JawaPos Radar | Iklan Jitu

Malaysia dan Arab Saudi Dominasi Kasus Kematian Buruh Migran

18 Desember 2018, 17:45:32 WIB
Buruh migran
Ilustrasi: Buruh migran (Pixabay.com)
Share this

JawaPos.com - Sepanjang 2018, tercatat 281 kasus yang menimpa para buruh migran Indonesia yang bekerja di luar negeri. Kasus tersebut bermacam-macam, mulai dari masalah dokumen hingga kekerasan yang berujung kematian. Faktanya, 56 persen kasus tersebut menyasar kepada buruh migran perempuan.

Koordinator Divisi Bantuan Hukum Migrant Care Nur Harsono menyebutkan, negara dengan paling banyak kasus kekerasan dan kematian terhadap buruh migran adalah di Malaysia. Sementara negara terparah kedua, yakni Arab Saudi.

“Negara yang paling banyak kasusnya ini pertama Malaysia, kedua Saudi. Justru negara-negara yang Asia di bawahnya itu kayak Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan itu relatif kecil kasus-kasusnya,” ujarnya saat konferensi pers dalam rangka memperingati Hari Buruh Migran Sedunia 2018, di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Selasa (18/12).

Data yang dihimpun dalam kurun waktu enam tahun terakhir, sejak 2012 hingga Januari 2018, sebanyak 1.288 pekerja migran Indonesia meninggal dunia. Rinciannya, 36 persen di negara penempatan Malaysia, yakni 462 kasus. Kemudian, Arab Saudi sebesar 17,4 persen atau 224 kasus.

Kenyataan tersebut tentu mengherankan mengingat Malaysia adalah negara yang serumpun dengan tanah air. Di sisi lain, Arab Saudi juga memiliki kedekatan tersendiri lantaran merupakan negara Islam, di mana setiap tahunnya menerima 200 ribu lebih jamaah Indonesia untuk melaksanakan ibadah haji. 

“Saudi Arabia, ternyata di sana itu masih menerapkan budaya di mana majikan menganggap bahwa PRT-nya itu adalah miliknya. Bahkan, PRT-nya itu masih dianggap budak seperti dulu,” terang Nur Harsono.

Dia menuturkan, mekanisme mendapatkan pekerja rumah tangga (PRT) menggunakan sistem agensi yang bekerja sama dengan pihak Indonesia. Seorang majikan di Arab Saudi membayar sepenuhnya untuk perekrutan calon pekerja migran.

“Itu informasinya kalau dapat satu orang calon pekerja migran PRT ke Saudi, calo bisa (dapat upah) Rp 5-8 juta, satu orang. Ini uang sumbernya dari majikan. Maka majikan menganggap bahwa ‘karena saya sudah membeli maka PRT ini adalah milik saya’,” paparnya.

Oleh karena itu, Migrant Care berharap agar kebijakan penempatan buruh migran di Arab Saudi ditimbang kembali. “Bukan bermaksud menghalang-halangi orang mendapatkan upah bermigrasi, tapi ingin menimbang kembali pengiriman-pengiriman WNI ke Saudi karena masih ada budaya itu,” kata dia. 

Editor           : Kuswandi
Reporter      : (yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up