alexametrics

Buya Syafii: Politisi Belum Siap Naik Kelas

19 Februari 2018, 20:10:59 WIB

JawaPos.com – Ideologi yang mengedepankan kekerasan dan adanya ketimpangan sosial ekonomi yang cukup tajam, dianggap menjadi persoalan utama munculnya banyak kekerasan menyangkut Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) beberapa waktu belakangan ini.

Adanya tahun politik, dirasa membuat situasi dan kondisi cukup mendukung. Terlebih ketika isu SARA tersebut dipergunakan oleh para politisi untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

Hal itu diungkapkan oleh mantan Ketua PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif saat ditemui di kediamannya, Perumahan Nogotirto Elok II Jalan Halmahera D 76, Nogotirto, Gamping, Sleman, Senin (19/2) sore.

“(Penyerangan) tidak hanya gereja, tapi masjid juga. Penyebabnya hanya satu, ideologi yang mengajarkan kekerasan dan ketimpangan sosialnya masih tinggi,” tandasnya.

Menurut dia, politisi belum siap untuk naik kelas menjadi negarawan ketika isu SARA diangkat sebagai alat kampanye dalam menghadapi tahun politik nanti. Mereka hanya berpikiran jangka pendek, mementingkan pribadi dan golongan partainya dengan mengorbankan bangsa dan negara.

“Kami mengimbau tidak hanya kepada politisi saja, tapi juga kepada konglomerat dan pengusaha. Bahwa ketimpangan sosial ekonomi itu masih sangat tajam,” ucapnya.

Isu yang menyangkut SARA itu seperti penyerangan yang terjadi di Gereja Katolik Santa Lidwina di Kabupaten Sleman pada Minggu (11/2) lalu. Ia berharap semua pihak harus menghadapinya dengan akal sehat.

Sementara Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengatakan, sejak awal sudah memaafkan tindakan yang dilakukan oleh pelaku. Ia juga meminta kepada jemaat untuk tidak dendam dan mendoakan agar lebih baik.

“Sejak awal kami sudah memaafkan untuk tidak membalas. Kita doakan kebaikan kepada pelaku, dan kecintaan,” ucapnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (dho/JPC)



Close Ads
Buya Syafii: Politisi Belum Siap Naik Kelas