alexametrics

Pascagempa Bali, Objek Wisata Favorit Aman

Di Banyuwangi, Warga Berlarian ke Bukit
17 Juli 2019, 09:39:52 WIB

JawaPos.com – Gempa kembali memorak-porandakan beberapa daerah. Setelah pekan lalu mengguncang daerah Maluku Utara, kemarin (16/7) gempa melanda Bali dan sebagian daerah di Jawa Timur.

Sumber gempa berkekuatan 5,8 skala Richter (SR) itu berpusat di 83 kilometer barat daya Nusa Dua dengan kedalaman 68 kilometer. Meski gempa berpusat di tengah laut, BMKG menyatakan tidak berpotensi tsunami.

Kabupaten Badung menjadi wilayah yang terdampak paling parah. Menurut pantauan Bali Express, gempa tersebut mengakibatkan puluhan bangunan hancur.

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Badung hingga pukul 17.00 kemarin, gempa berdampak di lima di antara enam kecamatan yang ada. Kecamatan yang dominan terdampak adalah Kuta Selatan. Ada 24 bangunan yang mengalami kerusakan. Termasuk empat korban luka di SD Negeri 1 Ungasan. Para korban mengalami luka robek di kepala karena tertimpa genting.

Seorang warga bernama Made Budi mengaku cukup terguncang dengan getaran gempa. Hal itu mengingatkannya pada gempa yang terjadi pada 14 Juli 1976. “Goyangannya hampir menyamai gempa tahun 1976. Ini yang terbesar setelah gempa 43 tahun silam,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bali.

Gempa juga berdampak pada beberapa bangunan sekolah lain, gapura ITDC, hotel, Mapolsek Kuta Selatan, kantor camat, dan pura. Bandara Ngurah Rai juga mengalami kerusakan di beberapa bagian. “Kami masih melakukan pendataan. Yang urgen harus ditangani dahulu,” ungkap Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Badung dr Ni Nyoman Ermy Setiari kepada Bali Express.

Plt Kepala BPBD Badung Wayan Wirya mengatakan, gempa tersebut memicu kerusakan di 36 titik lokasi. “Yang paling banyak rusak itu sekolah. Kalau tempat wisata di Badung, sampai saat ini belum ada laporan terdampak,” ungkapnya.

Menurut laporan yang diterima BPBD Bali, setidaknya lima orang mengalami luka-luka. Lalu, 27 bangunan di beberapa kabupaten/kota di Bali mengalami kerusakan. “Nihil korban jiwa,” ucap Kepala Pelaksana BPBD Bali Made Rentin kemarin.

Lima korban luka itu, antara lain, terdiri atas dua siswa dan seorang guru di SDN 1 Ungasan, Kuta Selatan, Badung. Mereka terluka di bagian kepala karena tertimpa genting. Kemudian, dua siswa SMPN 5 Mendoyo, Jembrana. Satu di antara dua orang itu bahkan sampai pingsan. Sedangkan satunya lagi mengalami luka lecet.

Rentin menjelaskan, gempa kemarin adalah gempa tektonik di wilayah Samudera Hindia Selatan Bali – Nusa Tenggara. Jika diperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempa bumi berkedalaman menengah ini diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempang Eurasia. Hasil analisa mekanisme sumber menunjukkan, gempa dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis naik mendatar. Yang jelas, gempa kemarin tidak ada hubungannya dengan aktivitas Gunung Agung. Sebab, gempa ini merupakan gempa tektonik.

HARUS MENGUNGSI: Rumah Wayan Ritawan, 40, di Banjar Dinas Kelod, Desa/Kecamatan Busungbiu, Buleleng yang roboh akibat gempa. (Putu Mardika/Bali Express)

Dia mengatakan, Provinsi Bali merupakan salah satu wilayah Indonesia yang rawan terhadap gempa bumi. Sebab, lokasinya berada di daerah penujaman/subduksi (terutama wilayah pantai selatan Bali) dan zona sesar aktif. Sejarah gempa sendiri terjadi beberapa kali di Bali. Antara lain tahun 1976 di Kabupaten Tabanan, Jembrana, dan Buleleng, yang memakan korban jiwa hingga 470 orang meninggal, 362 luka-luka dan mengakibatkan kerusakan rumah dari ringan hingga berat.

Gempa di Bali juga berdampak serius di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Dari pemantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, gempa mengakibatkan puluhan bangunan, mulai rumah, musala, masjid, sekolah, hingga perkantoran, di sembilan kecamatan rusak. Sembilan kecamatan itu adalah Pesanggaran, Gambiran, Tegaldlimo, Cluring, Srono, Muncar, Glenmore, Blimbingsari, dan Banyuwangi.

Kerusakan terparah terdapat di wilayah Pesanggaran. Di sana ada 67 rumah yang rusak. Selain rumah, dua bangunan sekolah, satu masjid, dan kantor desa juga rusak. ”Atap teras samping masjid ambrol,” ungkap Hamim, 50, takmir Masjid Nurul Islam, Kampung Rajekwesi, Desa Sarongan, Pesanggaran.

Dia menyatakan, panjang atap samping masjid yang ambrol karena gempa itu sekitar 10 meter. Selain itu, ada bangunan yang retak-retak. ”Kerusakannya hanya di bagian atap samping,” ujarnya.

Hamim menyebutkan, gempa di pesisir Pantai Rajekwesi itu membuat warga panik. Banyak yang lari ke bukit lantaran khawatir terjadi tsunami. ”Jarak pantai dengan perumahan penduduk hanya 200 meter,” katanya.

Camat Pesanggaran Hardiono menyampaikan, pihaknya berkoordinasi dengan BPBD Banyuwangi untuk mendata rumah yang rusak akibat gempa tersebut. ”Data rumah yang rusak itu masih diolah lagi,” ujarnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (kri/abi/adi/hai/dik/aim/c9/c5/oni)



Close Ads