JawaPos Radar | Iklan Jitu

Minim Guru Kompeten, Beban Berat Lulusan SMK Penuhi Kebutuhan Industri

23 Februari 2018, 15:34:39 WIB | Editor: Estu Suryowati
SMK, STM, mesin, MEA
Siswa SMKN 12 Surabaya praktik di bengkel. (Frizal/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com – Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) Ridwan Hisjam mengatakan, minimnya guru yang kompeten menjadi salah satu masalah dalam pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia.

Permasalahan ini terungkap dari dialog antara Komisi X DPR-RI dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), awal September 2017.

“Jumlah produktif hanya 22 persen dari jumlah guru yang dibutuhkan. Ini masalah yang sangat mendasar dan harus diperhatikan pemerintah,” katanya di Jakarta, Jumat (23/2).

Menurut Hisjam, permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah belum serius dalam mengimplementasikan amanat Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK.

Hisjam mengatakan, minimnya guru yang kompeten dapat berdampak terhadap rendahnya kualitas mengajar. Rendahnya kualitas mengajar pada akhirnya berdampak terhadap keahlian lulusan SMK yang dituntut siap pakai di dunia industri.

“Jika begitu (permasalahannya), beban yang dipikul lulusan SMK menjadi berat. Guru banyak tidak kompeten. Tetapi, siswa dituntut dapat menjawab kebutuhan industri,” ujar politisi Partai Golkar itu.

Atas dasar itu, Hisjam berpendapat, SMK perlu membangun lebih banyak kemitraan dengan dunia industri. Dengan demikian para siswa lebih banyak terbantu dalam praktik industri.

Selain itu, Hisjam juga meminta agar para guru dan kepala sekolah SMK lebih inovatif dalam mendorong tumbuhnya jiwa kewirausahaan siswa.

“Jangan diartikan Kepala SMK harus punya bakat berwirausaha ya. Tetapi, bagaimana mereka bisa membuat kebijakan dan program di sekolahnya untuk meningkatkan jiwa usaha anak,” pungkas Hisjam.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up