alexametrics

Belum Ada Judul, Pengesahan RUU P-KS Ditunda Sampai Periode Mendatang

26 September 2019, 13:02:22 WIB

JawaPos.com – Ketua DPR Bambang Soesatyo atau akrab dipanggil Bamsoet menunda RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS). RUU P-KS tidak akan disahkan DPR periode 2014-2019. Waktu kerja yang tinggal sedikit lagi tidak memungkinkan DPR dan pemerintah menyelesaikan RUU P-KS.

“Saya sudah berkoordinasi dengan pimpinan Panja terkait, karena waktunya yang pendek dan masih banyak masalah yang belum selesai dibahas, maka kami putuskan ditunda,” kata Bamsoet di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (26/9).

Bamsoet mengatakan, pembahasan RUU P-KS akan dibawa di masa jabatan DPR periode 2019-2024 yang akan dilantik pada 1 Oktober mendatang. Bamsoet menjelaskan bahwa DPR saat ini bisa melakukan carry over terhadap RUU yang belum selesai setelah mengesahkan revisi UU Peraturan Pembentukan Perundangan Perundang-undangan (P3).

Sementara itu, perkembangan terkini mengenai RUU P-KS adalah DPR dan pemerintah sepakat membentuk tim perumus (Timus). Timus RUU P-KS bakal efektif bekerja di periode mendatang.

“Saya mendengar dari Ketua Panja P-PKS bahwa sampai saat ini untuk judul RUU saja belum ada kesepakatan. Sehingga tidak bisa diteruskan karena waktu yang pendek,” jelas Bamsoet.

Padahal publik menginginkan agar RUU P-KS segera disahkan. Desakan itupun muncul dari Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Azriana yang mendesak agar RUU P-KS segera disahkan.

“Kami ingin segera disahkan RUU PKS,” tegas Azriana dalam konferensi pers saat peringatan Hari Demokrasi Internasional di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Minggu (15/9).

Dia menilai, dibandingkan mengesahkan RUU Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) yang substansinya masih berpolemik, RUU P-KS lebih penting untuk segera disahkan demi melindungi korban kekerasan. Terlebih RUU P-KS masuk ke dalam program legislasi nasional (prolegnas).

“Kami minta RKUHP ditunda, tapi segera sahkan RUU P-KS untuk melindungi korban dan masyarakat yang berpotensi jadi korban kekerasan seksual,” ucapnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Muhammad Ridwan



Close Ads