alexametrics

Dari Montir Jadi Juragan Rebon dan Ikan Bilis Belah

25 November 2021, 17:03:30 WIB

JawaPos.com – Santoso, seorang montir bengkel di kawasan Tanjung Jabung Barat, tidak pernah menyangka dirinya akan menjadi pemasar rebon dan ikan bilis belah. Kegiatan yang tadinya ia lakukan untuk mendukung perekonomian rumah tangga itu justru menjadi sumber pemasukan utamanya sekarang.

“Awalnya istri yang punya ide. Tapi kewalahan karena pemasaran. Jadi saya ambil alih,” ungkap Santoso bersemangat saat mengawali kisahnya melalui telepon, belum lama ini.

Santoso dan keluarga tinggal di Jalan Delima RT 10, Kelurahan Kampung Nelayan, Tanjung Jabung Barat. Rumah dan gudangnya hanya terpaut lima meteran, sehingga aktivitas penjemuran rebon dan ikan bilis belah mudah terpantau.

Rebon dan ikan bilis yang ia pasarkan didapatkan dari nelayan setempat. Ketika barang-barang tersebut datang, Santoso langsung menjemurnya. Hanya membutuhkan waktu setengah hari jika cuaca terik untuk membuat bilis belah kering, sedangkan rebon dianginkan dalam gudang.

Santoso dan istri mulai aktif menjadi penampung ikan dari nelayan pada 2016. Awalnya, mereka hanya pemasar kecil-kecilan. Namun, karena memanfaatkan jejaring yang dimiliki istrinya di kampus, usaha mereka terus berkembang. Reputasi mereka pun kian banyak dikenal pembeli besar karena kuli yang mengangkut rebon dan ikan bilis belah membagikan nomor telepon Santoso.

“Karena kualitas bagus, akhirnya dari satu tempat ke tempat lain semakin berkembang,” ungkap pria asli Pati, Jawa Tengah itu.

Pemasaran rebon dan ikan bilis belah Santoso pun meluas. Tidak hanya di Tanjung Jabung Barat, tetapi juga ke wilayah lain di Jambi, Padang, Pekanbaru, Palembang, sampai ke Jawa dan Madura.

Meski masih pandemi, harga jual rebon berkisar Rp 32.000-33.000 pern kilogram, sedangkan teri belah Rp 74.000-75.000 per kilogram. Jika dikirim ke luar pulau, selisihnya Rp 1.000- 2.000.

“Saat ini harga jual sebenarnya stabil tapi barang (rebon dan ikan) kosong,” kata Ketua KUKP Cahaya Laut itu.

Pada tahun ini, lanjutnya, pengurangan hasil laut berlangsung lebih cepat dari biasanya, yakni sejak Juli. Padahal, tahun-tahun sebelumnya pada November. Kualitas pun kurang bagus karena lebih kotor dari biasanya.

Tantangan lain yang dihadapi Santoso adalah kejujuran nelayan yang menjadi mitra. Ada saja dari mereka yang kadang malah menjual hasil laut bagus ke pihak lain. Oleh karena itu, ia berharap kepada 25 nelayan mitranya untuk menjaga kejujuran. Sebab baginya, kejujuran akan membawa kemudahan dalam setiap usaha. “Walau kecil-kecilan usaha, kuncinya jujur, jangan mudah putus asa. Rezeki yang atur Tuhan,” tegasnya.

Untuk mengembangkan usahanya, Santoso menerima pinjaman modal dari Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP) pada November 2020. Dana bergulir digunakan untuk membeli pompong, mesin, jaring, dan merehab gudang.

Kemudahan syarat, bunga yang ringan, dan tidak ada penalty ketika pelunasan pinjaman dipercepat membuat Santoso tertarik meminjam ke lembaga di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan ini.

“Kemarin di konvensional kurang tiga bulan pinjaman lagi lunas malah kena penalty, mudah-mudahan gak pinjam lagi ke sana,” tuturnya mantap.

Editor : Banu Adikara

Reporter : ARM




Close Ads