JawaPos Radar

Puluhan Artis Pilih Nyaleg di Jawa Barat, Ini Alasannya

17/08/2018, 21:14 WIB | Editor: Imam Solehudin
Vicky Prasetyo
Vicky Prasetyo dan Angel Lelga ketika melakukan sosialisasi di Purwakarta, Jawa Barat. Sama seperti istrinya, Vicky bakal maju menjadi calon Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. (RMOL/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Jawa Barat memiliki sekitar 30 artis yang akan bertarung pada pemilihan legislatif (Pileg) 2019. Angka ini tertinggi dibanding provinsi lainnya di pulang Jawa.

Jawa Timur misalnya, hanya ada 8 pesohor yang nyaleg. Pun Jawa Tengah, selebritis yang bertarung merebut kursi wakil rakyat berjumlah 6 orang.

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Komunikasi (Unikom), Adiyana Slamet menyebutkan ada beberapa faktor yang menjadikan Jawa Barat sebagai pijakan politik para artis.

Satu diantaranya yaitu jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) provinsi Jabar yang cukup tinggi yaitu 31,7 juta. Sehingga hal tersebut menjadikan Jabar sebagai provinsi yang menggiurkan bagi partai politik.

"Memang Jabar Provinsi seksi dalam kontestasi pemilihan legislatif kemudian berimbas pada hal lain. Yaitu partai melihat ada perubahan sistem perhitungan suara 2019," ucap Pengamat Komunikasi Politik Unikom, Adiyana Slamet saat dihubungi RMOL Jabar (Jawa Pos Grup), Jum'at, (17/8).

"Para artis ini diharapkan bisa menambah suara partai atau suara individu akhirnya nanti bisa berimbas pada parliamentary threshold 4 persen dan presidential threshold yang 20 persen," beber dia.

Calon Doktor Komunikasi Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) tersebut juga mengungkapkan, banyaknya artis yang terjun dalam Pileg merupakan jalan pintas bagi partai untuk mendulang suara.

"Partai politik juga terkesan melihat secara pragmatis. Meng-endorse artis untuk menambah pundi suara dan menaikan kualitas parlementery treshold dan presidential trashold," jelas dia.

Namun, Adiyana menuturkan fenomena artis manggung di legislatif merupakan kemunduran bagi sistem kaderisasi partai politik di Indonesia. Hal ini tentunya dapat memicu konflik internal dalam tubuh partai itu sendiri.

Pasalnya, kader-kader partai yang sudah sejak lama mengikuti proses kaderisasi di partainya tersingkir dengan mudah oleh artis-artis. Apalagi tak sedikit dari mereka tidak mengikuti kaderisasi partai sekalipun.

"Satu kemunduran kaderisasi tidak dalam internal partai akan melibatkan konflik antar kader, misal ada beberapa kader partai yang mempunyai kapabilitas dan loyalitas membesarkan partai tapi tidak direkomendasikan di Pileg 2019," pungkasnya.

(mam/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up