Lawatan Jokowi Usung Misi Perdamaian hingga Krisis Pangan Global

27 Juni 2022, 15:04:33 WIB

JawaPos.com – Presiden Joko Widodo dan rombongan memulai lawatan ke luar negeri kemarin (26/6). Negara pertama yang dikunjungi adalah Jerman. Rencananya, rombongan langsung bertolak ke Ukraina dan Rusia.

Kunjungan Jokowi ke Jerman dalam rangka menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7. ”Indonesia di sini adalah sebagai partner country dari G7 dan diundang untuk menghadiri KTT G7 sebagai ketua presidensi G20,” ujar Jokowi dalam pidatonya sebelum berangkat.

Misi yang akan dibawa Jokowi dan rombongan adalah upaya perdamaian Ukraina dan Rusia. Selain itu, Indonesia memberikan atensi pada krisis pangan dan energi. ”Memang upaya ini tidak mudah, tapi kita akan terus berupaya,” imbuhnya.

Setelah dari Jerman, Jokowi akan menuju Ukraina. Mereka bakal menemui Presiden Volodymyr Zelensky. ”Misinya adalah mengajak presiden Ukraina untuk membuka ruang dialog dalam rangka perdamaian,” ucapnya. Sebab, perang Ukraina vs Rusia membuat rantai pasok pangan terganggu.

Selepas berkunjung ke Ukraina, Jokowi akan menuju Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin. Misinya sama dengan pertemuan dengan Zelensky. ”Sekali lagi, dengan misi yang sama saya akan mengajak Presiden Putin untuk membuka ruang dialog dan sesegera mungkin melakukan gencatan senjata dan menghentikan perang,” bebernya.

Selanjutnya, rombongan berkunjung ke Uni Emirat Arab untuk melanjutkan kembali pembahasan kerja sama ekonomi dan investasi. Kunjungan itu penting untuk Indonesia dan negara berkembang lainnya. ”Untuk mencegah rakyat negara-negara berkembang dan berpenghasilan rendah jatuh ke jurang kemiskinan ekstrem dan kelaparan,” jelasnya.

Selama kunjungan Jokowi ke luar negeri, roda pemerintahan dijalankan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Pada rangkaian acara yang sama, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi bersama Menlu Jerman, Menlu Prancis, Menlu AS, dan Menlu Senegal memimpin acara Ministerial Conference on Uniting for Global Food Security yang diselenggarakan Jerman selaku presiden G7 di Berlin secara hybrid.

Pada konferensi yang dihadiri lebih dari 25 negara tersebut, Retno menegaskan, perang selalu menjadi tragedi kemanusiaan. Dampaknya pun tidak terbatas pada satu wilayah saja.

Perang yang saat ini terjadi, misalnya, telah menghancurkan sistem pangan global yang sebelumnya dilemahkan pandemi Covid-19 dan perubahan iklim. ”Di waktu yang sulit ini, dunia tidak punya pilihan selain bersatu untuk memulihkan ketahanan pangan global,” ujarnya.

Berkaitan dengan hal itu, lanjut dia, ada dua hal penting yang dapat dilakukan dalam jangka pendek. Pertama, seraya tetap menegakkan hukum internasional, dunia tidak boleh menyerah untuk menemukan solusi damai di Ukraina.

”Perang ini harus segera dihentikan dan seluruh pihak harus berkontribusi pada tujuan ini,” tegasnya.

Kedua, rantai pasok pangan global harus dipulihkan. Dampak perang terhadap pangan dan pupuk sangat jelas. Bila dunia gagal mengatasi krisis pupuk, akan terjadi krisis beras yang menyangkut nasib lebih dari 2 miliar penduduk dunia.

Retno menyatakan, solusi efektif terhadap krisis pangan itu menuntut dilakukannya reintegrasi produksi pangan Ukraina dan Rusia. Perlu diamankan sebuah grain corridor dari Ukraina dan dibukanya ekspor pangan dan pupuk dari Rusia.

”Seluruh negara harus menahan diri dari tindakan yang semakin memperburuk krisis pangan ini,” sambungnya.

Lebih lanjut, Retno menjelaskan bahwa dunia juga perlu berkolaborasi dalam mendorong investasi yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian, mendiversifikasi produksi dan impor pangan, serta mendorong perdagangan produk pertanian nondiskriminatif.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : mia/lyn/c19/oni

Saksikan video menarik berikut ini: