alexametrics

Nadiem Makarim Siap Mendobrak Benahi Pendidikan dengan Teknologi

24 Oktober 2019, 09:08:23 WIB

JawaPos.com – Kabinet Indonesia Maju telah diperkenalkan secara terbuka oleh Presiden Jokowi kemarin (23/10). Kini publik tinggal menunggu kiprah jajaran kabinet dalam mewujudkan janji politik Jokowi-Ma’ruf.

Nama Kabinet Indonesia Maju, kata Jokowi, mewakili spirit dan harapan untuk menjembatani Indonesia menuju negara maju. ”Dalam lima tahun kemarin kita kan kerja, kerja, kerja. Ini arahnya untuk mengantarkan Indonesia maju,” ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta.

Dia menambahkan, pihaknya akan melanjutkan pekerjaan di periode pertamanya. Termasuk menyelesaikan berbagai persoalan seperti defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan, penurunan kemiskinan, peningkatan usaha kecil, hingga pembukaan iklim investasi untuk memperbanyak lapangan kerja.

Agenda lainnya adalah melanjutkan debirokratisasi melalui reformasi birokrasi, deregulasi, serta penggunaan anggaran yang terfokus dan tepat sasaran. ’’Kemudian tentu saja prioritas utama kita lima tahun ke depan pembangunan SDM dan semuanya yang berkaitan dengan itu harus kita garap secara rame-rame,” imbuhnya.

Dia meminta jajarannya taat pada tujuh hal. Yakni, fokus pada visi-misi presiden dan wakil presiden, menciptakan sistem yang menutup korupsi, tidak terjebak pada rutinitas; bekerja cepat, keras, dan produktif; berorientasi pada hasil, serta rajin turun ke lapangan. ’’Terakhir, semua harus serius dalam bekerja, saya pastikan yang tidak serius bekerja, yang tidak sungguh-sungguh, hati-hati, bisa saya copot di tengah jalan,” ungkapnya.

Dari semua nama yang diperkenalkan, posisi menteri untuk Nadiem Makarim yang paling mengejutkan. Seperti ungkapan di dunia sulap, sim salabim, penunjukannya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud), membuatnya langsung menjadi bintang di kabinet.

Serah terima jabatan Mendikbud dari Muhadjir Effendy (kiri) kepada Nadiem Anwar Makarim. (Rian Alfianto/JawaPos.com)

Latar belakangnya sebagai pendiri perusahaan start-up, membuat banyak pihak menduga lulusan Harvard itu akan menduduki posisi kementrian yang terkait ristek, industri kreatif, atau teknologi digital. Dengan usia relatif muda, 35 tahun, Nadiem memimpin kementerian yang begitu luas cakupannya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). ’’Saya terima amanah ini dengan sangat hati-hati. Saya tidak pernah mengira akan bergabung dengan pemerintahan,’’ kata dia saat ditemui seusai acara pelantikan di Istana Negara.

Pendiri Gojek itu menjelaskan, solusi hampir semua persoalan bangsa ada di pendidikan. Dia mengakui, tantangan sebagai Mendikbud begitu luas. Apalagi, Kemendikbud adalah kementerian dengan skala besar. “Sistem pendidikan belum terlalu banyak perubahan selama 20–30 tahun terakhir. Walaupun ada banyak hal baik dari Pak Muhadjir dan Pak Nasir,’’ tuturnya.

Nadiem mengatakan, harapannya adalah menciptakan pendidikan yang berbasis kompetensi dan karakter. Aspek penting untuk mewujudkannya adalah guru. Baik dari aspek kapabilitas maupun kesejahteraan. Menurut dia, murid itu hanya bisa sebaik gurunya.

Nadiem lantas menyampaikan alasannya ditugasi menjadi Mendikbud meski tidak berasal dari kalangan pendidik. ’’Saya lebih mengerti apa yang akan (dibutuhkan, Red) di masa depan kita,’’ tuturnya. Sebab, bidang bisnisnya selama ini adalah mengantisipasi kebutuhan masa depan. Menurut dia, tantangan pendidikan saat ini adalah link and match antara lembaga pendidikan dan kebutuhan industri.

Nadiem menjelaskan, dengan 300 ribu sekolah, 50 juta murid, mau tidak mau diperlukan peran teknologi yang besar. Teknologi itu dimanfaatkan untuk mencapai kualitas, efisiensi, dan sistem administrasi dunia pendidikan yang baik. ’’Seperti arahan Pak Presiden, kita tidak bisa business as usual. Kita harus mendobrak dan berinovasi,’’ tuturnya.

Dokter Terawan saat perpisahan dengan keluarga besar RSPAD Gatot Soebroto. (Jawa Pos)

Sosok lain yang menarik perhatian adalah menteri kesehatan yang dipegang dokter Terawan. Apalagi, pemilihannya mendapat penolakan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). IDI sebelumnya menganggap Terawan melanggar kode etik. Saat dikonfirmasi, kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto itu menanggapi dengan santai. ’’Ya ndak papa. Kan namanya juga jabatan politis. Ada yang menerima, ada yang menolak. Itu biasa,” ujarnya. Dia memilih berfokus pada tanggung jawabnya. Saat ini ada sejumlah persoalan yang harus dituntaskan. Yakni, pembenahan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) hingga pemberantasan stunting untuk mendukung pengembangan SDM.

Untuk penyelesaian BPJS, Terawan belum bisa menyampaikan secara detail. Sebab, dia belum berbicara dengan stakeholder terkait. Namun, dia ingin membuat solusi moderat. ”Yang tidak memberatkan masyarakat dan negara. Dan itu harus betul-betul dibahas dengan detail, harus penuh kejujuran, keterbukaan,” imbuhnya.

Kontroversi Kursi Menteri Agama

Sementara itu, terpilihnya Fachrul Razi sebagai menteri agama memicu protes dari kalangan nahdliyin. Ketua PB NU Robikin Emhas mengakui, sejak susunan kabinet diumumkan, ada protes dari sejumlah kiai dan tokoh-tokoh NU di seluruh pelosok Indonesia. Terutama tentang pengangkatan Fachrul Razi sebagai menteri agama. ’’Dari kalangan tanfidziyah maupun syuriah. Bahkan, para kiai-kiai sepuh juga,” kata Robikin kepada Jawa Pos kemarin (23/10).

Semua kekecewaan itu ditampung PB NU sebagai bahan pertimbangan untuk langkah selanjutnya. Yang jelas, kata Robikin, PB NU ingin berusaha mengelola aspirasi para kiai dari berbagai daerah agar tersalurkan dengan baik. Kekecewaan yang utama, lanjut Robikin, adalah karena Kemenag selama ini dianggap sebagai garda terdepan dalam mengatasi radikalisme berbasis agama. ”Namun, para kiai tak habis mengerti terhadap pilihan yang ada (Jokowi, Red),” katanya.

Robikin menambahkan, para kiai sudah lama merisaukan fenomena terjadinya pendangkalan pemahaman agama yang ditandai dengan merebaknya sikap intoleran. Yang lebih tragis, sikap ekstrem dengan mengatasnamakan agama. ”Teror adalah di antara ujung pemahaman keagamaan yang keliru seperti ini,” ucapnya.

Kekecewaan senada diungkapkan Wakil Rais Syuriah PW NU Jatim KH Agoes Ali Masyhuri. Kiai yang juga pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, itu mengkritik Jokowi karena dianggap melupakan perjuangan para kiai saat pilpres. Gus Ali, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa pada pilpres lalu kiai-kiai NU merapatkan barisan untuk memenangkan Jokowi. Banyak kiai yang berjuang lahir batin tanpa dibayar siapa pun. Hal itu dilakukan para kiai karena menganggap Jokowi bisa membawa aspirasi warga NU. Namun, Jokowi seperti lupa siapa yang berkeringat, siapa yang menonton, dan siapa yang berseberangan. Gus Ali menyebutkan, aspirasi NU kini tidak ditampung sama sekali oleh Jokowi.

Gus Ali menambahkan, sah-sah saja jika Jokowi mengangkat Prabowo Subianto sebagai menteri pertahanan. Namun, seharusnya Jokowi tetap mempertimbangkan aspirasi para kiai NU. Gus Ali memahami bahwa pemilihan menteri adalah hak prerogatif presiden. Namun, presiden tetap harus mempertimbangkan NU sebagai ormas Islam terbesar. ’’Jadi, tolong aspirasinya dihargai lah,” katanya.

Karena itu, dia meminta kiai NU, terutama PB NU, harus mandiri. Tidak bergantung kepada orang lain. Harus punya kekuatan. Baik ekonomi maupun lainnya. Dan jangan mau dijadikan tameng. ”Saat Pancasila dan NKRI digoyang, orang NU yang ditaruh di depan. Tapi, ketika bagi-bagi berkat, NU ditinggal,” ujarnya.

Sementara itu, Fachrul Razi mengatakan tidak mengetahui alasan dirinya dipilih sebagai menteri agama. Fachrul lantas menerka-nerka alasan Jokowi memilih dirinya sebagai Menag. ’’Tebakan saya, (alasan Jokowi, Red), Pak Fachrul ini suka mendalami agama meskipun bukan kiai,’’ tuturnya. Apalagi, Fachrul aktif menyampaikan khotbah dan ceramah. Dalam setiap ceramahnya, dia selalu berbicara soal Islam yang damai.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : far/wan/tau/uzi/c7/oni

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads