alexametrics

Indeks Pencemaran Udara Palembang Berada di Level Berbahaya

19 September 2019, 21:45:32 WIB

JawaPos.com – Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) melakukan kolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menelisik kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Merujuk pada data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga saat ini, jumlah hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Indonesia mencapai 328.722 hektare dengan luas daerah bahaya hingga 86.455.896 hektare.

Kepala Informasi Pusat Perubahan Iklim BMKG, Dodo Gunawan mengatakan, tingginya peristiwa karhutla dipengaruhi oleh puncak kemarau yang tengah berlangsung dan ditambah fenomena el Nino. Pantauan BMKG pada Kamis (19/9) pada pukul 08.00 WIB, kualitas udara di Kota Pekanbaru dan Riau berada pada level tidak sehat.

“Pagi ini kualitas udara dengan kosentrasi PM10 atau partikulat yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron, berada di sangat tidak sehat. Kota lain di Sumatera, seperti Jambi, kualitas masih berada di level sedang,” kata Dodo dalam keterangannya, Kamis (19/9).

Sementara itu, di Palemabng, grafik yang dipublikasi BMKG menunjukkan kenaikan level Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dan kini berada di level berbahaya. “Jadi, saat ini musim kemarau, kondisinya kering, tidak ada hujan, dan kondisi ini juga cukup panjang. Jadi, dengan kondisi seperti itu, dapat memicu mudahnya lahan terbakar,” ujar Dodo.

Dodo menyampaikan, sejauh ini pemerintah sudah merespons kabut asap dengan membuat hujan buatan, ataupun mengadakan pemadaman langsung, dan water bombing. “Bila hujan datang maka akan sangat efektif menghadapi kondisi sekarang. Di lahan yang sifatnya gambut, kalau kurang air untuk memadamkannya, cuma permukaannya saja yang padam, tapi di bawahnya masih tetap ada api,” jelas Dodo.

Sementara itu, Tim Medis Aksi Cepat Tanggap (ACT) Muhammad Riedha menilai, kabut asap yang terjadi di sebagian Sumatera dan Kalimantan saat ini sangat berbahaya bagi kondisi kesehatan masyarakat. Asap yang menyebar dapat menimbulkan efek langsung pada kesehatan.

“Dampaknya bisa berpengaruh pada iritasi mata, hidung, tenggorokan, juga alergi kulit,” terang Riedha.

Selain itu, infeksi saluran pernapasan atau ISPA dan penyakit alergi seperti asma juga lebih mudah muncul. Dampak asap terhadap kesehatan juga sangat berpengaruh pada kelompok usia rentan seperti bayi-balita, orang lanjut usia, ibu hamil dan menyusui.

Asap yang mengandung polutan berbahaya dapat berpengaruh pada kesehatan mereka. “Selain melalui udara yang dihirup alat pernapasan, polutan yang terbawa asap bisa juga jatuh ke aliran air atau makanan yang kemudian dikonsumsi makhluk hidup,” urai Riedha.

Saat ini, tim medis ACT sedang melakukan pelayanan medis bagi warga terdampak bencana kabut asap di Riau dan Kalimantan Barat. Tak hanya itu, tim tanggap darurat hingga posko bencana asap ACT juga turut bersiaga. Hal ini sebagai bukti nyata ACT dalam proses pemadaman api serta menampung bantuan dari masyarakat untuk kemudian disalurkan ke warga terdampak.

“Kampanye #BantuMerekaBernapas menjadi semangat dalam menghidupkan kembali kebersamaan dalam aksi-aksi kebaikan. Semangat kebersamaan ini yang akan terus dihidupkan melalui Gerakan Nasional #IndonesiaDermawan yang digalakkan oleh ACT dengan mengajak seluruh bangsa untuk memberikan kontribusi terbaiknya,” tukasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Muhammad Ridwan



Close Ads