alexametrics

Wapres Sebut Hanya 9,7 Persen Angkatan Kerja Nikmati Pendidikan Tinggi

22 Juli 2020, 11:21:58 WIB

JawaPos.com – Akses pendidikan tinggi di Indonesia masih rendah. Khususnya di angkatan kerja. Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyebutkan hanya 9,7 persen angkatan kerja yang berkesempatan menikmati pendidikan tinggi dan lulusan perguruan tinggi.

Data tersebut dia sampaikan saat memberikan pidato dalam wisuda Universitas Terbuka (UT) periode II 2020 yang digelar secara virtual Selasa (21/7). Ma’ruf menjealskan berdasarkan data survei angkatan kerja nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2019 lalu, ada 126,57 juta penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja.

’’(Dari jumlah itu, Red) hanya sekitar 12,27 juta atau hanya 9,7 persen yang berkesempatan menikmati pendidikan tinggi dan merupakan lulusan universitas,’’ katanya. Untuk itu Ma’ruf menyampaikan bahwa mahasiswa UT yang diwisuda itu adalah kelompok elit dalam stuktur masyarakat Indonesia.

Dengan kondisi minimnya akses pendidikan tinggi itu, Ma’ruf menjelaskan Indonesia menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Dia menjelaskan SDM unggul merupakan kunci untuk memenangkan persaingan global. Untuk itu Ma’ruf mengatakan peningkatan SDM unggul menjadi program prioritas pemerintah.

Menurutnya salah satu kriteria SDM unggul adalah tingkat produktivitas. Sayangnya tingkat produktivitas SDM Indonesia saat ini bukan yang terbaik di ASEAN. Berdasarkan data The Asian Productivity Organization (APO) 2019 lalu, posisi produktivitas per pekerja Indonesia berada di peringkat kelima dari sepuluh negara ASEAN yang tergabung di APO.

’’Produktivitas per pekerja Indonesia berkisar USD 26 ribu,’’ katanya. Jumlah tersebut hanya seperlima dari produktivitas per pekerja di Singapura. Produktivitas per pekerja di negara yang mengalami resesi akibat Covid-19 itu mencapai USD 142.300.

Produktivitas per pekerja Indonesia juga masih kalah jauh dibandingkan Malaysia. Di negeri jiran itu, produktivitas per pekerjanya mencapai USD 60 ribu. Dari data tersebut, Ma’ruf mengatakan peningkatan kapasitas SDM Indonesia harus terus dipacu.

Untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi sekaligus mengatrol produktivitas itu, layanan pendidikan tinggi harus diperluas. ’’Lembaga pendidikan, termasuk Universitas Terbuka turut memikul tanggung jawab besar dalam upaya tersebut,’’ tuturnya.

Rektor UT Ojat Darojat menuturkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi sekitar 34 persen. Angka ini dihitung dari penduduk usia 19 tahun sampai 23 tahun. ’’Ini tantangan kita,’’ katanya.

Ojat mengatakan ada sejumlah faktor masih rendahnya APK pendidikan tinggi di Indonesia. Diantaranya adalah faktor ekonomi. Pemerintah sudah menyiapkan alokasi beasiswa, tetapi tidak cukup untuk seluruh masyarakat usia kuliah.

Selain itu juga ada hambatan jarak. Umumnya perguruan tinggi ada di ibukota provinsi atau ibukota kabupaten dan kota. Sehingga banyak masyarakat usia kuliah di pedasaan yang bisa mengakses pendidikan tinggi karena jarak.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Hilmi Setiawan

Saksikan video menarik berikut ini: