JawaPos Radar

BMKG Tegaskan Guncangan 7 SR di Lombok, Aktivitas Gempa Baru

20/08/2018, 12:03 WIB | Editor: Kuswandi
Seismograf
Ilustrasi seismograf (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan, gempa bumi di berkekuatan 7,0 SR yang terjadi di Lombok, NTB Minggu (19/8) pukul 22.55 WIB merupakan aktivitas baru. BMKG membantah kalau gempa tersebut sama dengan gempa yang terjadi (5/8) lalu.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, hal ini ditunjukkan dari pemantauan lokasi episenter gempa bumi Magnitudo 6,9 yang terletak di ujung timur Pulau Lombok, diikuti sebaran episenter gempa yang mengikutinya yang membentuk kluster episenter dengan sebaran ke arah timur hingga di sebelah utara Sumbawa Barat.

"Maka dapat disimpulkan bahwa gempa yang terjadi merupakan aktivitas gempa baru yang berbeda dari gempa berkekutan M=7,0 yang terjadi pada 5 Agustus 2018," ujar Dwikorita dalam keterangan yang diterima JawaPos.com, Senin (20/8).

Meskipun seluruh aktivitas gempa yang terjadi berkaitan dengan struktur geologi sesar naik Flores, Dwikorita menyebutkan antara gempa 7,0 SR pada 5 Agustus 2018 lalu, dan gempa 7,0 SR yang terjadi Minggu (18/8) sekitar pukul 21.56 WIB memiliki bidang deformasi yang berbeda.

"Hasil analisis mekanisme sumber gempa bumi ini menunjukkan gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," jelasnya.

Bahkan, Dwikorita menyampaikan sesuai laporan masyarakat dan analisis peta guncangan, terdeteksi guncangan dirasakan di daerah Lombok Utara dan Lombok Timur mencapai VI-VII MMI. Sedangkan, daerah Lombok Barat, Mataram, Praya dan Sumbawa memiliki intensitas V-VI MMI.

"Guncangan juga dirasakan di Denpasar dan Waingapu dengan skala III-IV MMI, di Ruteng dengan skala II-III MMI, di Makassar I-II MMI," terangnya.

Skala intensitas VI-VII MMI artinya struktur bangunan standar dapat mengalami rusak sedang dan bangunan tidak standar dapat mengalami rusak sedang hingga berat. Sedangkan skala intensitas III-IV MMI artinya semua orang merasakan, namun belum terjadi kerusakan, tapi dalam kondisi bangunan yang sudah terguncang beberapa kali bisa saja menimbulkan kerusakan.

"Hingga tanggal 20 Agustus 2018 pukul 01.25 WITA, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 22 aktivitas gempa susulan (aftershock), diantaranya 3 gempa bumi dirasakan," tuturnya.

"Masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," pungkasnya.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up