alexametrics

Setelah Pengerukan, Radiasi Masih Cukup Tinggi di Tanah Kosong

17 Februari 2020, 09:22:47 WIB

JawaPos.com – Tingkat pencemaran atau kontaminasi radioaktif di sebidang tanah kosong di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan, ternyata cukup besar. Meskipun sudah dilakukan pengerukan selama berhari-hari, angka radiasinya cukup tinggi.

Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Heru Umbara menuturkan, pihaknya menerjunkan 28 personel untuk mengangkat tanah yang terkontaminasi radioaktif. Puluhan petugas dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Batan, dan Gegana Brimob Polri tersebut dibagi dalam empat kelompok.

Sejak pagi, mereka menggali tanah di area berukuran 2 x 2 meter. Kedalaman tanah yang digali hanya sekitar 30 sentimeter. Tanah yang digali tersebut berada di area berukuran 10 x 10 meter yang dibatasi garis polisi. Sepanjang hari kemarin, petugas mengangkat 34 drum tanah. Masing-masing drum berukuran 100 liter.

Sehari sebelumnya, petugas mengangkat 52 drum tanah yang terkontaminasi radioaktif. Dengan demikian, hingga kemarin, total tanah terkontaminasi radioaktif yang diangkat mencapai 86 drum. Tanah tersebut dibawa ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif di kawasan Puspitek, Serpong. Jarak pusat penyimpanan dan pengolahan limbah nuklir itu dari Perumahan Batan Indah sekitar 3 kilometer.

Petugas bekerja secara bergantian. Masing-masing kelompok hanya menggali tanah selama satu jam. Selanjutnya digantikan kelompok lainnya. Hal itu dapat mengurangi dosis radiasi yang diterima. Petugas juga memakai baju khusus saat mengangkat tanah.

Setelah pengangkatan tanah selesai, paparan radiasi yang diterima pekerja juga diukur. Hasilnya di rentang 2 sampai 10 microsievert. Paparan tersebut masih berada di bawah batas dosis aman 80 microsievert.

Setelah tanah yang terkontaminasi radioaktif diangkat, angka radiasi di area yang terpapar radioaktif mulai menurun, yakni kurang dari 98,9 microsievert. Angka tersebut turun cukup besar jika dibandingkan dengan kali pertama sumber radioaktif ditemukan yang mencapai 149 microsievert.

Angka kontaminasi radiasi tersebut juga masih jauh dari batas aman paparan radiasi bagi warga biasa, yakni 1 millisievert (1.000 microsievert). Apalagi, batas aman paparan radiasi bagi petugas reaktor nuklir mencapai 20 microsievert. Meski demikian, Batan berupaya menormalkan angka radiasi di area terkontaminasi hingga 0,2 microsievert.

Menjelang sore, pengangkatan tanah di titik sumber limbah radioaktif terpaksa dihentikan. Alasannya, hujan deras dikhawatirkan mengakibatkan kontaminasi silang (cross contamination) radioaktif terhadap petugas. Hari ini pengangkatan tanah dilanjutkan hingga laju paparan radioaktif kembali normal. Batan juga memeriksa paparan radiasi sembilan warga Perumahan Batan Indah di Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) Batan di Pasar Jumat, Jakarta Selatan.

Sekretaris Utama (Sestama) Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Hendriyanto Hadi Tjahyono menambahkan, Bapeten telah menganalisis air tanah di sekitar wilayah terpapar radiasi. Hasilnya, tidak ditemukan kontaminasi radioaktif di Perumahan Batan Indah.

Sumber radioaktif juga masih diuji laboratorium Batan untuk mengetahui sumbernya. Sebab, saat ditemukan, kondisi sumber radiasi sudah hancur menyerupai gula pasir. Sumber radioaktif yang diduga berasal dari limbah radioaktif itu ditemukan Bapeten pada 30-31 Januari.

TERSEGEL: Tim Kimia, Biologi, Radioaktif (KBR) Gegana Korps Brimob memastikan keamanan drum berisi tanah terkontaminasi radioaktif sebelum dikirim ke Batan. (MUHAMMAD ALI/JAWA POS)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : wan/c19/noe



Close Ads