alexametrics

Sektor Pertanian Butuh Kaum Milenial Kembangkan Inovasi Teknologi

15 Desember 2019, 09:28:00 WIB

JawaPos.com – Tantangan sektor pertanian semakin kompleks di Indonesia, mulai dari perubahan lingkungan dan sumber daya manusia, regulasi, luasan lahan pertanian, digitalisasi industri yang merambah semua sektor, hingga tren pertanian 4.0. Lembaga Kajian Pembangunan Pangan dan Pertanian (LKP3) mendorong kalangan milenial untuk masuk ke ini sehingga dapat menyelamatkan ketahanan pangan Indonesia.

“Produktivitas yang rendah, yang disebabkan oleh kurangnya akses ke teknologi dan informasi pertanian modern, telah memaksa banyak petani untuk beralih ke pekerjaan yang lebih cepat menghasilkan,” ujarnya Chairman LKP3 Iskandar Andi Nunung dalam keterangan resminya, Minggu (15/12)

Pentingnya darah dukungan darah segar ke sektor pertanian karena sebagian besar petani Indonesia berusia 45 tahun ke atas atau lebih.

Sementara Head of Business Sustainability PT Syngenta Indonesia, Midzon Johannis mengatakan selain SDM, pentingnya riset dan pengembangan merupakan hal yang fundamental dalam pengembangan teknologi pertanian. Melalui teknologi Syngenta, pihaknya menghasilkan kontribusi terhadap kualitas dan keamanan pangan.

Perusahaan startup di bidang pertanian Habibi Garden telah menarwarkan pemanfaatan Internet of Things (IoT) untuk pertanian di Indonesia. Teknologi tersebut untuk mendorong para kaum milenial tertarik menggeluti bidang tani.

Pendiri Habibi Garden Irsan Rajamin mengatakan, bagi kaum milenial, profesi petani identik dengan pekerjaan kasar, berkotor-kotoran dan berpenghasilan rendah. Sementara, milenial sangat akrab dengan gadget, media sosial dan teknologi digital.

“Pak Sarwo, seorang petani cabe di Lampung, yang telah berhasil meningkatkat produksinya hingga 8 ton per hektar setelah memanfaatkan teknologi digital kreasi Habibi Garden dalam pemantauan kebutuhan air pada tanaman cabe,” tuturnya.

Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida Ir Dadang menambahkan, potensi sektor pertanian di Indonesia masih sangat besar karena Indonesia merupakan salah satu pusat mega diversity tanaman pangan di dunia, beriklim tropis, bisa bercocok tanam sepanjang tahun, beraneka jenis tanaman pangan dan perkebunan bisa tumbuh, dan mempunyai potensi pasar yang besar.

“Pada waktu krisis 98 satu-satunya sektor yang surplus hanya pertanian. Karena itu kita bisa bertahan,” tutupnya.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Romys Binekasri


Close Ads