JawaPos Radar

22 Menit: Tito Jadi Teman Kapolri, Krisna Jadi Penjual Sate yang Kaku

22/07/2018, 17:20 WIB | Editor: Yusuf Asyari
22 Menit: Tito Jadi Teman Kapolri, Krisna Jadi Penjual Sate yang Kaku
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjadi pemeran pendukung di film 22 Menit (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Masih ingat dengan peristiwa bom di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis, 14 Januari 2016? Pasalnya, banyak cerita di balik serangan teroris yang berafiliasi dengan ISIS itu.

Hingga akhirnya, peristiwa ini diangkat dalam sebuah film berjudul 22 Menit. Karya Eugene Panji dan Myrna Paramita tersebut rilis pada 19 Juli 2018 kemarin.

Film berdurasi 71 menit ini benar-benar menggambarkan situasi di dua lokasi ledakan bom. Film ini juga tak lepas dari romansa seorang petugas kepolisian lalu lintas bernama Firman yang diperankan Ade Firman Hakim yang tengah diacuhkan pacarnya.

Ada adegan menarik yang diperankan Firman di balik romansanya. Yaitu, ketika dia menilang dua orang yang berboncengan menggunakan sepeda motor di kawasan tersebut.

Ternyata yang ditilang adalah Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan istrinya, Tri Suswati. Tampil sporty mengenakan kaos putih bercorak, celana panjang abu-abu, dilengkapi topi berwarna cokelat susu, Tito memerankan pengendara motor yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas.

Bersama istrinya yang memakai setelah baju olahraga hitam, kerudung putih, dan juga topi putih, Tito tidak memakai helm saat berkendara.

Dia lantas dihampiri dan ditegur Briptu Firman, serta diminta untuk menunjukkan surat-suratnya. Tito lalu bertanya mengapa dia diberhentikan. "Salah saya apa Pak?" tanya dia.

Firman pun menjelaskan bahwa Tito tidak memakai kelengkapan seperti helm saat berkendara. Istri Tito, Tri kemudian meminta agar mereka tidak ditilang. "Jangan ditilang dong Pak, kita kan temennya Pak Kapolri nih Pak, liat tuh," kata Tri.

Tentu, adegan ini pasti menarik perhatian para polisi dan masyarakat yang menontonnya. Bahkan saat JawaPos.com yang berkesempatan nonton bersama jajaran Divisi Humas Polri di hari pertama rilis film, semua yang menyaksikan adegan tertawa.

Sebagaimana diketahui, pada saat kejadian bom Thamrin, Tito tengah menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya. Berada di lokasi dengan cepat sesaat ledakan terjadi sekitar pukul 10.39 WIB di kedai kopi Starbucks, Theater Djakarta.

Dilanjutkan sebelas detik kemudian di pos polisi di depan Gedung Sarinah, Tito memimpin aksi penyergapan para teroris yang masih berada di kawasan tersebut.

Adegan lain dalam film ini yang menarik perhatian yakni ketika Karomisinter Divhubinter Polri Brigjen Pol Krisna Murti muncul sebagai penjual sate yang sempat viral di kawasan Sarinah. Bahkan, diceritakan dia sempat melayani salah satu terduga teroris di tenda satenya.

Kendati menjadi saat melayani pembeli sebagai penjual sate, Krisna tetap terlihat kaku dan tidak bisa lepas dari statusnya sebagai sosok polisi yang tegas.

Adapun dalam kejadian bom Thamrin, Krisna yang saat itu menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya juga ikut dalam penyergapan para teroris di bawah pimpinan Tito.

Dirinya sempat viral, itu karena penampilannya yang dinilai keren di mata para netizen wanita. Dalam aksinya kala itu, Krisna memakai kaos berwarna biru gelap dilapisi rompi anti peluru, serta kaca mata hitam.

Di sisi lain, di balik penampilan kedua jenderal itu, ada satu anggota Polri yang juga sempat viral dan menuai beragam pujian dari masyarakat atas aksi heroiknya. Yakni Ahmad Untung Suriansyah atau Untung Sangaji. Sayangnya, dia tidak memerankan apapun di film ini.

Kendati demikian, aksinya melumpuhkan para teroris menjadi cerita utama dalam film 22 Menit. Aktor kawakan Ario Bayu lah yang memerankannya.

Adapun Untung pada 14 Januari 2016 lalu, viral lantaran dirinya terekam melumpuhkan dua teroris yang berada di halaman parkir warung kopi Starbucks. Dia melumpuhkannnya tanpa mengunakan pengaman apapun di tubuhnya selain pistol yang dipegangnya.

Sebelum mengejar teroris itu, Untung juga terlihat yang pertama kali menghampiri pos polisi yang dilempar bom dan mengecek keadaan, serta membantu polantas yang terkena ledakan.

Sekadar informasi, setidaknya ada 21 korban akibat kejadian bom Thamrin ini. Delapan diantaranya meninggal dunia, terdiri dari empat pelaku dan empat warga sipil. Sementara sisanya menderita luka-luka.

Adanya film 22 Menit, untuk menunjukkan bahwa masyarakat tidak pernah takut dengan aksi teror dan akan melawannya. Polisi pun dengan siap siaga melindungi masyarakat dalam sejumlah aksi kejahatan. Seperti halnya aksi bom Thamrin yang dapat dikondusifkan dalam waktu 22 Menit.

(dna/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up