alexametrics

Ujung Selatan Indonesia Dijaga Jenderal Soedirman

22 Agustus 2017, 19:48:32 WIB

JawaPos.com- Sang jenderal tegak menghadap ke selatan. Tangan kanannya memegang tongkat, tangan kirinya memegang dada. Seolah berkata kepada negeri tetangga, ’’Jangan macam-macam, ini wilayah kami.’’

Maklum, Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam wujud patung setinggi 10 meter itu berdiri di Ndana, pulau paling selatan Indonesia yang berbatasan dengan Australia. Secara administratif masuk Kabupaten Rote Ndao, Ndana menjadi alat ukur dalam menentukan batas Indonesia dan Negeri Kanguru. Pulau seluas 13 kilometer persegi itu tidak berpenghuni.

Hanya ada sejumlah pasukan pengamanan pulau terluar yang tinggal dan menjaganya. Sekitar dua pekan lalu, tepatnya 1 Agustus, satgas pengamanan pulau terluar di Ndana baru saja melakukan pergantian personel. Mereka akan berada di sana hingga sembilan bulan ke depan.’’Kami satgas yang ke-20,’’ terang Kapten (Mar) Lukman Susanto, komandan kompi satgas tersebut.

Ndana hanya bisa dijangkau dengan perahu motor dan kapal nelayan. Kapal besar tak bisa merapat. Daratannya terdiri atas sabana dan hutan di bukitnya yang kecil. Di tengahnya ada sebuah danau kecil, tetapi cukup sulit dijangkau.

Sedangkan pantainya, seperti kebanyakan pantai di Pulau Rote, cantik berpasir putih yang memanjang memanjakan mata. Hanya, cukup rawan untuk berenang di pantai tersebut karena langsung berbatasan dengan Samudra Hindia dengan kedalaman 4.000 meter.

Di pulau tersebut juga terdapat kawanan rusa yang hidup liar. Namun, kini jumlahnya diperkirakan tinggal sedikit. Saat Jawa Pos datang ke pulau tersebut pada Minggu (13/8), tidak tampak satu pun rusa.

’’Kami pun jarang sekali melihatnya. Hanya malam kadang mereka keluar hutan. Siangnya bersembunyi,’’ lanjut Lukman.

TNI menempatkan 34 tentara di pulau tersebut. Terdiri atas 24 personel Yonif 5 Marinir dan 10 personel Yonif Rider Khusus 744 Atambua.

Namun, tujuh personel di antara mereka ditempatkan di Desa Oeseli yang menjadi akses utama menuju Pulau Ndana. Mereka bertugas memenuhi kebutuhan logistik personel di pulau itu.

Selain pasukan pengamanan pulau terluar, ada tiga personel TNI-AL yang ditempatkan di pos AL pulau tersebut. Pos AL itu berjarak sekitar 400 meter dari kompleks pos pengamanan pulau terluar. Patung Jenderal Soedirman pun berada di sebelah pos AL tersebut.

Pos pengamanan pulau terluar memiliki bangunan yang sudah cukup baik meski tampak jelas bahwa memang perlu perbaikan. Bangunan utama memanjang ke samping sepanjang 30 meter dengan lebar bangunan 10 meter. Di situlah para prajurit tinggal. Di sekitarnya terdapat bangunan dapur, musala, hingga gudang perahu.

Setiap hari ada tim yang bergantian patroli keliling pulau. Baik lewat darat maupun laut. Tersedia dua perahu karet yang biasa digunakan untuk patroli air. Terutama mengantisipasi masuknya nelayan asing atau adanya nelayan lokal yang menggunakan bom untuk menangkap ikan. Sementara itu, militer Australia selama ini tidak pernah terlihat mendekat.

Biasanya, tutur Lukman, militer Australia hanya berpatroli sampai garis batas zona ekonomi eksklusif (ZEE). Bila ada pelanggaran, bisa dipastikan pihak TNI-AL di Kupang akan langsung tahu. Karena itulah, biasanya militer kedua negara hanya berpatroli di wilayah ZEE masing-masing.

Sebagaimana halnya pulau-pulau terluar lainnya, kendala utama di Pulau Ndana adalah ketersediaan air tawar. Untung, di belakang pos pengamanan terdapat sumur. Meski airnya payau, setidaknya keperluan MCK masih bisa terpenuhi. Sementara itu, air untuk minum dan memasak disuplai dari Pulau Rote.

Biasanya, tutur Lukman, seminggu sekali ada suplai logistik dari tim yang ditempatkan di Oeseli, menggunakan kapal nelayan. Yang paling dikhawatirkan adalah bulan Desember, saat musim angin barat dan laut jadi lebih gampang mengamuk.

Dalam kondisi seperti itu, sangat mungkin suplai logistik terhenti karena tidak ada yang berani melaut. Sebagai antisipasi, para prajurit dibekali makanan kaleng siap saji yang biasa digunakan untuk operasi.

Pos tersebut dilengkapi sumber listrik tenaga surya yang penggunaannya dihemat. ’’Hanya saat siang saya izinkan untuk men-charge ponsel dan radio komunikasi,’’ terang Lukman. Sementara itu, bila malam, barulah mereka bisa menikmati siaran televisi. Pos tersebut juga didukung jaringan wifi.

Televisi, wifi, dan olahraga menjadi hiburan untuk membunuh rasa jenuh. Ada dua olahraga favorit para prajurit. Yakni, futsal dan voli pantai. Tugas para prajurit cukup banyak terbantu para nelayan. Sesuai dengan kesepakatan, para nelayan yang melintas di pantai depan pos jaga harus merapat dan melapor ke pos.

Itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya nelayan tak dikenal yang masuk ke perairan Ndana. Mereka juga selalu melapor bila saat mencari ikan melihat kapal yang tidak dikenal.

Editor : Miftakhul F.S

Reporter : (byu/c5/ttg)

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads
Ujung Selatan Indonesia Dijaga Jenderal Soedirman