alexametrics
Arus Mudik 2019

Surabaya hingga Ngawi Paling Rawan Macet

Tol Trans-Jawa Lancar, Hanya Tersendat di Gat
30 Mei 2019, 10:21:55 WIB

JawaPos.com – Arus mudik Lebaran mulai berjalan. Polda Jatim telah memetakan titik-titik rawan kecelakaan lalu lintas (laka lantas) dan kemacetan. Ada lima jalur arteri yang mendapat atensi lebih.

Lima jalur arteri itu adalah jalur lintas selatan, jalur lintas tengah, jalur lintas utara, jalur lintas tapal kuda, dan jalur lintas Madura. “Masing-masing jalur arteri punya titik rawan laka lantas dan kemacetan masing-masing,” ujar Wadirlantas Polda Jatim AKBP Muhammad Aldian kemarin (29/5).

Dari lima kawasan tersebut, jalur lintas tengah menjadi jalur yang memiliki paling banyak titik rawan macet. Jalur lingkar tengah itu meliputi Surabaya, Mojokerto, Jombang, Kediri, Nganjuk, Madiun, dan Ngawi. Titik rawan macet rata-rata disebabkan lintasan kereta api. Titik rawan laka lantas adalah jalan yang tikungannya tajam dan minim rambu. Ditlantas Polda Jatim mencatat ada tujuh titik rawan di jalur lintas tengah. Untuk jalur rawan macet, ada 15 titik.

Aldian memaparkan, jalur lintas selatan meliputi wilayah Kabupaten Pasuruan, Malang Raya, Kota dan Kabupaten Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Magetan, sampai Banyuwangi. Panjangnya 585,88 kilometer. Di jalur itu ada sembilan titik rawan macet yang perlu dihindari. Salah satunya di Jalan Raya Mayjen Sungkono, Magetan. Ada penyempitan jalan (bottleneck) di area tersebut. Lokasinya di depan pasar sayur Magetan.

Untuk jalur rawan laka lantas, Aldian menyebut ada 12 titik yang diplot sebagai jalur black spot. Salah satunya Jalan Pacitan-Trenggalek. Khususnya, di kilometer 3 sampai 6. “Di situ minim rambu lalu lintas,” jelasnya.

Tol Malang menuju Pandaan KM 65 di kawasan Desa Sumbersuko, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu ruas tol Trans-Jawa yang beroperasi pada Mudik 2019. (Mokhamad Zubaidillah/JAWA POS RADAR BROMO)

Untuk jalur lintas utara, Aldian mengatakan, ada sembilan titik rawan macet yang sudah disurvei.Salah satunya Jalan Panglima Sudirman, Kabupaten Lamongan. Pengendara selalu mengurangi kecepatan karena ada lintasan kereta api yang posisinya menyilang.

Para pemudik juga diminta berhati-hati ketika melintasi jalur Probolinggo-Situbondo yang masuk jalur lintas utara. Ada dua titik yang diplot sebagai jalur rawan laka lantas. Tepatnya, di kilometer 109-1.010 serta di kilometer 200. Kondisi jalan yang rusak menjadi penyebabnya. Jalur lintas tapal kuda relatif berbeda. Titik yang diplot sebagai jalur rawan laka lantas dan macet lebih sedikit. Hanya ada lima lokasi yang ditetapkan sebagai jalur rawan macet dan enam lokasi yang perlu diantisipasi sebagai jalur rawan laka lantas.

Hal itu tidak jauh berbeda dengan jalur lintas Madura. Titik rawan macetnya hanya empat. Untuk lokasi rawan laka lantas, hanya ada satu. “Jalan rusaknya tidak banyak. Tapi, yang dianggap sebagai pemicu laka lantas rata-rata karena tidak ada rambu,” jelas Aldian.

Mantan Kapolres Pasuruan itu menyatakan, jalur-jalur yang sudah diplot sebagai lokasi rawan laka lantas dan macet sudah disurvei. Anggota dari polda dan polres jajaran disiagakan untuk mengantisipasi masalah di titik-titik tersebut.

Satuan lalu lintas (satlantas) di polres jajaran sudah mendirikan pos pengamanan dan pos pelayanan. Posko tersebut tidak hanya untuk tempat istirahat para pemudik. Itu juga menjadi tempat para anggota melakukan koordinasi jika terjadi masalah lalu lintas. Baik kemacetan maupun kecelakaan lalu lintas.

Karena itu, penempatan pos pengamanan dan pelayanan tidak sembarangan. Posko semipermanen didirikan di lokasi yang memang mendapat perhatian khusus terkait masalah lalu lintasnya. “Kita sudah antisipasi itu,” ucapnya.

Khusus untuk jalur tol Trans-Jawa, Kasat PJR Polda Jatim AKBP Bambang Sukmo Wibowo memastikan tidak ada titik macet di dalam tol. Penumpukan kendaraan hanya terjadi di gerbang tol. “Semuanya mulai malam ini (tadi malam, Red) sudah ada penumpukan kendaraan,” jelasnya.

Trans Jawa ruas Pejagan – Pemalang. (dok. JawaPos.com)

Bambang menyatakan, jalur tol Trans-Jawa memang mendapat atensi lebih. Yakni, mulai tol Solo-Ngawi sampai Warugunung. Anggota Sat PJR yang bertugas ditambah untuk mengantisipasi masalah lalu lintas di dalam tol.

Sat PJR, kata Bambang, sudah berkoordinasi dengan PT Jasa Marga sebagai pengelola tol. Untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan, pengelola tol menambah jumlah gate di dua titik. Yakni, gerbang tol Warugunung yang sebelumnya empat menjadi sepuluh gate. Penambahan juga dilakukan di gerbang tol Madiun yang sebelumnya dua menjadi empat gate.

Terkait titik rawan laka lantas, Bambang menyebut ada dua jalur yang perlu diperhatikan. Yakni, tol Surabaya Mojokerto (Sumo) di Km 715-720 dan tol Solo-Ngawi Km 638-628. “Paling sering terjadi di dua titik itu. Karena itu, kita antisipasi dengan menempatkan anggota di sana.”

Menurut Bambang, laka lantas di dalam tol kebanyakan disebabkan faktor manusia (human error). Sebab, konstruksi jalannya tidak bermasalah. Pengemudi rata-rata kehilangan konsentrasi karena kelelahan. Karena itu, dia menyarankan agar para pengemudi beristirahat sejenak setelah menempuh empat jam perjalanan. Tidak hanya kondisi tubuh pengemudinya yang diistirahatkan.

“Kendaraannya juga perlu istirahat sejenak,” katanya. Sebab, ban mobil bisa memuai dan rawan pecah jika dipaksakan berkendara jarak jauh lebih dari empat jam. Hal itulah yang kerap diabaikan pengemudi karena ingin cepat sampai di tempat tujuan.

Ganjil-Genap di Merak Batal, Diganti Diskon Tarif

Gerbang Tol Tangerang- Merak dari arah Serang menuju Pelabuhan Merak. (Doni Kurniawan/Banten Raya/Jawa Pos Group)

Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2019 tentang Pengaturan Lalu Lintas pada Masa Angkutan Lebaran Tahun 2019. Jalur Bandung-Nagreg-Tasikmalaya adalah salah satu jalur yang terkena dampak pembatasan tersebut.

“Kami memang akan melakukan pelarangan kendaraan berat kecuali truk yang mengangkut sembako mulai 30 Mei sampai 2 Juni,” ungkap Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Tol trans-Jawa dan tol Sumatera membuat animo pemudik lewat darat meningkat. Penyeberangan Merak-Bakauheni menjadi titik penting. Kemarin Ditjen Perhubungan Darat membatalkan imbauan penerapan ganjil-genap yang rencananya diterapkan hari ini. Kebijakan itu diganti dengan pemberian diskon 10 persen khusus penyeberang siang. Sedangkan untuk pemudik yang memilih menyeberang malam dikenai tarif lebih 10 persen.

Pemudik kendaraan pribadi golongan IVA noneksekutif yang menyeberang saat siang mendapatkan diskon tarif menjadi Rp 337.000 per kendaraan. Sebaliknya, kendaraan yang menyeberang saat malam dikenai kenaikan tarif 10 persen menjadi Rp 411.000 per kendaraan.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (lyn/adi/c10/c6/oni)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua