alexametrics

Bukti Cinta yang Telah Ditebar Habibie, Tinggalkan Banyak Legasi

Dimakamkan di Samping Ainun
13 September 2019, 09:02:47 WIB

JawaPos.com – Seperti cinta mereka yang bahkan tak terpisahkan oleh maut, Bacharuddin Jusuf Habibie kembali berdampingan dengan sang istri Hasri Ainun Habibie. Di slot 120 dan 121 Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta.

Di makam itu sang istri 9 tahun lalu dikebumikan. Dan, selama periode itu pula, sampai maut menjemputnya pada Rabu lalu (11/9), Habibie tak pernah berhenti merawat cinta mereka yang berbuah dua putra, Ilham dan Thareq.

Setiap hari membacakan tahlil dan hampir setiap pekan berkunjung ke makam Ainun. Presiden ketiga Indonesia itu bahkan pernah berkata bahwa dulu dia begitu takut pada kematian. ”Tapi, sekarang tidak karena yang pertama menemui saya adalah Ainun,” katanya.

Ilham yang mewakili keluarga memberikan sambutan dalam prosesi pemakaman mengatakan, meski merasa sedih atas kehilangan ayahnya, ada hal lain yang melegakan dirinya. Yakni, terwujudnya cita-cita Habibie untuk kembali menemani istri yang juga ibunda dia dan Thareq, Ainun.

Ilham Akbar Habibie, putra sulung Presiden Ke-3 RI B.J. Habibie saat upacara pemakaman ayahnya di TMP Kalibata, Jakarta, Kamis (12/9/2019). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

”Insya Allah mudah-mudahan mereka untuk selamanya bersama, berdua di sisi Allah SWT di surga, di akhirat, di alam baka,” tutur dia, lantas diamini para pelayat yang hadir.

Penguburan pakar pesawat terbang itu dilakukan melalui upacara pemakaman kenegaraan. Jenazah Habibie tiba di kompleks TMP Kalibata pada pukul 13.30 WIB. Disambut ribuan pelayat dari beragam latar belakang. Baik yang hadir di dalam maupun di luar kompleks TMP.

Setelah melewati sejumlah rangkaian, jenazah Habibie dimasukkan ke liang lahad pada pukul 14.00 setelah diawali pelepasan oleh Presiden Joko Widodo. Kedua anak Habibie tampak turun ke liang lahad untuk mengantar ayah ke tempat peristirahatan terakhir.

Presiden Jokowi meletakkan karangan bunga pada saat pemakaman B.J. Habibie di TMP Kalibata, Jakarta, Kamis (12/9). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Menurut Ilham, perginya Habibie tidak hanya menandai hilangnya sosok bapak atau papa bagi dirinya. Namun, juga kehilangan sahabat, panutan, inspirator, hingga tokoh negarawan.

Ilham menuturkan, besarnya perhatian yang diberikan publik atas kepergian ayahnya merefleksikan cinta yang ditebarkan Habibie semasa hidup. ”Sikap bapak adalah terbuka kepada semuanya, merangkul semua pihak, tidak membedakan. Kita selalu mencoba melihat yang baik kepada siapa pun dan me-manage yang kurang baik,” ujarnya.

Terakhir, Ilham mengajak seluruh bangsa untuk belajar dari apa yang dilakukan Habibie selama ini. Habibie yang selalu terus belajar, mau berpikir, dan melakukan segalanya untuk bangsa. Juga, tidak pernah menyerah dalam mencapai tujuan.

Sementara itu, Joko Widodo dalam sambutannya menilai Habibie sebagai sosok negarawan dan ilmuwan yang seimbang antara dunia dan akhirat.

”Selamat jalan Mr Crack, selamat jalan sang pionir. Kami akan selalu ingat pesanmu: Jangan terlalu banyak diskusi, jangan cengeng, tapi terjunkan ke proses nilai tambah secara konsisten, pasti Indonesia akan terkemuka di Asia Tenggara dan dunia,” kata Jokowi menirukan Habibie.

Selama hidup, Habibie memang meninggalkan banyak sekali legasi. Mantan hakim MK Mahfud MD mengenang salah satu peninggalan penting dari Habibie adalah Pemilu 1999.

TEMBAKAN  SALVO: Upacara pemakaman Presiden Ke-3 RI B.J. Habibie di TMP Kalibata, Jakarta, Kamis (12/9) dilakukan secara militer. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Mahfud menuturkan, pada 1998 Habibie membuat sebuah keputusan penting. Yakni, menyelenggarakan Pemilu 1999. ”Kalau beliau (Habibie) mau bertahan, secara konstitusi beliau bisa jadi presiden sampai 2003,” terangnya. Namun, Habibie malah memutuskan mengadakan pemilu. Bahkan, dia menolak dicalonkan sebagai presiden setelah pertanggungjawabannya soal Timor Timur ditolak MPR.

Di sisi lain, Kepala BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Hammam Riza berbicara panjang lebar soal legasi Habibie. Salah satunya BPPT. Selain pendiri, Habibie merupakan kepala BPPT pertama. ”Cita-cita Pak Habibie itu ingin kita membangun industri Indonesia,” ujar dia saat dihubungi kemarin.

Banyak industri yang ingin dibangun Habibie. Namun, dia memprioritaskan industri strategis. Industri yang berbasis teknologi. Maka, dibangunlah Industri Pesawat Terbang Nurtanio (sekarang PT DI). Kemudian, ada PT Pindad, PT Inka, PT PAL, PT Dahana, dan beberapa industri lainnya.

Tidak hanya membangun industri. Legasi terpenting dari Habibie sesungguhnya adalah investasi di bidang SDM. Industri-industri yang dibangun Habibie selalu disertai upaya alih teknologi. Ribuan putra terbaik bangsa dikirim untuk belajar teknologi di berbagai negara.

Mereka digadang-gadang menjadi bagian pengembangan industri Indonesia. ”Bahkan, anak-anak lulusan SMA itu dicari yang terbaik dan dikirim belajar ke luar negeri,” lanjut Hammam yang juga menjadi bagian dari orang-orang yang dikirim untuk belajar itu.

Khusus untuk dirgantara, Habibie menginginkan sebuah lompatan. Maka, dia bekerja sama dengan Casa. Habibie menuntut para putra Indonesia untuk mengoprek teknologi yang dibawa Casa. Dengan begitu, dihasilkan pesawat CN-212 dan 235. Dan pada akhirnya, lahirlah pesawat N-250 Gatotkoco. ”N-250 itu nggak ada C-nya lagi kan, berarti full dari kita,” tuturnya.

Sayang, dalam proses menuju komersial itu, resesi ekonomi terjadi dan Indonesia terkena imbasnya. Jadilah istilah yang disebut ”berawal di akhir, berakhir di awal”. Habibie sangat kecewa, tapi itu tidak membuatnya menyerah. Kini harapan tertuju pada pesawat R-80 yang sedang dilanjutkan Ilham Habibie.

Putri Gus Dur, Yenny Wahid, yang hadir dalam pemakaman mengatakan, dirinya terakhir bertemu dengan Habibie pada Juli lalu. ”Beliau pesan, terus berjuang untuk demokrasi, toleransi, dan menjaga Indonesia,” ungkapnya.

Dia pun meneladani Habibie seperti meneladani Gus Dur. ”Menurut saya, yang perlu saya teruskan adalah semangatnya menimba ilmu dan mendukung anak muda untuk maju,” katanya.

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie senada dengan Yenny. ”Selain itu, soal masa depan demokrasi kita. Jadi, beliau merasa sudah meletakkan dasar sistem demokrasi. Dia berhasil buka pintu demokrasi kebebasan pers.”

Editor : Ilham Safutra

Reporter : far/byu/lyn/c10/ttg

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads