alexametrics

Muhadjir Effendy, Wajah Lama di Kabinet Indonesia Maju Suksesor Puan

23 Oktober 2019, 13:16:22 WIB

JawaPos.com – Sosok Muhadjir Effendy bukan nama baru dalam pemerintahan. Dia bisa dibilang wajah lama di Kabinet Indonesia Maju. Sebelumnya dalam Kabinet Kerja periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dia bertugas sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kini Muhadjir kembali terpilih, namun dengan jabatan baru sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) yang sebelumnya dijabat Puan Maharani.

Posisi tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pengumuman Kabinet Indonesia Maju pada Rabu (23/10). Muhadjir diminta untuk meneruskan program revolusi mental yang digagasnya saat awal terpilih menjadi Presiden pada 2014 lalu.

“Muhadjir Effendy Menko PMK. Beliau akan mengawal akselerasi pengentasan kemiskinan, solidaritas nasional, dan revolusi mental,” ujar Presiden Jokowi.

Muhadjir dikenal sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 2016–2019. Saat itu, dia menggantikan posisi Anies Baswedan. Muhadjir adalah mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dia juga merupakan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Sebelumnya, pria kelahiran Madiun 29 Juli 1956 pernah menempuh pendidikan Short Course, Regional Security and Defence Policy, National Defence University, Washington D.C., USA, 1993. Lalu Short Course, Management for Higher Education, Victoria University, British Columbia, Canada, 1991.

Muhadjir juga memiliki beberapa catatan pengalaman organisasi. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Pengurus Pusat Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS-PTIS), Anggota Kelompok Kerja Dewan Research Daerah (DRD) Jawa Timur, Anggota Tim Penyusun Visi Indonesia Berkemajuan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Wakil Ketua Pengurus Pusat Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS).

Kebijakan Kontroversial

Muhadjir juga pernah melakukan gebrakan yang kontroversial. Salah satunya kebijakan program Full Day School. Konsep full day school merupakan gagasan dari Muhadjir saat menjabat sebagai Mendikbud dan belum genap sebulan menduduki jabatan tersebut saat itu. Mendikbud Muhadjir menegaskan, full day school bukan berarti belajar seharian, tetapi disertai dengan kegiatan-kegiatan positif yang sifatnya non-akademis.

Selain itu, program sistem zonasi masuk tahun ajaran baru sekolah juga menuai kritik sejumlah orang tua di beberapa daerah. Kebijakan ini dinilai tidak adil terhadap siswa, khususnya yang mendapatkan nilai baik tapi kalah bersaing dengan siswa yang nilainya biasa saja cuma karena lokasinya relatif lebih jauh dari sekolah.

Muhadjir yang menjadi sasaran kritik para orang tua dengan tegas mengatakan sistem zonasi adalah yang terbaik untuk memperbaiki sistem pendidikan. Menurutnya, sistem tersebut telah diterapkan di sejumlah negara sehingga dunia pendidikan mereka bisa merata dan maju seperti sekarang.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads