alexametrics

Fenomena Manusia Silver Mengemis di Jalan Wujud Eksploitasi Hak Anak

23 Juli 2022, 16:00:31 WIB

JawaPos.com – Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena manusia silver menjadi sorotan masyarakat karena kreasi mereka terlihat unik di pinggir jalan. Mereka sengaja mengecat tubuh mereka dengan cat warna silver metalic dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Mirisnya, kreasi itu dilakukan bukan sekadar ajang atraksi seni di jalan, melainkan untuk mengemis atau meminta uang dari masyarakat. Dalam rangka Hari Anak Nasional (HAN), fenomena itu tak sedikit pula yang membawa atau mengajak anak-anak termasuk balita untuk didandani menjadi silver atau perak lalu mengemis di jalan.

Sebetulnya, bagaimana fenomena manusia silver itu berawal? Di Eropa, fenomena ini sudah bukan hal yang baru. Di sana, para performer melakukannya sebagai atraksi seni.

Salah satunya pada tahun 2017, laporan Gigazine, menyebutkan salah satu penampilan manusia silver pernah dilakukan di pusat kota Covent Garden di pusat kota London, Inggris. Saat itu artis jalanan ‘Silverman’ beratraksi melayang ringan di udara dengan satu tangan dan membuat gerakan yang mustahil. Ada juga yang beratraksi dengan gerakan pantomim.

Di Indonesia, laporan Pusat Penyuluhan Sosial Kementerian Sosial menyebutkan, fenomena anak jalanan manusia silver ini dapat dilihat di persimpangan jalan, dan tempat keramaian lainnya. Mereka mencari nafkah di tempat tersebut, untuk bertahan hidup atau membantu kehidupan keluarganya. Fenomena manusia silver ini diperkirakan ada sejak tahun 2020 dan sering dijumpai pada sejumlah kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bodetabek, Bandung, Jogjajarta, Surabaya. Para manusia silver ini beragam mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, ada yang laki-laki dan ada pula yang perempuan.

 

Jadi Ajang Eksploitasi Anak

 

Pengamat Sosial dan Pengajar Tetap Vokasi Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengatakan kemunculan manusia silver ini menjadi bukti bahwa ada kesalahan pada institusi sosial dalam ruang lingkup paling kecil yakni keluarga. Ketika ada embel-embel mengajak anak untuk mendapatkan uang, Devie menilai hal itu sebagai bentuk eksploitasi.

“Kata kuncinya bukan dalam bentuk eksploitasi anak untuk kepentingan ekonomi,” tegas Devie kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Menurut Devie, fenomena manusia silver menunjukkan bahwa anak masih belum mendapatkan perlindungan oleh orang dewasa. Dalam hal ini yang salah adalah orang-orang dewasa.

“Kita lihat bukan hanya persoalan manusia silver, baru-baru ini kita lihat ada anak-anak yang tidur di jembatan Dukuh Atas. Ini anak-anak yang jelas orang tuanya masih ada. Ini terjadi bukan salah anak-anaknya, tapi cara pandang orang tua yang tak memahami, bahwa anak bukanlah sebuah objek,” kata Devie.

Dia menambahkan ada dua konsep yang berbeda dalam hal orang tua mendidik anaknya. Pertama yakni ada orang tua yang memiliki cara memberikan kasih sayang pada anak dengan memberikan semua materi konsumsi yang dibutuhkan anak, yang belum tentu apapun yang dibutuhkan anak. Kedua, di sisi lain, ada orang tua yang kemudian membiarkan atau sengaja mengeksploitasi anak.

“Karena negara sudah berusaha keras. Dinas Sosial sudah terus merangkul anak-anak tersebut, lalu memastikan kembalikan anak-anak ke keluarganya, tapi pada akhirnya tetap berada di jalanan. Ini jadi perhatian kita bersama. Yang jadi PR bersama adalah kembali ke pola asuh kearifan sosial masyarakat kita ke masa lalu,” jelas Devie.

“Ada orang tua yang beranggapan bahwa anak memiliki tanggung jawab atas hidup orang tua. Kondisi anak seringkali dalam posisi tak selayaknya, ini sebenarnya adalah kegagalan institusi sosial yakni keluarga,” tambahnya.

Pengaruh modernitas, kata dia, membuat pola asuh orang tua itu bergeser, dari pola asuh metode pendekatan komunikasi keluarga yang hangat atau dari yang sifatnya tak bersifat material, kini bergeser ke arah material. Menurut Devie, sebagian orang tua sudah merasa jadi orang tua terbaik ketika sudah memberikan hal-hal materi yang terbaik.

“Merasa baik jika sudah memberikan HP paling bagus untuk anak-anaknya, berikan motor terbaik, atau pakaian terbaik. Tapi di satu sisi orang tua melihat anak sebagai beban. Terbukti anak masih diminta mandiri membiayai kehidupan keluarga, dengan meminta mereka bekerja di usia dini, anak dieksploitasi,” jelasnya.

 

Solusinya Jika Anak Terlanjur Nyaman di Jalan

 

Fenomena manusia silver, kata Devie, di seluruh dunia juga ada. Di Indonesia, hal ini menjadi bagian dari aksi meniru atau mencontoh orang dewasa.

“Anak-anak hanya meniru orang dewasa dengan mencari uang di jalanan, lalu lakukan aktivitas seni menari dengan menghiasi tubuhnya dengan warna-warna tertentu, sebagai bagian atraksi untuk dapatkan perhatian dari publik,” jelas Devie.

Berbeda ketika anak-anak mengecat tubuhnya karena untuk beratraksi di panggung sekolah dalam rangka pertunjukan seni. Akan tetapi ketika anak sudah disuruh mencari uang dengan mendandani dirinya sebagai manusia silver, Devie menilai itu adalah wujud eksploitasi.

“Membekali anak dengan kehidupan berkesenian itu baik sekali selama tidak dalam rangka eksploitasi ekonomi atau melanggar hak-hak anak,” tegasnya.

Bagaimana jika sudah terlanjur nyaman di jalan?

“Namanya anak itu harus dikendalikan. Anak belum mampu memiliki keputusan. Anak tak dalam rangka mengambil keputusan, karena anak sedang bertumbuh secara mental fisik psikologis belum sempurna, harus didampingi orang tua,” tegas Devie.

Solusinya, kata dia, tunjukkan kasih kepada anak bukan berarti memanjakan anak atau bukan mengeksploitasi anak atas nama alasan apapun. Dan ketika anak bermasalah bukan menghukum tapi merangkul mereka.

“Kalau dalam rangka kasih sayang, ya kita berikan, jangan cari di jalanan. Negara sudah berikan mekanisme sekolah gratis, itu tinggal disosialisasikan lebih lanjut sehingga tak ada anak kehilangan haknya untuk belajar dan masa tumbuh kembang sempurna sebagai anak,” tutup Devie.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini: