alexametrics

Omicron Meningkat, Lima Organisasi Profesi Medis Surati Empat Menteri

Desakan Evaluasi PTM Menguat
24 Januari 2022, 17:08:44 WIB

JawaPos.com – Desakan agar pemerintah mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terus menguat. Kali ini desakan itu disampaikan lima organisasi profesi (OP) medis. Mereka adalah Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular (Perki), serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Secara khusus pekan lalu mereka sudah berkirim surat ke empat kementerian, yaitu Kemendikbudristek, Kemenag, Kemenkes, dan Kemendagri. Dalam surat tersebut mereka meminta pemerintah mengevaluasi pelaksanaan PTM 100 persen untuk anak-anak di bawah usia 11 tahun. Di antara pertimbangannya adalah kepatuhan anak-anak usia 11 tahun ke bawah terhadap protokol kesehatan (prokes) masih belum 100 persen. Kemudian belum lengkapnya vaksinasi untuk anak-anak usia kurang dari 11 tahun.

”Laporan dari beberapa negara, proporsi anak yang dirawat akibat infeksi Covid-19 varian Omicron lebih banyak dibandingkan varian-varian sebelumnya,” kata Ketua Umum PDPI Dr dr Agus Dwi Susanto SpP(K). Selain itu, dilaporkan transmisi lokal varian Omicron di Indonesia terus meningkat, bahkan sudah ada kasus meninggal karena Omicron.

Ketua Umum Perki Dr dr Isman Firdaus SpJP(K) mengatakan, anak-anak potensial mengalami komplikasi berat. ”Yaitu multisystem inflammatory syndrome in children associated with Covid-19 (MIS-C),” ucapnya. Anak-anak juga berpotensi komplikasi long Covid-19 lainnya sebagaimana orang dewasa. Kondisi tersebut akan berdampak pada kinerja dan kesehatan organ tubuh lainnya.

Dari pertimbangan itu, lima OP medis tersebut mengajukan beberapa usul. Antara lain, anak-anak dan keluarga tetap diperbolehkan memilih PTM atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) berdasar kondisi dan profil risiko keluarga masing-masing. Kemudian, anak-anak yang memiliki komorbid diimbau memeriksakan diri terlebih dahulu ke dokter yang menangani.

Usul berikutnya, anak-anak yang sudah melengkapi imunisasi Covid-19 dan cakap dalam melaksanakan prokes dapat mengikuti PTM. Kemudian, mekanisme kontrol dan buka tutup sekolah seharusnya dilakukan secara transparan untuk memberikan keamanan publik.

Sementara itu, Prof Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan bahwa kematian dua WNI menunjukkan bahwa tidak semua infeksi Omicron adalah kasus ringan. ”Jadi, semua kita harus ekstrawaspada. Tentu tanpa perlu panik,” tutur guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut kemarin (23/1).

Editor : Ilham Safutra

Reporter : wan/tau/c9/oni

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads