alexametrics

Menuju Endemi, Pemerintah Longgarkan Kewajiban Masker dan Antigen

18 Mei 2022, 13:47:50 WIB

Hasil Survei, 99 Persen Warga Jawa-Bali Sudah Miliki Antibodi

JawaPos.com – Indonesia mulai melonggarkan aturan pemakaian masker. Kini warga yang berada di ruang terbuka tidak lagi diwajibkan memakai masker. Kebijakan baru tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin (17/5).

”Jika masyarakat sedang beraktivitas di luar ruangan atau di area terbuka yang tidak padat orang, maka diperbolehkan untuk tidak menggunakan masker,” katanya. Ketentuan wajib masker hanya berlaku untuk warga yang beraktivitas di ruang tertutup atau di dalam moda transportasi publik.

Mantan wali kota Solo itu menerangkan, kebijakan tersebut diambil dengan berbagai pertimbangan. Yang paling utama adalah memperhatikan kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia yang saat ini makin terkendali.

Sementara itu, bagi masyarakat yang masuk kategori rentan, lansia, atau memiliki penyakit komorbid, Jokowi tetap menyarankan memakai masker saat beraktivitas. ”Demikian juga bagi masyarakat yang mengalami gejala batuk dan pilek, maka tetap harus menggunakan masker ketika melakukan aktivitas,” tegasnya.

Selain masker, pemerintah juga melonggarkan kebijakan tes usap (swab) PCR dan antigen bagi pelaku perjalanan. Aturan tersebut berlaku bagi mereka yang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 lengkap. ”Bagi pelaku perjalanan dalam negeri dan luar negeri yang sudah mendapatkan dosis vaksinasi lengkap, maka sudah tidak perlu lagi melakukan tes swab PCR maupun antigen,” ujar presiden.

Pada kesempatan lain, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa keputusan itu merupakan bagian dari transisi pandemi menuju endemi. ”Untuk bisa melakukan transisi dari pandemi ke endemi, selain melihat data-data saintifik, perlu juga dipahami bahwa tanggung jawab kesehatan ada pada diri masing-masing,” tuturnya.

Menurut Budi, dari semua pandemi dalam sejarah kehidupan manusia, transisi itu terjadi pada saat masyarakat sudah menyadari bagaimana caranya melakukan protokol hidup yang sehat. Baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar. Hal tersebut tidak bisa dilakukan sekonyong-konyong. Harus bertahap.

Budi menjelaskan, keputusan pemerintah melonggarkan aturan pemakaian masker juga dipicu tingkat imunitas masyarakat yang baik. Hal itu terlihat ketika adanya serangan varian Omicron BA.2. Di beberapa negara, Omicron ini menyebabkan lonjakan kasus yang cukup tinggi. Namun, di Indonesia yang juga terkena Omicron BA.2, kondisinya cukup baik.

Kondisi imunitas masyarakat Indonesia yang sudah baik itu juga dibuktikan dari hasil serosurvey pada Desember lalu. Serosurvey tersebut khususnya dilakukan di Pulau Jawa dan Bali. ”Untuk masyarakat Jawa-Bali, sekitar 93 persen sudah memiliki antibodi,” ujar Budi. Antibodi ini bisa berasal dari vaksinasi yang diberikan pemerintah. Namun bisa juga berasal dari infeksi alami.

Lalu, sebelum mudik Lebaran, pemerintah menjalankan serosurvey berikutnya untuk melihat kondisi terkini. Serosurvey dilakukan pada grup yang sama. ”Ternyata naik dari 93 persen menjadi 99,2 persen (yang sudah memiliki antibodi, Red),” ucap Budi. Hal tersebut disebabkan kombinasi vaksinasi dan infeksi alami. ”Kami juga selalu melakukan benchmarking dengan negara-negara lain,” katanya.

Menurut Budi, hampir di semua negara, kebijakan bermasker hanya untuk mereka yang beraktivitas di dalam ruangan. Sekali lagi Budi mengingatkan peran besar masyarakat untuk menjaga kesehatan dirinya maupun komunitas.

Kebijakan Indonesia melonggarkan aturan masker memang terbilang lebih lambat daripada negara lain. Di Arab Saudi, misalnya, pelonggaran aturan masker sudah diterapkan sejak beberapa bulan lalu. Bahkan, jemaah umrah Indonesia yang menjalankan ibadah di ruang terbuka juga tidak wajib bermasker. Para pendatang dari luar negeri juga tidak lagi diwajibkan tes PCR jika telah menerima vaksin dosis lengkap.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : lyn/c9/oni

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads