alexametrics

Menperin Minta Industri TPT Kurangi Impor Bahan Baku

24 Februari 2020, 18:30:22 WIB

JawaPos.com – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) termasuk yang mempunyai ketergantungan tinggi terhadap bahan baku dari luar negeri. Jika bahan-bahan itu bisa didapatkan di dalam negeri, pertumbuhan TPT pasti akan maksimal. Selain untuk menekan impor, pemakaian bahan baku dari dalam negeri berpotensi mendongkrak kinerja ekspor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan struktur industri dalam negeri mulai hulu sampai hilir akan meningkatkan daya saing nasional. Dengan demikian, produk yang dihasilkan pun lebih berkualitas dan bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik serta internasional.

“Optimalisasi pemakaian bahan baku dari dalam negeri sangat penting untuk mendongkrak kinerja industri TPT,” ujar Agus pada Sabtu (22/2).

Salah satu perusahaan yang mungkin bisa menjawab tantangan pemerintah itu adalah PT Asia Pacific Rayon (APR). Perusahaan tersebut meresmikan fasilitas produksi viscose rayon di Riau pada pekan lalu.

Fasilitas yang nilai investasinya mencapai Rp 15 triliun itu menjadi pabrik satu-satunya yang memproduksi bahan baku tekstil secara terintegrasi. Mulai pembibitan pohon yang nanti kayunya dipanen sebagai bahan baku rayon hingga proses produksinya.

Kini kapasitas produksi viscose rayon APR tersebut mencapai 240.000 ton per tahun. APR menargetkan, kapasitas itu meningkat sampai 600.000 ton per tahun dalam beberapa tahun ke depan.

Suplai bahan baku APR terhadap industri TPT telah tersertifikasi secara nasional (Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu) dan internasional (Programme for The Endorsement of Forest Certification). Viscose rayon merupakan serat benang yang berasal dari olahan kayu dan dapat terurai secara alami.

Serat rayon produksi APR tergolong material berkelanjutan karena berasal dari bahan baku yang terbarukan. Pemerintah berharap komoditas tersebut bisa mengurangi ketergantungan TPT terhadap bahan baku impor.

Dari fasilitas baru yang menampung sekitar 1.500 tenaga kerja itu, APR diproyeksikan mampu menghasilkan devisa sampai USD 131 juta (sekitar Rp 1,8 triliun). Dari sana pula, pemerintah berharap bisa mendapatkan substitusi impor senilai USD 149 juta (sekitar Rp 2 triliun).

“Jadi, intinya, pabrik itu merupakan lompatan yang besar dan baik untuk ekspor maupun substitusi impor,” tegas Agus.

Kementerian Perindustrian mencatat bahwa kapasitas industri rayon nasional saat ini mencapai 857 ribu ton per tahun. Angka itu naik dari 536 ribu ton per tahun pada 2018.

Salah satu penyebabnya adalah investasi APR dan PT Rayon Utama Makmur melalui pabrik penghasil rayon. Bahkan, investasi dua perusahaan itu berpotensi menaikkan ekspor hingga USD 131 juta (sekitar Rp 1,8 triliun) per tahun.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat menyebutkan bahwa viscose rayon yang memiliki sifat alami dan mudah terurai akan sangat berguna bagi industri TPT tanah air.

“Jarang sekali saya mendengar ada produk tekstil yang everything Indonesia,” katanya. Karena itu, dia berharap rayon bisa menjadi produk dari Indonesia yang mendunia.

Terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita menyatakan bahwa pemerintah perlu melindungi industri TPT dari gempuran impor. Cara paling jitu untuk melakukannya adalah melahirkan kebijakan yang strategis.

Tren Industri TPT

Tahun | Pertumbuhan | Nilai Ekspor (dalam miliar USD)

2017 | 3,83 persen | 11,8

2018 | 8,73 persen | 13,8

2019 | 15,3 persen | 15

Sumber: Kemenperin

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (agf/c12/hep)



Close Ads