alexametrics

Negara Diminta Beri Perlindungan Khusus ke Anak Kelompok Minoritas

27 Februari 2019, 12:33:09 WIB

JawaPos.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise menghadiri Dialog dengan Pendamping Anak Kelompok Minoritas di Kota Sorong, Papua Barat. Dalam kesempatan itu, dirinya mengungkapkan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama sebagai warga negara Indonesia.

“Anak kelompok minoritas dan terisolasi memiliki hak yang sama seperti anak-anak lainnya. Negara harus hadir dalam memberikan perlindungan khusus dan memperhatikan tubuh kembang mereka. Anak-anak di Tanah Papua, utamanya di wilayah pegunungan masih masuk ke dalam anak-anak kelompok minoritas dan terisolasi,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Rabu (27/2).

Menurutnya, anak-anak di Tanah Papua merupakan anak kelompok minoritas dan terisolasi karena masih ada anak-anak yang tidak bersekolah karena harus membantu orang tua mereka di kebun. Padahal, mereka harus mempunyai akta kelahiran, serta akses terhadap kesehatan dan pendidikan. 

“Kita harus selamatkan anak-anak kelompok minoritas dan terisolasi, utamanya anak-anak Papua. Jika tidak, maka Tanah Papua akan rugi. Hentikan pelabelan ‘anak asli papua’ atau ‘anak non papua’. Mari kita saling bergandeng tangan memutus mata rantai kekerasan dan diskriminasi terhadap anak-anak minoritas dan terisolasi,“ tegas Yohana.

Deputi Perlindungan Anak KemenPPPA Nahar mengatakan, para pendamping anak kelompok minoritas dan terisolasi berasal dari kalangan LSM, lembaga pemerhati anak, dan Dinas terkait. Nahar berharap para pendamping bisa berperan dalam memenuhi hak anak kelompok minoritas dan terisolasi.

“Perlu kita ketahui, ada beberapa kategori kelompok minoritas, yaitu minoritas ras, etnis, agama dan keyakinan, identitas gender dan orientasi seksual, serta kondisi khusus yang dapat menimbulkan diskriminasi,” terang dia pada kesempatan yang sama.

Sementara itu, salah satu pendamping anak kelompok Minoritas Lei Osok menyebutkan, kategori anak minoritas dan terisolasi bisa berkembang dari pengertian di atas. Seorang anak bisa saja merasa dirinya minoritas dan terisolasi justru karena mereka dikekang dan mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya.

“Hal tersebut menyebabkan mereka merasa tidak percaya diri ketika berada di masyarakat. Kami imbau agar KemenPPPA tidak hanya memberikan pendampingan kepada anak-anak kelompok minoritas dan terisolasi saja, namun juga memberikan sosialisasi dan pendampingan kepada para orang tua agar dapat memotivasi dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Semua juga berawal dari keluarga,” paparnya.

Editor : Kuswandi

Reporter : Yesika Dinta



Close Ads
Negara Diminta Beri Perlindungan Khusus ke Anak Kelompok Minoritas