alexametrics

Permintaan Eksodus dari Wamena Makin Meluas

Selain Pendatang, Warga Papua Mengungsi
29 September 2019, 09:07:20 WIB

JawaPos.com – Kekhawatiran terhadap situasi keamanan membuat gelombang eksodus warga dari Wamena belum berhenti. Kemarin (28/9) lebih dari 5 ribu orang yang mendaftar penerbangan ke Jayapura atau luar Papua dengan pesawat Hercules. Meningkat dari jumlah yang tercatat Jumat (27/9), yakni 2.589 orang. Masyarakat pendatang maupun asli Papua yang ingin eksodus bahkan tidak hanya berasal dari Wamena.

Tetapi juga kabupaten pemekaran lain di wilayah Pegunungan Tengah Papua seperti Tolikara, Yalimo, Lanny Jaya, dan Mamberamo Tengah.

Kepala Detasemen TNI-AU Wamena Mayor Pnb Arief Sudjatmiko mengakui bahwa jumlah warga yang ingin eksodus membeludak. Sejak kemarin pagi, warga berbondong-bondong mendaftar ke Detasemen TNI-AU Wamena. ”Kalau bisa kami kalkulasikan, jumlah pendaftar saat ini dengan yang sudah diterbangkan bukan lagi 5 ribu orang, tetapi sudah menembus 10 ribu,” ungkap dia kepada Cenderawasih Pos di apron kargo Bandara Wamena kemarin (28/9).

Dia memastikan, pendaftar yang tercatat sehari sebelumnya yang sebanyak 2.589 orang mulai diterbangkan kemarin pagi. Namun, pendaftar baru yang sebagian besar berasal dari kabupaten pemekaran lain masih harus antre pesawat.

Menurut dia, eksodus tersebut mungkin terjadi karena warga terpengaruh isu-isu kerusuhan. ”Sehingga mereka lebih memilih untuk meninggalkan daerah ini ke tempat yang lebih aman seperti Jayapura dan luar Papua seperti Makassar dan Jawa,” jelas Sudjatmiko.

Saat ini penerbangan Hercules dilakukan dengan pola yang berbeda. Penumpang disusun sesuai kelompok keberangkatan setiap penerbangan. Dengan begitu, dalam sehari bisa dilakukan empat penerbangan dengan kapasitas penumpang 150 sampai 160 orang sekali angkut.

”Mekanisme penerbangan yang saat ini dilakukan memang berbeda dengan yang sebelumnya agar lebih menertibkan para pengungsi yang akan eksodus ke luar Wamena,” terangnya. Detasemen TNI-AU Wamena juga menghindari konflik yang terjadi antara sesama pengungsi, termasuk mengamankan ibu-ibu dan anak-anak. ”Sehingga kami membuat daftar untuk setiap kali penerbangan,” imbuh dia.

Secara terpisah, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jayawijaya Pendeta Esmon Walilo mengatakan, persoalan eksodus tidak hanya terjadi pada masyarakat pendatang. Masyarakat asli Lembah Baliem yang tinggal di Kota Wamena kini juga ikut pergi ke tempat yang dinilai lebih aman. ”Masyarakat asli yang tinggal di Kota Wamena juga mengungsi ke kampung halamannya. Bahkan, yang dari kampung juga enggan masuk ke kota lantaran takut akibat banyaknya informasi tidak benar yang beredar,” jelasnya.

Dia mencontohkan informasi yang menyebutkan bahwa aparat TNI-Polri mem-back up masyarakat pendatang untuk melakukan penyerangan. ”Padahal, itu sama sekali tidak benar,” tegasnya.

Ada juga informasi bahwa setelah sidang PBB, Papua akan merdeka sehingga aparat turun untuk menembak masyarakat. ”Saya pikir, masyarakat melakukan eksodus karena memang termakan isu. Sama sekali tidak benar, hanya isu yang terus dikembangkan sehingga masyarakat ketakutan,” tutur dia.

Danlanud Silas Papare Marsekal Pertama Tri Bowo Budi Santoso menjelaskan, hingga kemarin sore ada 1.500 pengungsi yang diangkut dari Wamena ke Jayapura dengan menggunakan pesawat Hercules. TNI-AU mengoperasikan dua Hercules dan satu pesawat CN 235. ”Rata-rata kami siapkan tiga flight minimal. Akan kami optimalkan bisa empat flight. Itu pun melihat cuaca, mudah-mudahan bagus,” terangnya.

Dalam setiap penerbangan dari Jayapura, lanjut Tri Bowo, pesawat membawa logistik untuk disalurkan kepada pengungsi di Wamena. Lalu, saat kembali ke Jayapura, pesawat mengangkut pengungsi, terutama yang sakit, ibu-ibu, dan anak-anak. Pengungsi yang tiba di Jayapura ditempatkan di beberapa tempat. Bisa di Lanud Silas Papare, Batalyon Rider 751, Resimen Induk Kodam XVII/Cenderawasih, dan Masjid Al Aqsa Jayapura.

Kemarin satu pesawat Hercules harus pulang ke Jawa untuk mendapatkan perawatan. Pesawat tersebut juga mengangkut pengungsi asal Jawa sebanyak 200 orang. Sebagai gantinya, TNI-AU menerbangkan dua pesawat Hercules. ”Satu lagi tambahan pesawat. Malam ini (kemarin, Red) sudah mendarat di Biak,” kata perwira dengan satu bintang di pundak tersebut.

Sementara itu, Kapendam Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto menerangkan, pasca kerusuhan pihaknya telah menurunkan 59 dokter TNI untuk mengurus kebutuhan medis di pengungsian. ”Khususnya dari TNI-AL ada 49 orang dokter,” ucapnya.

Tenaga Medis
Permintaan eksodus tenaga medis masih terjadi. Namun, tidak sedikit dokter yang mau bertahan. Menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Papua Donald Aronggear, koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan. Kemarin pihaknya melakukan rapat dengan stakeholder terkait untuk membicarakan penanganan medis dan eksodus tenaga medis ke luar Papua. ”Di Wamena sekarang ada 27 dokter. Sebagian besar lulusan Universitas Cenderawasih,” ujarnya.

Untuk yang bertahan, pihaknya meminta selalu mengenakan baju putih sebagai tanda bahwa mereka dokter. Donald juga meminta sejawatnya tetap berada di wilayah aman. ”Untuk dokter di Wamena yang tugas di puskesmas yang jauh, kami minta untuk di kota saja,” katanya. Donald juga meminta tenaga medis yang bekerja dijaga pihak keamanan.

Situasi Terkini
Kabidhumas Polda Papua Kombespol A.M. Kamal mengungkapkan bahwa pelayanan umum di Wamena berangsur normal. Tidak ada lagi mobilisasi massa. Menurut dia, jumlah pengungsi lebih dari 8 ribu orang. ”Itu pengungsi yang karena rumahnya terbakar atau sebagainya,” ucap dia.

Menurut Kamal, kerusuhan terjadi karena adanya sekelompok orang berseragam sekolah yang mencoba masuk ke SMA PGRI Wamena. Namun, usia mereka diperkirakan lebih dari 25 tahun. ”Mereka mengajak demonstrasi dan melakukan aksi kekerasan,” ujarnya. Hingga akhirnya kerusuhan di Wamena pun pecah.

Polda Papua memiliki saksi seorang siswa yang dipukuli karena menolak ikut demonstrasi. ”Memang ada kemungkinan kelompok ini KKB (kelompok kriminal bersenjata) dan mereka menyebar hoaks guru rasis di SMA tersebut,” katanya.

Terkait kasus kerusuhan itu, Polda Papua telah menetapkan tiga tersangka. Mereka diduga terlibat dalam aksi kerusuhan yang mengakibatkan 31 warga meninggal dunia. ”Tapi, kalau gembongnya belum ya,” ucap Kamal.

Polda Papua kini berfokus mencegah adanya kelompok tertentu yang memanfaatkan isu rasisme untuk membuat kerusuhan. Pertemuan dengan 90 tokoh adat dan gereja digelar. ”Tujuannya untuk meminta agar masyarakat menahan diri bila mendapatkan informasi rasisme kembali,” imbuhnya.

Sementara itu, terhitung mulai kemarin pukul 09.00 WIT, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memutuskan untuk membuka kembali layanan internet di Wamena. Itu juga menandai berfungsinya secara penuh layanan internet di seluruh Papua setelah layanan di Wamena dibatasi sejak Senin (23/9).

Plt Kepala Biro Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu mengungkapkan, layanan data internet kembali dibuka setelah mempertimbangkan situasi dan kondisi keamanan di wilayah Kabupaten Wamena yang mulai pulih.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : jo/idr/lyn/han/tau/wan/c11/c9/fal



Close Ads