alexametrics

Bakal jadi Ibu Kota, Penajam Paser Utara Endemis Malaria Tinggi

30 Agustus 2019, 15:13:45 WIB

JawaPos.com – Pemerintah punya banyak pekerjaan rumah yang harus dirampungkan sebelum resmi memindahkan ibu kota negara (IKN). Tidak hanya urusan desain dan perundang-undangan saja, tapi juga masalah kesehatan. Salah satunya, ancaman penyakit malaria di wilayah Kalimantan Timur.

Merujuk pada data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kalimantan Timur masuk dalam daerah endemis malaria, baik itu rendah, sedang, dan tinggi. Tingkatan tersebut dapat dilihat dari kejadian sakit seseorang di sana.

Dikatakan rendah ketika Annual Parasite Incidence (API) lebih rendah dari 1. Sementara endemis tinggi saat API di atas 5. Sebagai informasi, API dihitung dengan cara membagi jumlah penderita malaria dalam satu tahun dengan jumlah populasi dikali 1.000 persen.

Nah, dari seluruh wilayah tersebut, Penajam Paser Utara (PPU) ternyata masih masuk dalam daftar endemis tinggi malaria. Tahun lalu, angka kejadian sakit mencapai 1.125 orang dengan API 7,06.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan PPU masuk dalam katagori tersebut. Pertama, jumlah penduduk terbilang rendah, hanya 180 ribu orang.

Sehingga, ketika ada yang sakit dan dihitung secara matematik, membuat PPU masuk dalam kategori endemis tinggi. “Nanti saat saya datang dengan 1 juta orang, maka angka 7,06 tersebut akan turun sendirinya. Karena banyak yang sehat. Jumlah denominator banyak,” tuturnya ditemui di Jakarta, Kamis (29/8).

Kedua, tempat perindukan vektor masih tersedia di sana, seperti pantai, laguna, sampai ceruk-ceruk bekas tambang yang belum bisa dituntaskan dengan rekayasa lingkungan. Selain akses yang minim menuju tengah hutan, perlu kolaborasi solid dengan kementerian lembaga lainnya untuk melakukan rekayasa lingkungan tersebut.

Lalu, bagaimana dengan tingkat risiko tertular, mengingat nantinya PPU akan menjadi bagian dari IKN baru? Anung menegaskan, risiko tersebut akan tinggi jika migrasi dilakukan tanpa persiapan yang matang.

“Kalau tiba-tiba, hidup di tenda di laguna-laguna ya pasti nular. Wong, nggak ada apa-apanya,” tegasnya.

Beda halnya jika dilakukan dengan persiapan yang baik. Pembangunan infastruktur yang berwawasan kesehatan akan membuat perindukan vektor teratasi.

Adanya rekayasa lingkungan yang dapat meminimalisasi perindukan nyamuk. Seperti, cekungan bekas tambang yang diuruk dan dibangun gedung. Lalu, pembangunan sistem drainase yang baik, sehingga tak ada lagi genangan.

Hal itu kemudian didukung dengan pembangunan fasilitas kesehatan yang memadai. Anung optimistis masalah tersebut dapat teratasi.

“Dalam konteks malaria, Jakarta dulu endemis. Tapi, dengan pembangunan yang dilakukan, lalu rekayasa lingkungan dan malarianya hilang dengan sendirinya,” jelas Mantan Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes tersebut.

Anung mengatakan, sudah melakukan pemetaan terkait kondisi kesehatan di wilayah Kalimantan Timur. Sejauh ini, tak ada masalah serius, kecuali malaria tersebut.

Sebagai informasi, malaria ini sedikit mirip dengan demam berdarah. Cara penularannya melalui nyamuk. Malaria ditularkan oleh Anopheles yang membawa plasmodium, sementara DB oleh Aedes Aegypti yang membawa virus dengue.

Gejalanya pun mirip, demam tinggi. Hanya saja, malaria biasanya disertai rasa sakit di bagian limpa atau perut sebelah kiri. Ini terjadi lantaran plasmodium yang masuk menyerang sel darah merah. Sehingga membuatnya pecah dan limpa membesar.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Z. Hikmia

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads