JawaPos Radar | Iklan Jitu

Sekjen Fornas: Wajar Banyak yang Tolak Wacana 'Orde Baru'

18 Desember 2018, 08:41:51 WIB
Jokowi Ma'ruf
Paslon nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf Amin dinilai memiliki komitmen untuk membawa bangsa ini maju ke depan. (Fedrik Tarigan/JawaPos)
Share this

JawaPos.com - Wacana mengembalikan Indonesia ke zaman Orde Baru adalah sesuatu yang kurang elok. Pasalnya, kendati tak menafikan peran Soeharto dalam membangun negeri, ada sejumlah catatan kelam pada masa itu.

Mulai dari pembungkaman aktivis, pers, hingga praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Maka kemudian, menjadi wajar ketika banyak pihak yang menolak.

Pernyataan tersebut dilontarkan Sekjen Fornas Bhineka Tunggal Ika, Taufan Hunneman. Taufan menganggap penolakan 'Kembali ke Orde Baru' menjadi sebuah keniscayaan, lantaran bangsa sejarah kelam dengan rezim saatg itu.

"Orde Baru merupakan satu sistem juga watak kekuasaan, yang beroperasi menafikan bukan saja demokrasi namun penghargaan terhadap kemanusiaan itu sendiri," ujar dia kepada JawaPos.com, kemarin.

Taufan, yang juga mantan Aktivis 98 itu menegaskan, Era Orde Baru membuat manusia potensial dihancurkan secara sistemik. Sehingga, tidak mungkin bangsa Indonesia kembali kepada Orde Baru.

"Itu wacana kemunduran. Jangan memilih paslon yang ingin mengembalikan ke era Orde Baru," tegas dia.

"Saat ini di era demokrasi kita terus membenahi budaya yang telah dibangun selama 32 tahun," lanjut Taufan.

Terakit kontestasi Pilpres 2019, Taufan memaparkan saat ini pilihannya adalah keragaman versus keseragaman. "Termasuk mendukung wacana Orde Baru versus kemajuan," beber dia.

Taufan mengajak rakyat yang ingin bergerak maju, memilih Jokowi-Kiai Maruf. Paslon ini menurutnya sangat menjunjung tinggi lingkup keragaman yang Berbhinneka Tunggal Ika.

"Konsolidasi dan ajakan Pak jokowi untuk door to door harus disikapi dengan serius. Bulan januari ini Fornas akan konsolidasi lebih masif," pungkasnya.

Editor           : Imam Solehudin
Reporter      : (yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini