JawaPos Radar | Iklan Jitu

Hasil Penelitian Yayasan Lentera Anak

Promosi Brand Image Berkedok Beasiswa Tingkatkan Perokok Anak

14 Februari 2019, 21:19:02 WIB
KPAI
Ketua YLA Lisda Sundari ketika memberikan keterangan pers di Kantor KPAI Jakarta, Kamis (14/2). (Yesika/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Yayasan Lentera Anak (YLA) menyebut adanya indikasi eksploitasi anak dalam kegiatan audisi beasiswa bulutangkis yang diselenggarakan Djarum Foundation. Djarum sendiri merupakan perusahaan rokok ternama di Indonesia.

Ketua YLA Lisda Sundari mengatakan, dari hasil penelitiannya, anak-anak usia 6-15 tahun dimanfaatkan sebagai media promosi brand image produk tembakau tersebut. Selama 10 tahun, lebih dari 23.000 anak dieksploitasi lantaran dipaksa mengenakan kaos dengan tulisan Djarum.

"Tubuh (anak-anak yang mengikuti beasiswa Djarum) dimanfaatkan sebagai media promosi produk tembakau dengan mengharuskan mengenakan kaos bertuliskan Djarum, yang merupakan brand image produk zat aktif berbahaya," ujarnya dalam konferensi pers yang digelar di kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jakarta Pusat, Kamis (14/2).

Promosi rokok dalam kegiatan itu secara tidak langsung berkontribusi pada peningkatan prevalensi perokok anak di Indonesia. Hal itu berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018.

"Riskesdas yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi merokok pada anak yang berusia 10 hingga 18 tahun meningkat mencapai 9,1 persen dari sebelumnya 7,9 persen," terang Lisda.

Dia menerangkan, jika populasi pada kelompok usia itu sekitar 40,6 juta jiwa, maka ada sekitar 3,9 juta anak yang merokok. Jumlah itu berbanding terbalik dengan target pemerintah untuk menekan angka perokok anak menjadi 5,4 persen pada 2019.

"Adapun pemanfaatan tubuh anak sebagai media promosi merupakan salah satu bentuk eksploitasi secara ekonomi berdasarkan Pasal 66 UU Perlindungan Anak 35/2014," pungkasnya.

Tak hanya itu, audisi Djarum beasiswa bulutangkis juga melanggar PP 102/2012 tebtang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan, Pasal 47 (1) yakni mengikutsertakan anak-anak pada penyelenggaraan kegiatan yang disponsori rokok. Kemudian, Pasal 37 (a) tentang larangan menggunakan nama merek dagang dan logo produk tembakau, termasuk brand image produk tembakau.

Editor           : Imam Solehudin
Reporter      : Yesika Dinta

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini