alexametrics

Batan Monopoli Pengelolaan Limbah Radioaktif

29 Februari 2020, 11:37:03 WIB

JawaPos.com – Pengelolaan limbah radioaktif sampai sekarang dimonopoli Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Kondisi tersebut diduga memicu Suhaedi Muhammad (SM), PNS aktif Batan, membuka jasa dekontaminasi radioaktif, bebas kontaminasi, serta jasa terkait pengelolaan radioaktif lainnya.

Seperti diketahui, polisi mengamankan bahan radioaktif berupa Cesium-137 di rumah SM. Pancaran radiasi bahan radioaktif itu cukup tinggi, mencapai 12 millisievert. Bahan radioaktif di rumah SM itu sama dengan yang ditemukan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) di pekarangan Perumahan Batan Indah akhir Januari lalu.

Deputi Teknologi Energi Nuklir Batan Suryantoro menjelaskan, pengelolaan limbah radioaktif diatur UU 10/1997 tentang Ketenaganukliran. Di UU tersebut dijelaskan, pengelolaan limbah radioaktif bertujuan mencegah bahaya radiasi terhadap pekerja, masyarakat, dan lingkungan.

Pasal 23 menjelaskan bahwa limbah radioaktif dikelola badan pelaksana, dalam hal ini Batan. Batan dapat bekerja sama dengan BUMN, koperasi, atau swasta.

”Tetapi, sampai saat ini memang Batan tidak atau belum bekerja sama atau menunjuk BUMN, koperasi, atau swasta,” jelasnya, kemarin (28/2). Alasannya, volume limbah radioaktif tidak banyak.

Suryantoro menambahkan, limbah radioaktif di Indonesia dihasilkan Batan, industri, dan rumah sakit. Untuk bahan radioaktif tertentu, masa kegunaannya cukup lama. Bisa sampai 30 tahun baru menghasilkan limbah. Untuk itu, dia menegaskan, Batan masih merasa sanggup menjadi satu-satunya lembaga pengelola limbah radioaktif di Indonesia.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : wan/c9/oni



Close Ads