alexametrics

Kasus Hepatitis Akut Masih Misterius, PTM Jalan Terus

24 Mei 2022, 11:43:28 WIB

Kemendikbudristek Belum Rumuskan Aturan Khusus di Sekolah

JawaPos.com – Adanya penyakit hepatitis misterius yang menyerang anak di bawah 16 tahun masih menjadi kekhawatiran. Penyelidikan untuk menemukan biang dari penyakit itu masih dilakukan. Salah satu tujuannya adalah mengetahui penyakit hepatitis akut menular lewat media apa.

Namun, meski masih abu-abu, pemerintah percaya diri untuk tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah. Belum ada aturan khusus yang dibuat terkait dengan penyakit hepatitis akut misterius tersebut.

Plt Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbudristek Anang Ristanto menyatakan bahwa pihaknya masih mengacu pada SKB (surat keputusan bersama) empat menteri terbaru untuk penyelenggaraan PTM.

Menurut dia, dalam SKB tersebut secara jelas diatur protokol kesehatan (prokes) hingga pelaksanaan PTM yang masih berkaitan dengan kondisi PPKM. Prokes pencegahan hepatitis akut selaras dengan prokes untuk PTM dalam SKB tersebut.

”Secara spesifik belum mengatur soal hepatitis akut ini,” ujarnya dalam diskusi FMB9 kemarin (23/5).

Kendati demikian, pihaknya pun terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam upaya pencegahan dan penanganan bila ada penemuan kasus. Kemendikbudristek juga sudah meminta dinas pendidikan meningkatkan kewaspadaan dan bekerja sama secara solid dengan orang tua dan fasilitas kesehatan terdekat terkait penyakit tersebut.

Edukasi di sekolah-sekolah tentang upaya pencegahan penyakit misterius itu juga terus dilakukan. Termasuk pembinaan terhadap para penjual jajanan di sekolah untuk bisa menjamin pola hidup sehat dan bersih di lingkungan sekolah.

”Kami juga memastikan sekolah melapor ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat kalau memang ada kasus yang dicurigai,” katanya.

Pantauan terhadap anak-anak di sekolah selama PTM pada masa pandemi Covid-19 terus berlangsung. Tak terkecuali dalam kasus kemunculan penyakit hepatitis akut misterius ini. ”(Sejauh ini, Red) laporan aman,” tegasnya.

Dengan kondisi saat ini, Anang meminta semua pihak tetap tenang dan bergotong royong untuk memenuhi hak anak mendapat pendidikan. Mengingat, anak-anak sudah lama tak mengikuti PTM di sekolah.

Dalam kesempatan yang sama, Dirut RSCM Lies Dina Liastuti memahami mendesaknya anak untuk kembali ke sekolah dalam upaya mengejar pembelajaran selama pandemi Covid-19. Namun, dia mewanti-wanti agar kehati-hatian tetap dikedepankan dalam mengantisipasi penyakit hepatitis akut ini. ”Hati-hati, tidak boleh panik. Tapi, benar-benar hati-hati sekali karena sangat cepat sekali (keparahan penyakitnya),” tuturnya.

Hal ini becermin pada salah satu kasus terduga hepatitis akut yang ditangani RSCM sebelumnya. Lies mengakui, kerusakan pada hati akibat hepatitis akut ini berat sekali dan keparahannya sangat cepat.

Dari hasil laboratorium pasien anak tersebut, SGOT dan SGPT mencapai ribuan. Padahal, normalnya hanya berkisar 35 mikro per liter. Hingga akhirnya, dalam waktu 24 jam setelah dibawa ke RSCM, sang pasien meninggal.

Karena itu, semua pihak diminta sangat berhati-hati dengan melakukan langkah pencegahan dan mengetahui gejala-gejala yang harus diwaspadai. Untuk gejala, misalnya, anak mengalami lemas, tak nafsu makan, sakit perut, dan diare.

Ketika kondisi itu terjadi, anak harus cepat diperiksakan ke dokter dan disarankan untuk menjalani cek darah. ”Lalu, yang harus diperhatikan orang tua dan guru adalah pola makan anak, cara makannya, dan harus cuci tangan,” tuturnya.

Pastikan anak tak berbagi alat makan dan makanan yang memungkinkan perpindahan saliva. Kemudian, makanan harus dimasak dengan benar.

Kemarin, di Komisi IX DPR, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebutkan, ada lima hipotesis anak terserang penyakit hepatitis akut. Pertama adalah terinfeksi adenovirus. Virus itu biasanya menular lewat saluran pernapasan. ”Saat pemeriksaan, kira-kira 70 persen mengandung adenovirus,” ungkapnya.

Penyebab kedua adalah sindrom SARS-CoV-2 yang sebelumnya tak terdeteksi. SARS-CoV-2 merupakan virus Covid-19. Penyebab ketiga, obat, racun, atau paparan lingkungan. ”Kita tahu ada fenomena one health yang racun atau obat dari hewan ini dapat menular ke manusia,” jelasnya.

Penyebab selanjutnya diduga berasal dari patogen baru yang jenisnya belum diketahui. Kelima adalah kemungkinan varian anyar Covid-19. Lima penyebab ini masih terus diteliti secara global. ”Yang masih terus berjalan adalah investigasi dari jaringan hati yang sudah dibiopsi dan transplatasi,” ujarnya.

Sejauh ini Kemenkes menyosialisasikan pedoman pemeriksaan kasus di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Alur ini disusun kolegium ahli liver Indonesia. ”Untuk deteksi, penyelidikan epidemiologi terus dilakukan,” kata Dante.

Dia menjelaskan, salah satu pemeriksaan yang dilakukan adalah whole genome sequencing untuk melihat pola genetik dari setiap pasien. Pengumpulan kasus pun dilakukan secara real time.

Dalam kesempatan yang sama, Dante memaparkan kondisi Covid-19 di Indonesia. Dia menyatakan bahwa kondisi di Indonesia sekarang adalah pandemi terkendali. Beberapa hari pascalibur Lebaran, ternyata lonjakan kasus tak signifikan. ”Kami terus melakukan evaluasi terkait dengan vaksinasi,” ujarnya.

Ada 410 juta dosis vaksin yang sudah disuntikkan untuk dosis pertama hingga ketiga. Capaian vaksinasi kedua masih menyentuh 61 persen. ”Pada Juni, vaksinasi lengkap 70 persen sesuai dengan saran WHO,” tandasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : mia/lyn/c14/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads