alexametrics

Ini Rekam Jejak Yadyn di KPK, Kelihaiannya Dipuji Koruptor

29 Januari 2020, 13:58:21 WIB

JawaPos.com – Kejaksaan Agung (Kejagung) menarik Jaksa Yadyn Palebangan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kebijakan mendadak itu pun menuai polemik, karena masa tugasnya di lembaga antirasuah belum selesai.

Publik berspekulasi ditariknya Yadyn dari KPK karena ikut menangani operasi tangkap tangan (OTT) kasus pergantian antarwaktu (PAW) yang turut menjerat politikus PDI Perjuangan, Harun Masiku. Reputasi Yadyn di internal KPK juga dikenal sebagai Jaksa yang cermat menangani kasus-kasus di KPK.

Yadyn memulai karirnya sebagai Jaksa di Kejaksaan Agung pada 2003. Pria berusia 39 tahun ini kemudian mendaftar menjadi jaksa KPK dan diterima menjadi pegawai KPK pada 2014.

Sebagai penuntut umum, Yadyn pernah menangani sejumlah kasus yang melibatkan nama-nama besar di republik ini. Diantaranya, kasus korupsi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Mantan Menteri ESDM Jero Wacik.

KPK saat itu menduga, Jero Wacik melakukan korupsi terkait pengadaan proyek dan Dana Operasional Menteri (DOM) di Kementerian ESDM 2011-2013. Jaksa penuntut umum KPK menunutut Jero Wacik dengan hukuman sembilan tahun penjara serta denda Rp 350 juta subsider empat bulan kurungan.

Selain itu, Yadyn juga turut terlibat dalam tim jaksa kasus suap Ketua Komisi Energi DPR Sutan Bhatoegana. Jaksa KPK menuntut mantan politikus Partai Demokrat itu dengan hukuman 11 tahun penjara. Mantan Ketua Komisi VII DPR itu kemudian divonis 10 tahun penjara serta denda Rp 500 juta subsider lima bulan kurungan.

Perkara yang ditangani Yadyn di meja peradilan tidak pernah lepas dari jeratan hukum. Bahkan, Yadyn sempat terlibat dalam tim operasi senyap yang menjeret mantan Direktur Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Antonius Tonny Budiono pada 23-24 Agustus 2017 di Mes Perwira Dirjen Hubla, Jakarta.

Dalam kesaksiannya di pengadilan, Kamis 5 April 2018, Tonny menyebut Yadyn merupakan orang yang cerdas saat melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Tonny yang awalnya enggan membuka pintu saat terjadinya OTT KPK pun langsung bergerak ketika mendengar suara perempuan yang mengetuk pintunya itu.

“Pak Yadyn (jaksa KPK) memang pintar, menyuruh petugas perempuan yang mengetuk pintu. Pak Yadyn awalnya sudah ketuk-ketuk pintu, tetapi saya enggak bangun,” ucap Tonny kala itu sambil tertawa.

Namun, masa tugas Yadyn kini tinggal hitungan hari. Dia yang juga terlibat dalam operasi senyap kasus PAW yang menyeret-nyeret elite PDIP harus terpaksa ditarik ke Korps Adhyaksa.

Yadyn juga merupakan tim analisis kasus dugaan suap pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR. Kasus ini menyeret sejumlah kader PDIP dan seorang Komisioner KPU Wahyu Setiawan.

Kendati demikian, Yadyn hanya bisa pasrah terkait harus kembali ke Kejaksaan Agung. Dia menyebut, siap ditugaskan dimana saja atas arahan dari Jaksa Agung ST Burhanuddin.

“Sebagai abdi negara, kami siap ditempatkan di mana saja dan tidak ingin penarikan ini berpolemik lebih jauh,” kata Yadyn melalui pesan singkat kepada JawaPos.com, Selasa (28/1) kemarin.

Menurutnya, penarikan dua Jaksa yang bertugas di KPK diyakini sebagai bagian dari upaya penguatan kelembagaan Kejaksaan menuju Adhyaksa Emas 2020. Dirinya pun mengapresiasi hal ini dengan penuh bijaksana.

“Kami mengapresiasi langkah Jaksa Agung terkait penarikan ini sebagai bagian dari upaya penguatan kelembagaan Kejaksaan menuju Adhyaksa Emas 2020,” ucap Yadyn.

Oleh karena itu, Yadyn mengharapkan dirinya bisa menyelesaikan terlebih dahulu tugas-tugas yang harus diselesaikannya di KPK. Hal ini sebagai bentuk tanggungjawab kepada lembaga antirasuah.

“Terimakasih untuk pimpinan KPK baik yang periode ini maupun periode sebelumnya, atas bimbingan pelaksanaan tugas selama kami mengabdikan diri di lembaga yang kami cintai ini,” pungkasnya.

Selain Yadyn, ada juga Sugeng yang pernah menjadi ketua tim pemeriksa dugaan etik Firli Bahuri saat menjabat Deputi Penindakan KPK. Pemeriksaan etik berkaitan dengan dugaan pertemuan Firli dengan mantan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Zainul Majdi.

Saat pertemuan terjadi, KPK tengah menyelidik kasus dugaan korupsi divestasi saham PT Newmont. Belakangan, sebelum Firli menjabat sebagai ketua KPK, lembaga antirasuah menyimpulkan adanya dugaan pelanggaran berat yang dilakukan oleh Mantan Kapolda Sumsel itu.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Muhammad Ridwan



Close Ads