alexametrics

Ubah Seragam, Pemerintah Akomodasi Anggota Paskibraka Berhijab

30 Juli 2019, 10:28:46 WIB

JawaPos.com – Pemandangan baru akan tersaji pada upacara peringatan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus mendatang. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) membuat perubahan aturan tentang seragam yang harus dikenakan oleh anggota putri Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Aturan itu berlaku khususnya bagi yang berhijab.

Pada seragam sebelumnya, pasukan putri yang berhijab mengenakan rok pendek yang dipadukan dengan kaus kaki panjang untuk menutup aurat bawah mereka. Mulai tahun ini rok itu diganti dengan celana panjang. Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Asrorun Ni’am mengatakan, keputusan tersebut diambil berdasar rapat koordinasi pelaksanaan diklat Paskibraka 12 Juli lalu.

Dalam rapat itu, hadir panitia, pembina, pelatih dari Garnisun, hingga pihak Setpres serta Kementerian Komunikasi dan Informatika. Salah satu yang dibahas adalah seragam anggota Paskibraka putri. “Dulu pernah ada rok yang kebesaran dan ada yang ngepres. Makanya, perlu diperhatikan secara serius. Mulai aspek persiapan baris-berbaris sampai uniform harus sempurna,” tegas Ni’am dalam keterangan yang diterima Jawa Pos kemarin (29/7).

Penggunaan celana panjang tersebut tidak menyalahi aturan. Hal itu disebutkan dalam Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2018 tentang Tata Pakaian pada Upacara Kenegaraan dan Acara Resmi. Pasal 4 perpres itu menyebutkan penggunaan rok atau celana panjang bagi perempuan. Selain itu, Peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2018 tentang Pakaian Dinas mengizinkan pemakaian celana panjang. Klausul serupa tertuang dalam Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 9 Tahun 2017 tentang Pakaian Seragam.

Paskibraka sedang mencium bendera Merah Putih. (BIro Pers Setneg)

Berkaca dari aturan pakaian seragam yang ada di TNI dan Polri, pemakaian celana panjang akan diberlakukan. Kebijakan itu sekaligus menepis sentimen dari kelompok tertentu soal aurat. “Kebijakan itu semata untuk tertib pelaksanaan dan penyesuaian terhadap aturan yang didahului oleh kajian dan serap aspirasi. Jadi, tidak ujug-ujug,” terang Ni’am.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menegaskan, kebijakan anyar itu diterapkan untuk pasukan putri yang mengenakan jilbab. Penjelasan tersebut disampaikan oleh Nahrawi selepas mengantar ibu mertuanya berangkat haji di Pendapa Delta Wibawa, Sidoarjo, kemarin.

Nahrawi menuturkan, untuk setiap acara kenegaraan, ada ketentuan yang mengatur pakaian. Regulasi itu harus dipatuhi. Namun, ada hak warga yang harus ditampung. “Sehingga harus ada kesesuaian,” jelasnya. Salah satunya, penggantian seragam Paskibraka.

Selama ini perempuan yang bertugas sebagai pengibar bendera harus mengenakan rok. Nah, tahun ini Kemenpora mengubah aturan tersebut. Anggota Paskibraka yang mengenakan jilbab tidak lagi diharuskan memakai rok. Namun diganti dengan celana panjang. Tujuannya, melindungi hak-hak warga.

Nahrawi menjelaskan, selama ini anggota Paskibraka yang berjilbab harus menyesuaikan diri dengan aturan. Ketika bertugas, anggota itu diminta untuk mengenakan rok. Untuk menutupi bagian kaki, anggota yang berjilbab terpaksa mengenakan kaus kaki panjang. “Ketika latihan pun, mereka memakai kaus kaki panjang,” jelasnya.

Aturan itu jelas tidak mengakomodasi hak pemakai jilbab. Karena itu, Kemenpora membuat kebijakan. Pakaian harus sesuai dengan aturan, tapi tidak menghilangkan hak pemakai jilbab.

Lantas, bagaimana anggota Paskibraka yang tidak mengenakan jilbab? Nahrawi memastikan bahwa aturan yang digunakan tetap. Anggota Paskibraka putri yang tidak memakai jilbab tetap mengenakan rok. “Jadi, masyarakat jangan salah persepsi,” ucapnya.

Tahun ini ada 68 anggota Paskibraka yang akan terlibat dalam upacara pengibaran dan penurunan Sang Saka Merah Putih. Mereka kini menjalani pendidikan dan pelatihan di Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPPON) Cibubur.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (feb/aph/c11/ayi)



Close Ads