alexametrics

Dentuman, lalu Tsunami di Puncak Ijen

Aktivitas Vulkanik Semeru Juga Meningkat
31 Mei 2020, 12:07:55 WIB

JawaPos.com – Sesuatu yang tengkurap di tengah Danau Kawah Gunung Ijen itu menarik perhatian Arifin. Dengan segala risiko, dia pun berusaha mendekati.

Ternyata sesuatu tersebut seseorang: itu jenazah Andika alias Pak Andik, kawannya sesama penambang belerang yang telah dicari sejak sehari sebelumnya.

”Jenazah masih utuh, hanya memakai jaket dan sepatu yang melekat pada tubuh korban,” kata Arifin tentang kawannya yang berusia 61 tahun itu kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin (30/5).

Andika menjadi korban meninggal tsunami yang terjadi di puncak gunung yang terletak di Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur, itu pada Jumat siang lalu (29/5). Fenomena alam langka tersebut diawali gempa 8,6 menit serta kemunculan dentuman dan bualan yang mengakibatkan gelombang air kawah alias tsunami yang menurut sejumlah penambang setinggi sekitar 3 meter.

KORBAN MENINGGAL: Keluarga menangis saat jenazah Andik tiba di Kecamatan Licin, Banyuwangi, kemarin (30/5). (RAMADA KUSUMA/JAWA POS RADAR BANYUWANGI)

Menurut Arifin, dentuman sebenarnya sering terjadi di gunung setinggi 2.443 mdpl (meter di atas permukaan laut) tersebut. Hanya, tidak terjadi setiap tahun. ”Semua penambang sudah paham (soal dentuman itu, Red),” katanya.

Petugas Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Ijen, Suparjan, mengatakan bahwa dari aktivitas Gunung Api Ijen pada Jumat siang, secara visual gunung terlihat jelas hingga kabut 0-III. Asap kawah bertekanan lemah tampak berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50–100 meter di atas puncak kawah. Sempat terekam ada getaran di danau Kawah Ijen pada pukul 11.31. ”Terlihat ada bualan, lokasinya di pinggir sebelah selatan. Terpantau juga muncul gelombang di air kawah hingga mencapai ke area penambangan belerang,” ungkapnya.

Menurut Suparjan, sempat terekam getaran empat kali dan terjadi longsoran dengan amplitudo maksimum 8–46 mm berdurasi 19–286 detik.

Selain itu, terekam gempa vulkanik dangkal sembilan kali dengan amplitudo 3–18 mm dan durasi 8–19 detik. Juga, gempa vulkanik dalam tiga kali dengan amplitudo 12–44 mm dan durasi 8–33 detik. Selain itu, terjadi gempa tektonik lokal satu kali dengan amplitudo 5 mm, durasi 16 detik dan gempa tektonik jauh sebanyak dua kali, amplitudo 3–24 mm, durasi 81–94 detik.

Mengenai penyebab bualan, jelas Suparjan, sementara masih dianalisis. Namun, itu bisa jadi dipengaruhi faktor eksternal seperti intensitas hujan tinggi. ”Kalau mengenai tinggi gelombang tidak ada data, yang ada hanya informasi yang di lokasi,” jelasnya.

Untuk sampai saat ini, status Gunung Api Ijen masih aktif normal dan rekomendasi untuk masyarakat di sekitar gunung api Ijen dan pengunjung/wisatawan/penambang tidak diperbolehkan mendekati bibir kawah maupun turun dan mendekati dasar kawah Gunung Ijen. Pengunjung juga dilarang menginap dalam kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah.

Mengenai keberaniannya mengevakuasi Andika dengan cara berenang di tengah danau yang penuh asam sulfat, Arifin mengatakan, itu karena sudah tidak ada jalan lain.

”Teman-teman SAR bilang tunggu Pak, kita harus pakai perahu. Saya berpikir, maaf Pak, saya mampu. Akhirnya saya lepas baju semua tinggal celana dalam langsung saya njebur dan berenang,” ujar pria yang sudah 31 tahun menambang belerang itu.

PENUH RISIKO: Tim SAR mengangkat jenazah Andik di danau kawah Gunung Ijen, Banyuwangi, kemarin (30/5). (RAMADA KUSUMA/JAWA POS RADAR BANYUWANGI)

Sementara itu, aktivitas vulkanik gunung lain di Jawa Timur, Semeru, juga tiba-tiba meningkat kemarin. Gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa tersebut terus mengalami letusan secara intensif. Ditambah hujan yang memicu banjir lahar dingin di daerah hilir.

Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Logistik, BPBD Kabupaten Lumajang Wawan Hadi Siswo membenarkan adanya peningkatan vulkanik tersebut. ”Benar informasi letusan amplitudo terjadi sebanyak 19 kali dari jam 12.00 sampai jam 18.00,” ujarnya.

Meski mengalami peningkatan aktivitas vulkanik, Gunung Semeru tetap berstatus waspada level II. ”Guguran material dari letusan hanya awan panas disertai batu dan bukan lava pijar,” ujarnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : ddy/bay/raa/hdi/c10/ttg



Close Ads