alexametrics

Angka Perundungan Anak Tinggi, Simak Pesan KPAI Untuk Para Orang Tua

23 Juli 2019, 17:18:11 WIB

JawaPos.com – Masalah perundungan masih menghantui bagi anak-anak di Indonesia. Padahal, hari ini Selasa (23/7) bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional. Sehingga, peran orang tua sangatlah diperlukan di era milenial ini. Karena dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 6 bulan pertama tahun 2019 sudah tercatat korban perundungan ada 13 anak dan 13 pelaku.

7 anak diantaranya menjadi korban bullying di sekolah dan 6 anak menjadi korban bully di media sosial. Sedangkan pelaku bully di sekolah hanya 1 anak dan 12 lainnya di media sosial. Angka itu sebetulnya masih jauh di bawah data 2018 lalu. Sebab selama setahun anak yang menjadi korban bully di sekolah mencapai 107 orang dengan pelaku 127 orang. Sedangkan yang menjadi korban bully di media sosial berjumlah 109 anak, dengan pelaku 112 orang.

Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati mengatakan, perundungan jenis apapun tidak boleh ditolelir. perbuatan tercela itu sangat diharamkan meskipun hanya menimpa 1 orang. Oleh karena itu ada beberapa aspek untuk mencegah terjadinya bullying kepada anak. Pertama dari lingkungan sekolah harus memiliki komitmen penuh dalam mencegah terjadinya perundungan pada anak. “Sebetulnya pencegahan ini juga terkait treatment pola asuh orang tua. Orang tua itu penting sekai mengajarkan anak asertif kemudian komunikatif dan percaya diri,” kata Rita di kantor KPAI Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (23/7).

Dengan berbekal 3 kemampuan dasar tersebut, anak akan sadar betapa bahanya melakukan bully. Akibatnya anak tidak akan melakukan tindakan itu kepada orag lain. Atau sebaliknya, apabila dia sendiri yang menjadi korban bully, dia tidak akan mudah terpancing. “Masalahnya sebagain orang tua itu sangat directif dari pagi itu sudah ada urutannya anak melakukan apa. Jadi anak nggak bisa berpendapat. Salah satu prinsip perlindungan itu mendengarkan pendapat anak,” imbuhnya.

Dengan gaya orang tua seperti ini, lanjut Rita, akan membuat anak terkekang oleh aturan orang tuanya. Imbasnya membuat anak tidak percaya diri. Serta kehilangan kemampuan menyelesaikan masalah sendiri. “Orang tua kan nggak bisa nememin anak 24 jam. Itu prinsip anak bahwa dia harus mampu menyelesaikan masalah, komunikasi yang baik, itu skill yang harus diberikan kepada anak,” tambahnya.

Selain itu, di era digitalisasi seperti sekarang, orang tua juga harus mamlu mengontrol penggunaan gadget pada anak. Mereka harus diajarkan bagaimana rambu-rambu dan etika dalam komunikasi di dunia maya.

Dampak positif dan negatif kemajuan teknologi harus dijelaskan kepada anak. Supaya anak tidak menelan mentah-mentah semua konten yang dilihatnya. Termasuk wkatu penggunaan gadget juga harus diatur. “Bagaimana etika berkomunikasi di sosial media itu menjadi penting. Sesekali penting juga untuk melihat sosial media dan platform lainnya yang dimiliki anak,” ungkap Rita.

Dengan demikian, orang tua bisa melihat aktivitas anak di media sosial. Sehingga bisa menghindari kejahatan dunia maya. KPAI juga meminta kepada orang tua supaya tidak memberikan gadget atau membuatkan akun media sosial kepada anak di bawah umur. Minimal anak harus berusia di atas 13 tahun untuk mulai beraktivitas di dunia maya. Selain itu, motif memberikan gadget kepada akan juga harus jelas sebagai sarana komunikasi, bukan hanya sebatas gengsi atau memanjakan anak.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Sabik Aji Taufan


Close Ads