alexametrics

Jangan Sampai Virus Wabah PMK Masuk Daerah Lumbung Ternak

16 Mei 2022, 11:38:29 WIB

JawaPos.com – Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak, khususnya sapi, belum terkendali. Saat ini setidaknya telah ada temuan PMK di sepuluh provinsi. Meski begitu, masyarakat diminta tidak panik. Juga tidak perlu takut mengonsumsi daging sapi selama diolah dengan baik dan benar.

Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr drh Denny Widaya Lukman menjelaskan, sejumlah lembaga riset dunia menyebutkan bahwa PMK bukan masalah kesehatan masyarakat. ”Bukan masalah keamanan pangan. Tapi masalah kesehatan hewan,” katanya kemarin (15/5).

Denny menjelaskan, kasus penularan PMK dari hewan ke manusia sangat langka. Sejak 1921 sampai sekarang, dilaporkan tidak lebih dari 40 kasus penularan PMK dari hewan ke manusia. ”Lalu, bagaimana dengan mengonsumsi daging dan susu (sapi)? Tidak masalah,” tegasnya.

Apalagi jika daging dan susu itu dikonsumsi tidak dalam kondisi mentah. Denny yang juga pakar higiene pangan, higiene daging, serta zoonosis mengatakan, virus PMK mati dalam suhu 70 derajat selama 30 menit.

Kebiasaan masyarakat Indonesia bahkan mengolah daging sapi dengan direbus di dalam air mendidih atau 100 derajat. Merebusnya bisa sampai satu jam lebih. Termasuk dalam mengonsumsi susu, juga melalui proses yang aman. Menurut Denny, mengonsumsi daging dalam keadaan tidak dimasak atau mentah justru rawan memicu penyakit disentri, tifus, dan sejenisnya. ”Bukan masalah PMK-nya,” kata dia.

PMK, jelas Denny, bisa disebut penyakit yang muncul kembali. Pada 1983 Indonesia sempat dihebohkan dengan PMK. Kemudian, pada 1986 penyakit itu bisa ditangani. Pada 1990 Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE) mengakui Indonesia sudah terbebas dari PMK.

Denny menduga kuat kasus PMK muncul kembali dari hewan impor. ”Tapi, kita tidak tahu persisnya. Karena Indonesia luas. Bukan waktunya saling menyalahkan,” tuturnya.

Yang terpenting, kasus itu harus ditangani supaya tidak meluas. Dia khawatir jika kasus PMK menyebar sampai ke Sulawesi, Bali, NTB, dan NTT. Seperti diketahui, daerah-daerah tersebut juga dikenal sebagai lumbung hewan ternak.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah vaksinasi. Sayang, kekebalan yang terbentuk dari vaksinasi PMK tidak bersifat silang. Seperti diketahui, saat ini ada tujuh varian atau serotipe PMK, yakni Asia-1, O, A, C Southern African Territories, SAT-1, SAT-2, dan SAT-3. Artinya, ketika hewan ternak disuntik vaksin PMK untuk varian Asia-1, ia akan kebal untuk varian Asia-1 saja. Begitu pun untuk varian lainnya. ”Jadi, pemerintah sangat hati-hati dalam memilih vaksin,” katanya.

Di sisi lain, ketersediaan obat untuk penanganan wabah PMK di Kabupaten Mojokerto menipis. Bahkan, beberapa jenis di antaranya kosong. Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto Nurul Istiqomah mengatakan, kebutuhan obat-obatan dan vitamin untuk penanganan wabah PMK yang tersebar di 18 kecamatan cukup mendesak. Sementara ketersediaan di dinas sangat terbatas, bahkan nyaris habis. ”Ketersediaan obat di kami cukup hanya sampai 18 Mei. Beberapa obat, stoknya ada yang sudah habis,” ungkapnya seperti dilansir dari Radar Mojokerto.

Sesuai data di lapangan, jenis antibiotik SB dan analgesik per kemarin sudah kosong. Dari stok awal masing-masing tersedia 44 botol dan 18 botol. ”Yang habis ini malah yang (dibutuhkan) mendesak. Khususnya analgesiknya ini. Itu untuk antinyeri pada hewan ternak. Sekaligus antiradang. Bisa juga untuk menurunkan panas,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi menyarankan satu langkah ekstrem dalam penanganan PMK. Yakni, pemerintah membeli dan memusnahkan ternak yang terjangkit virus tersebut. Langkah itu dinilai bisa menjadi salah satu upaya memperlambat persebaran wabah PMK di Indonesia. ”Ini harus segera diatasi secepatnya. Jadi, sebaiknya Kementerian Pertanian membeli sapi yang terkena penyakit PMK, lalu dimusnahkan,” ungkapnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : wan/mia/ori/ron/c9/fal

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads