alexametrics

Lebih dari 70 Persen Penduduk Indonesia Tak Peduli Isu Sampah Plastik

17 Juli 2019, 15:00:09 WIB

JawaPos.com – Isu sampah plastik yang makin menunpuk membuat sejumlah instansi atau perusahaan berusaha mengurangi penggunaan plastik. Dari mulai membiasakan diri menghemat penggunaan kantong plastik, mengurangi sedotan, hingga menggunakan produk daur ulang.

Mirisnya, catatan Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 lebih dari 72 persen masyarakat Indonesia tak peduli sampah plastik. Salah satu  dasar munculnya rasa ketidakpedulian ini karena masyarakat masih sulit memilah sampah rumah tangga antara plastik dan organik.

“Ketidakpedulian sampah masih tinggi. Angka ketidakpedulian terhadap sampah plastik menurut BPS lebih dari 72 persen,” tegas Kepala Subdit Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ujang Solihin dalam konferensi pers kampanye Plastic Reborn 2.0 dalam World Without Waste bersama Coca Cola, di Jakarta, Rabu (17/7).

Pihaknya mendorong pemerintah daerah punya langkah yang lebih strategis untuk mengurangi sampah plastik. Salah satu contoh kota yang sudah baik dalam upaya mengurangi sampah plastik adalah Surabaya. Maka diperlukan kesadaran sari lingkungan terkecil yakni dari rumah tangga. Selain itu, pihaknya juga mendorong pihak industri untuk berkomitmen dalam mengurangi sampah plastik.

Ilustrasi sampah plastik. Masyarakat Indonesia masih sulit membedakan mana sampah plastik dan organik. (Christophe Launay/Race for Water 2015)

Saat ini peta jalan pengurangan sampah plastik oleh produsen sedang dalam proses finalisasi. Diharapkan peta jalan tersebut akan menjadi landasan bagi para produsen, dalam menyusun dan melaksanakan program kegiatan pengurangan sampah yang berasal dari produk dan atau kemasan.

“Bentuk pengurangan tersebut meliputi pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah, dan pemanfaatan kembali sampah melalui upaya kreatif dan inovatif dengan pemanfaatan iImu pengetahuan dan teknologi,” tegas Ujang.

Salah satunya, dalam mewujudkan World Without Waste, Coca-Cola bersama para mitra terus berupaya untuk membantu mencari solusi terkait dengan permasalahan kemasan plastik. Coca-Cola mendukung upaya pengumpulan dan mendaur ulang setiap botol plastik yang terjual dan dikonsumsi oleh masyarakat di tahun 2030.

Di Indonesia, Coca-Cola menerapkan visi World Without Waste melalui inisiatif Plastic Reborn yang akan menjadi payung dalam berbagai inisiatif keberlanjutan dalam penanganan sampah plastik. Coca-Cola memfasilitasi pengumpulan botol kemasan plastik minuman di lebih dari 100 titik sekolah dan Universitas di kawasan Jakarta dan Bekasi.

Sampah ini dikelola dan diproses menjadi tas serbaguna bernilai komersial. Langkah ini diharapkan dapat turut mendorong terciptanya praktik pengelolaan sampah terintegrasi dan berkelanjutan melalui pendekatan Recyling-Upcyling yang diintegrasikan dengan pendekatan circular economy.

Public Affairs and Community Manager Coca-Cola Indonesia Andrew Hallatu (kiri) dan Chief Operating Officer Ancora Foundation Ahmad Zakky Habibie (kanan) berbincang bersama para startup terpilih program PLASTIC REBORN 2.0 yaitu MallSampah, Clean Up Indonesia, Gringgo di kawasan Thamrin, Jakarta (17/7). (Istimewa)

Public Affairs and Communications Director Coca-Cola Indonesia, Triyono Prijosoesilo mengatakan, dasar pengelolaan sampah yang berkelanjutan adalah pengumpulan limbah kemasan (waste collection) yang tepat. Fokusnya, adalah kolaborasi dari para startup pegiat sampah yang akan bersinergi untuk membangun market place yang lebih eflsien untuk sistem persampahan dan daur ulang.

Startup Pendaur Ulang Sampah

Progtam Plastic Reborn 2.0 memberikan hibah (grant) kepada 3 (tiga) startup terpilih sebesar total USD 250 ribu. Dana tersebut akan dimanfaatkan oleh ketiga startup terpilih untuk meningkatkan kapabilitas perusahaan serta mengembangkan model bisnis dalam hal sistem pengumpulan dan pemrosesan limbah yang lebih baik.

Selain itu, program ini juga memfasilitasi para startup untuk mengikuti program akselerasi bisnis melalui kegiatan lokakarya dan bimbingan dari para mentor profesional. Mereka juga bisa mengembangkan jaringan bisnis melalui Coca-Cola Foundation dan Ancora Foundation.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani


Close Ads