alexametrics
Sidang Sengketa Pilpres MK

Caleg PBB Beri Kesaksian untuk 02, Catut Nama Moeldoko dan Ganjar

20 Juni 2019, 02:15:18 WIB

JawaPos.com – Sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK) terus berlanjut meski sudah berganti hari. Pada Kamis (20/6) dini hari, Tim Hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menghadirkan saksi fakta Haerul Anas Suaidi. Dia adalah caleg dari Partai Bulan Bintang (PBB) pada Pemilu 2019.

Dalam kesaksiannya, Haerul mengaku pernah diwakilkan oleh PBB untuk mengikuti pelatihan saksi Pemilu 2019. Tempatnya, di hotel kawasan Kelapa Gading. Dia ingat, pelatihan itu digelar pada 20-21 Januari silam.

“Training oleh TKN (Tim Kampanye Nasional). Saya diutus sebagai wakil PBB,” ujar Haerul di Gedung MK, Jakarta, Kamis (20/6) dini hari.

Haerul yang mulai memberikan kesaksian sekitar pukul 01.00 itu menuturkan, sebenarnya dia berat hati menyampaikan keterangan kepada majelis hakim MK. Namun alasan ingin mewujudkan Pemilu 2019 yang bersih, jujur dan adil dia memilih buka suara. Menurut Haerul, adanya dugaan kecurangan pada pemilu.

Hearul menuturkan, saat dua hari mengikuti pelatihan tersebut dirinya ingat betul ada yang aneh. Dikatakannya, ada materi tentang kecurangan yang dalam pelatihan itu disebut sebagai bagian dari demokrasi di Indonesia.

“Materi ini diupload ke suatu drive dan ditayangkan pada saat Bapak Moeldoko kalau tidak salah,” kata Caleg DPR RI dari Dapil Jawa Timur 11‎ yang meliputi seluruh Madura itu.

Materi yang disampaikan oleh Ketua Harian TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Moeldoko itu membuat dirinya kaget. Sebab, Moeldoko berpendapat kecurangan adalah hal yang biasa saja bagi di Indonesia. Apalagi, negara ini menganut sistem demokrasi ini.

“Teman-teman saya juga kaget kalau ini bagian dari demokrasi. Maka ‎kami keberatan sebetulnya. Dan saya merasa tidak nyaman. Tapi karena ditugaskan partai, saya ikuti sampai selesai,” ungkapnya.

Lebih lanjut pegawai swasta itu mengatakan, ada hal yang membuatnya terpukau saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hadir dalam pelatihan saksi. Awal mula acara ditunjukan statistik‎ dari Ganjar Pranowo. Lalu, Ganjar aparatur negara sebaiknya tidak netral.

“Itu yang saya ingat. Aparatur ya sebaiknya tidak netral. Beberapa kali disampaikan kalau netral buat apa,” ingat Haerul.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Gunawan Wibisono