alexametrics

Putri Gus Dur: Tak Ada yang Salah dengan Keraton Agung Sejagad

16 Januari 2020, 20:54:25 WIB

JawaPos.com – Putri presiden RI keempat Abdurahman Wahid (Gus Dur) Yenny Wahid meminta agar kasus Keraton Agung Sejagad yang viral di Mojokerto, Jawa Tengah diselesaikan secara damai. Serta segera dilakukan pembinaan bukan pemenjaraan.

“Ditanya baik-baik tindakannya apa. Kalau tidak melakukan tindakan kriminal menurut saya tidak usah ditangkap. Menuh-menuhin penjara saja,” kata Yenny di Kemenko Polhukam Jakarta, Kamis (16/1).

Terkecuali, lanjut Yenny, jika memang ditemukan tindak pidana yang dilakukan oleh para pelaku, wajar jika ditangkap dan ditahan. “Tapi dari yang saya baca-baca, saya mencari terus beritanya, pelanggaran hukumnya belum terlihat,” imbuhnya.

Yenny juga menilai fenomena seperti Keraton Agung Sejagad sudah banyak terjadi. pemikiran keblinger diduga menjadi faktor mereka melakukan kegiatan tersebut. Oleh karena itu, pembinaan dianggap lebih pas dalam menyelesaikan kasusnya dibanding melalui jalur hukum.

“Sekarang kan banyak orang yang halu (halusinasi, red). Ya kalau menganggap dirinya raja? Kita punya apa? Kan kita cuma punya dua pilihan. Ikut menyembah dia sebagai raja atau cuekin dia. Yasudah cuekin saja orang seperti itu,” ucap Yenny.

Dia menilai, masih banyak persoalan lain yang lebih mendesak untuk diselesaikan. baginya kasus Keraton Sejagad ini hanya sebatas euforia belaka. Karena selama tidak ada unsur penipuan, pemerasan maupun kejahatan lainnya, maka tidak ada yang salah dengan kegiatan tersebut.

“Sah-sah saja warga merasa gagah menggunakan baju bak punggawa kerajaan. Karena kalau kita menyikapinya terlalu berlebihan akhirnya justru akan berdampak pada pelanggaran HAM,” pungkas Yenny.

Pelanggaran HAM yang dimaksud Yenny yaitu, seseorang ditangkap tanpa adanya delik hukum yang terpenuhi.

Sebelumnya, ”Raja” dan ”ratu” itu lebih sering menundukkan kepala. Sesekali sang ratu mengusap air mata sembari menengok ke arah sang raja. Di halaman Ditreskrimum Polda Jateng, Semarang, kemarin (15/1), Totok Santoso dan Fanny Aminadia tidak hanya kehilangan ”kekuasaan”. Tapi sekaligus berstatus tersangka tindak penipuan.

”Tentunya, dengan adanya kejadian ini, saya minta kepada seluruh masyarakat menjadi jelas tentang apa yang terjadi di Jateng. Pihak kepolisian sudah melakukan tindakan cepat dan tegas untuk menangani fenomena ini supaya tidak bertambah jumlah korban,” tutur Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel dalam rilis kemarin seperti dilansir Jawa Pos Radar Semarang.

Ya, Totok adalah Totok Santosa Hadiningrat, raja Keraton Agung Sejagat (KAS) yang ”diproklamasikan” di Desa Pogungjurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jateng, pada Minggu (12/1). Sedangkan Fanny mengaku sebagai ratu atau permaisuri dengan nama Dyah Gitarja.

Keduanya ditangkap paksa oleh Ditreskrimum Polda Jateng di daerah Kulonprogo, Jogjakarta, Selasa (14/1). Selanjutnya, keduanya digelandang ke Mapolda Jateng untuk dilakukan pemeriksaan.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Sabik Aji Taufan


Close Ads