alexametrics

Sejarawan: Tak Ada Kata-kata Pribumi dan Nonpribumi di Pidato Anies

17 Oktober 2017, 15:15:13 WIB

JawaPos.com – Pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengundang polemik. Kata “pribumi” yang dilontarkan Anies menjadi viral dan mengundang kontroversi. Sebab kata pribumi dan non pribumi sudah lama dihilangkan sejak era Presiden BJ Habibie. Namun sebetulnya, dalam konteks pidato Anies saat itu dia mencontohkan dalam konteks kejadian kolonialisme di masa lalu.

“Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri,” begitu penggalan pidato Anies.

Kemudian dia melanjutkannya dengan pepatah Madura yang berbunyi ‘Itik se atellor, ajam se ngeremme’. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain”, tambah Anies.

Gubernur DKI Jakarta
Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno di Istana Merdeka (Bayu Putra/ Jawa Pos)

Dari sisi perjalanan sejarah bangsa, sebetulnya bagaimana kata pribumi tercipta? Siapa saja yang disebut pribumi? Sejarawan Universitas Indonesia (UI) Muhammad Wasith Albar menilai, dalam pidato Anies tidak menyebutkan atau tidak ada kata-kata pribumi dan nonpribumi tersebut. Anies mengucapkan kata pribumi dalam konteks mencontohkan zaman kolonialisme saat dulu.

“Tidak ada kata-kata pribumi dan nonpribumi. Memang tidak ada, dan istilah peribahasa Madura itu hanya metafora,” kata Wasith kepada JawaPos.com, Selasa (17/10).

Wasith menyebutkan yang disebut pribumi saat itu di zaman kolonial, pribumi dikenal dengan sebutan inlander. Belanda sendiri membagi lapisan masyarakat (segregasi) dalam tiga bagian, yakni Barat, Timur Asing (Cina dan Arab), dan Bumiputra (pribumi).

“Dalam pidato Anies sendiri tidak mengatakan suku atau etnis tertentu. Tapi semangatnya dia ambil pada saat Indonesia merdeka dari Belanda yang merupakan kolonialis dan nonpribumi. Istilah ini diperkuat oleh Belanda sendiri saat berkuasa di Nusantara, dengan membuat diskriminasi tiga lapisan” kata Wasith.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kalimat pribumi dan nonpribumi memang mulai populer sejak era Orde Baru dengan kebijakan politiknya menghendaki politik asimilatif terhadap etnis tertentu dan akhir-akhir ini. Namun, terkait isi pidatonya yang menjadi polemik, hingga kini Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan belum memberikan klarifikasinya.

Editor : admin

Reporter : (ika/ce1/JPC)

Saksikan video menarik berikut ini:

Sejarawan: Tak Ada Kata-kata Pribumi dan Nonpribumi di Pidato Anies