alexametrics

Asap Makin Pekat, Empat Bandara Tutup

16 September 2019, 09:41:35 WIB

JawaPos.com – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meresahkan. Selain mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas transportasi tidak bisa berjalan normal.

Kemarin (15/9) empat bandar udara di Kalimantan ditutup karena jarak pandang yang terbatas. Antara lain, Bandara Kalimarau, Berau, dan Bandara APT Pranoto, Samarinda, Kaltim. Juga Bandara Juwata, Tarakan, Kaltara, dan Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalsel.

Kepala Bandara Kalimarau Bambang Hartato menjelaskan, penutupan bandara dilakukan setelah mendapat Notice to Airmen (notam) Nomor C8334/19 yang dikeluarkan oleh AirNav Indonesia. Isi notam itu menyebutkan perubahan jarak pandang bandara sehingga layanan penerbangan harus ditutup.

”Sampai hari ini (kemarin, Red) visibility 500 meter. Sementara standar instrument approach procedure, minimal jarak pandangnya 3.500 meter,” ungkapnya.

Awalnya, sejumlah maskapai menunggu kondisi cuaca membaik. Penerbangan beberapa maskapai seperti Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, dan Xpress Air delayed. Namun, akhirnya diputuskan batal terbang. ”Kami sampaikan permohonan maaf kepada pengguna jasa transportasi udara. Kami berharap masyarakat bisa memaklumi kondisi ini,” tutur Bambang.

KABUT ASAP SEMAKIN PARAH: Kabut asap semakin parah di Kota Tarakan mengakibatkan sejumlah penerbangan tertunda, kemarin (14/9). (Ifransyah/Radar Tarakan).

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengimbau seluruh stakeholder penerbangan untuk tetap mengutamakan keselamatan pengguna jasa. Menurut Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti, pihaknya selalu memantau dan terus berkoordinasi melalui kantor otoritas bandar udara (OBU) di Kalimantan dan Sumatera. ”Kami meminta operator penerbangan, terutama yang menutup pelayanan penerbangan ataupun delayed akibat karhutla, untuk sigap membantu mengomunikasikannya kepada para penumpang,” ujarnya.

Bukan hanya transportasi udara, atensi juga diberikan untuk transportasi laut. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub mengimbau nakhoda kapal untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kabut asap yang dapat mengganggu keselamatan pelayaran.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ahmad menginstruksikan kepala unit pelaksana teknis (UPT) Ditjen Perhubungan Laut di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang terpapar kabut asap untuk meningkatkan pengawasan serta memperhatikan kondisi cuaca dan lingkungan sebelum menerbitkan surat persetujuan berlayar (SPB). ”Tunda penerbitan SPB bila kondisi kabut asap sangat tebal sehingga mengganggu jarak pandang,” tegas Ahmad.

Sementara itu, penanganan karhutla terus dilakukan. Selain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI dan Polri terlibat aktif dalam upaya itu. Sejak Sabtu (14/9), Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto turun langsung ke lokasi terdampak karhutla di Sumatera. Kemarin dia bertolak ke Kabupaten Pelalawan, Riau.

TNI akan mengerahkan drone untuk memantau titik api. Terutama saat malam. Hadi optimistis pemantauan titik api semakin optimal dengan drone. ”Menggunakan drone akan mempermudah proses mitigasi lokasi kebakaran hutan karena lokasi yang tidak terpantau pada siang dan sore hari dapat terlihat dengan jelas pada malam hari,” beber Hadi. Selain itu, drone efektif untuk melihat titik-titik yang baru terbakar.

Hadi menjelaskan, pihaknya sudah melakukan banyak upaya untuk memadamkan api dan mencegah karhutla. Termasuk dengan modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan buatan. Helikopter dan pesawat juga dikerahkan. ”TNI dan Polri beserta seluruh stakeholder tidak akan tinggal diam untuk membantu mencegah terjadinya karhutla,” tegasnya.

Berdasar laporan yang diterima, modifikasi cuaca termasuk efektif untuk memadamkan api dan mengurangi asap. Buktinya, jumlah titik api di Riau turun signifikan. Hingga kemarin, menurut Hadi, tinggal 44 titik api yang terpantau di sana. ”Kalau kami mengukur hasilnya, hot spot sudah mulai turun. Kalau kami lihat juga, secara visual asap yang ada di Pekanbaru saat ini sudah menurun,” jelas Hadi.

Sementara itu, pemerintah Malaysia terpaksa meliburkan 300 sekolah di Negara Bagian Johor kemarin (15/9). Kepala Departemen Pendidikan Negara Bagian Johor Azman Adnan menyatakan, aktivitas belajar sekitar 90 ribu siswa di wilayah Muar, Tangkak, dan Pontian terganggu karena asap dari kebakaran hutan dan lahan.

’’Berdasar API (air pollutants index) yang sudah menembus 200, sesi belajar di beberapa sekolah dibatalkan,’’ ungkapnya Sabtu (14/9) menurut The Strait Times. Di Johor, sekolah libur pada Jumat dan Sabtu serta masuk kembali pada Minggu.

Wakil Menteri Energi, Sains, Teknologi, Lingkungan, dan Perubahan Iklim (MESTECC) Isnaraissah Munirah Majilis mengatakan bahwa Malaysia bakal memulai program hujan buatan sebagai solusi jangka pendek. Dia berharap kondisi awan mendukung upaya tersebut. ’’Penyemaian awan hanya bisa dilakukan jika memang kondisi awan memenuhi persyaratan. Semoga besok suasana mendukung,’’ ujarnya kepada Channel News Asia.

Hingga kemarin pukul 15.00 waktu setempat, API di Johor mencapai 258 alias sangat berbahaya. Tolok ukur Malaysia memang berbeda dengan Indonesia yang menggunakan pollutants standards index (PSI).

Isnaraissah menyatakan, pemerintah Malaysia sudah menawarkan bantuan kepada pemerintah Indonesia untuk memadamkan kebakaran hutan. Namun, tawaran itu belum mendapat respons. ’’Kami perlu menangani akar masalah asap ini. Hujan buatan hanya akan mengurangi, tapi asap akan kembali,’’ ungkapnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : bil/lyn/syn/c11/c19/fal



Close Ads