alexametrics

PLTSa Bantargebang Diharapkan Jadi Contoh Pengelolaan Sampah Nasional

26 Maret 2019, 13:13:59 WIB

JawaPos.com – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Luhut Binsar Pandjaitan bersama Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir dan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih Bantargebang, Kota Bekasi, Senin (25/3).

Menristekdikti Nasir mengatakan, PLTSa diharapkan dapat menjadi solusi pengelolaan sampah nasional terutama di kota-kota besar Indonesia. Sebab dalam sehari, DKI Jakarta memproduksi 8.000 ton sampah, sedangkan Kota Bekasi mencapai 1.800 ton. Adanya PLTSa diharapkan dapat menyelesaikan masalah sampah di kedua wilayah.

“Jadi total ada sekitar 10 ribu ton sampah per hari. PLTSa Merah Putih Bantargebang ini merupakan ‘pilot project’ sehingga baru mampu mengolah 100 ton per hari, kita dorong BPPT untuk menghasilkan teknologi yang mampu mengolah 2.000 hingga 5.000 ton per hari,“ ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima Selasa (26/3).

Dia mengajak semua pihak untuk merubah paradigma agar tidak hanya menjadikan sampah sebagai sumber masalah yang harus dibuang, namun menjadikan sampah sebagai sebuah komoditi. Sampah yang dikelola dengan baik akan menghasilkan nilai tambah, seperti listrik yang akan dihasilkan oleh PLTSa Merah Putih.

“Sampah dianggap menjadi komoditi. Tahun 2021 jika pengelolaan sampah tidak dilakukan dengan serius dan sistematis, beberapa kota di Indonesia akan mengalami situasi darurat sampah. Oleh karena itu perlu ada teknologi pengelolaan sampah agar Indonesia bersih dari sampah,” kata Nasir.

Kehadiran PLTSa Merah Putih Bantargebang diharapkan dapat menjadikan DKI Jakarta dan Bekasi bersih dari sampah. PLTSa itu merupakan program rintisan yang kemudian dapat dikembangkan untuk pengelolaan sampah baik di kota maupun dapat dikembangkan skala lebih kecil untuk pedesaan.

Sementara itu, Menko Luhut mengatakan, saat ini Indonesia sedang darurat sampah, kehadiran PLTSa ini adalah langkah pemerintah untuk mengatasi masalah sampah yang saat ini telah menjadi masalah nasional. Dia berharap BPPT dapat membangun PLTSa dengan kapasitas pengelolaan sampah yang lebih besar, yakni 1.500 ton sampah per hari.

“Saya tanya ke kepala BPPT, bisa nggak bikin 1.500 ton per hari, bisa nggak Pak? Kalau bisa buatan dalam negeri ya nggak apa-apa didukung. Kita kan bisa dalam negeri, ngapain mesti impor? Yang model 150 (ton sampah per hari) itu bisa di kampung-kampung di Labuan Bajo, atau di kampung saya,” paparnya.

Pengelolaan sampah tidak hanya dapat fokus pada faktor teknologi saja, namun sisi budaya juga harus diperhatikan. Budaya hidup bersih harus ditumbuhkan mulai dari level keluarga. Dengan demikian dapat menghasilkan masyarakat yang cinta akan kebersihan dan sadar akan pengelolaan sampah yang baik.

“Semua aturan sudah ada tinggal mengintegrasi aturan ini supaya jalan. Bayangkan kita udah pakai MRT, tapi ada sampah,“ tutur Luhut.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPPT Hammam Riza mengungkapkan ‘pilot project’ dengan kapasitas pengolahan sampah mencapai 100 ton per hari itu akan menghasilkan listrik sebagai bonus sebanyak 700 kilowatt. Pembangunan itu berlangsung dalam satu tahun, dan merupakan PLTSa pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi termal yang sudah proven.

“Pilot Project ini merupakan hasil kajian desain Tim BPPT. Saat ini plant masih dalam kondisi commissioning, yang tentunya masih ada beberapa komponen atau proses yang perlu disempurnakan untuk PLTSa ini berjalan dengan lancar,” terang Hammam.

Editor : Kuswandi

Reporter : Yesika Dinta

Copy Editor :

PLTSa Bantargebang Diharapkan Jadi Contoh Pengelolaan Sampah Nasional