yang menggarap secara khusus mesin jet tersebut. Jewell juga menegaskan, masalah itu tidak muncul saat uji coba penerbangan selama 2 ribu jam. Problem baru tampak saat mesin jet hendak dikirim ke maskapai pemesan.

Belum banyak negara asing yang bereaksi atas kualitas keselamatan maskapai Lion Air. Komisi Penerbangan Eropa menyatakan belum mempertimbangkan pemberlakuan kembali larangan penerbangan bagi perusahaan milik Rusdi Kirana itu. Pada medio 2018 Lion Air baru saja dicabut dari daftar hitam benua tersebut.

Satu-satunya yang memberikan respons adalah pemerintah Australia. Mereka meminta pejabat dan pegawai tidak menggunakan Lion Air. “Keputusan ini akan kami evaluasi setelah hasil penyelidikan muncul,” bunyi pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri Australia.

Pada bagian lain, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono meminta berbagai pihak tidak berspekulasi tentang penyebab jatuhnya Lion Air JT 610. Dia mengimbau semua menunggu sampai kotak hitam (black box) yang berisi cockpit voice recorder (CVR) dan flight data recorder (FDR) ditemukan.

Di media sosial, beredar banyak sekali pertanyaan tentang kecepatan pesawat yang dianggap tidak normal. Yakni mencapai 300 knots sebelum mencapai ketinggian 10.000 kaki.

Pengamat penerbangan Alvin Lie ikut angkat bicara. Menurut dia, menganalisis bertambahnya kecepatan pesawat tidak bisa hanya dilihat dari satu aspek. “Perlu diketahui juga apakah pesawat menukik, mendongak, atau sedang belok,” terangnya.

Jika pesawat dalam kondisi menukik, wajar kecepatan bertambah. “Aspeknya banyak. Misalnya, pesawat sedang menghadap angin atau anginnya dari belakang itu juga harus dihitung,” jelasnya.

Di media sosial juga beredar logbook atau buku perawatan Lion Air Boeing 737 MAX 8. Alvin menjelaskan, buku perawatan tersebut wajib diisi pilot setelah terbang. Lalu diserahkan kepada flight engineer. Ketika ada kerusakan, wajib dilakukan perbaikan. “Selesai diperbaiki, harus diberikan ke supervisornya,” ucap Alvin. Setelah semua beres, supervisor akan merilis pesawat tersebut boleh terbang. “Pertanyaannya, apakah Lion Air sudah melakukan itu semua?” imbuh Alvin.

Melihat catatan sebelumnya, pilot yang menerbangkan PK-LQP mengisi logbook, terdapat ketidakakuratan indikator kecepatan (airspeed) dan menyatakannya unreliable. Namun, kata Alvin, hal itu tidak bisa digeneralisasi. “Kan belum tentu itu terjadi di penerbangan CGK-PGK. Bisa saja sudah diselesaikan teknisi,” katanya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (bil/lyn/tau/c11/c9/oni)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Selidiki Jatuhnya Lion Air JT 610, Boeing Terjunkan Tim Bantu KNKT